Mission Accomplished

The closer we get in touch with the mission’s source, the more we are missionaries, even if we are bedridden or sit still in a wheelchair. Gambarannya ada, misalnya, dalam film-film perang ketika pengintai diinterogasi musuh dengan aneka siksaan dan tetap teguh dalam misinya. Betul, mungkin dia gagal menuntaskan misinya, tertangkap, bahkan gugur, tetapi kalau mati pun, ia mati sebagai pengemban misi, alih-alih pengkhianat. Komitmennya menjadi pembeda.

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta seorang misionaris yang bisa bikin galfok: Fransiskus Xaverius. Kenapa? Karena aktivitasnya memang luar biasa, terus bergerak dari negara asalnya, Spanyol, sampai ke ujung bumi, termasuk pulau-pulau di Maluku dan Flores. Konon, dia membaptis begitu banyak orang, yang seakan-akan klop dengan teks bacaan hari ini yang berisi mandat untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil.
Loh, kok malah ditambahi keterangan “seakan-akan”? Memang Fransiskus Xaverius pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil, dan cocok dengan teks Injilnya, kan?

Iya, tetapi sekali lagi mohon ingat kata-kata Antoine de Saint-Exupéry: what is essential is invisible to the eye! Anda mengerti bahwa Fransiskus Xaverius adalah anak zamannya, yang waktu itu sangat getol dengan semboyan Gold, Glory, and God (atau Gospel). Agama, kuasa, dan pasar berkelindan; tak mengherankan Fransiskus Xaverius dan banyak orang lain lagi bisa berdakwah ke mana-mana. Seluruh aktivitas Fransiskus Xaverius untuk mempelajari bahasa lokal, menolong orang sakit, membela warga lokal yang ditindas penjajah, adalah hal yang terlihat mata. Itu penting, tetapi bukan yang esensial. 

Yang esensial ialah sumber aktivitas itu: cintanya yang besar kepada Allah dan sesama. Dengan demikian, ketuntasan misi atau dakwah yang diemban Fransiskus Xaverius bukanlah pertama-tama soal banyaknya aktivitas seturut target Gold, Glory, and God tadi, melainkan perkara terbangunnya jiwa yang terpaut pada cinta Allah dan sesama. Karena itu, misi atau dakwah perlu dikembalikan pada jiwanya: apakah jiwa ini mencintai God atau gold, mengejar God’s glory atau self-glory. Kalau ujung akhirnya yang kedua, jelaslah aktivisme dianggap lebih penting daripada jiwa orangnya sendiri, baik pengemban misi maupun mereka yang jadi subjek misi. Kalau ujung akhirnya yang pertama, jiwa yang terpaut pada Allah ini mencari aneka outlet yang sesuai, baik saat suka maupun duka, untung dan malang, masih bisa aktif jogging atau berbaring. Mission accomplished.

Tuhan, mohon rahmat untuk mengemban misi cinta-Mu dalam keterbatasan hidup kami. Amin. 


PESTA S. FRANSISKUS XAVERIUS (SJ)
(Kamis Adven I)
3 Desember 2020

1Kor 9,16-19.22-23
Mrk 16,15-20

Posting 2019: Bahasa (Staf) Baru
Posting 2018: Mbok Reuni Lagi

Posting 2017: Sedikit Logika
Posting 2015: Lagak Dapet Watak Cupet
Posting 2014: Tanpa Passion Jadi Pasien Doang

1 reply

  1. Agama maupun wisdom mudah jatuh menjadi komoditas -produk yg dpt dibeli. Sejak Adam dn Hawa konon jatuh dlm dosa, mns tergila2 -bahkan sampai gila-🤣 mengendalikan keinginan berdosa, lalu bersikap aneh2, merepresif yg tdk jelas, yg sbnrnya malah terinfeksi pandemic keduniawian. Dari tingkah laku dn perbuatan tercermin hati dn pikiran kita sendiri, shg butuh kejernihan memandang yg tdk jatuh pd pemujaan berlebihan (mau disebut local atau tdk, asli maupun bukan). Tuhan menyelidiki hati, n manusia mempertanggungjawabkannya sendiri2 dn bersama2. Mdh2n mns kian tercerahkan dn mulai bersama2 mewujudkn dunia hdp bersama yg nyaman, sejahtera dn damai, shg tdk ada yg merasa lebih berjasa, lebih suci, lebih baik, dari yg lain. Nmn sama2 berupaya menghidupi dunia ini dlm kepenuhannya, sampai akhirnya. Itu yg sy sebut mission accomplished, Rm. Haha😂😊

    Like