Challenge 4 Guru Honorer

Humility is the passion of praising God, completely forgetting ourselves, so that no search for self-love may come to deduct the homage due to “He who is”. The gift received from above must return as incense to the One from whom it emanates: humility does not want to hold back anything. Kalau dialihbahasakan kira-kira begini bunyinya: Kerendahhatian adalah hasrat untuk memuji Allah, sepenuhnya melupakan diri sendiri, sehingga pencarian cinta-diri tak dapat mengurangi penghormatan karena “Dia yang ada” itu. Anugerah yang diterima dari atas harus kembali sebagai dupa kepada Dia, asal anugerah itu: kerendahhatian tidak ingin mencengkeram anugerah apa pun.

Pencengkeraman anugerah itu bukan semata perkara pelit berdonasi, melainkan juga soal kikir kolaborasi. Kikir kolaborasi bisa terjadi sudah sejak dalam pikiran: tak pernah mau berpikir secara interdisiplin, multiperspektif, mengenai misteri hidup kemanusiaan. Teks bacaan hari ini menyajikan ungkapan syukur Guru dari Nazareth karena rupanya misteri Kerajaan Allah memang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang sadar diri akan kerapuhan dan membutuhkan perspektif hidup lain. Itulah spiritualitas orang kecil, berlawanan dengan mereka yang berpuas diri dengan spesialisasi yang dimilikinya.

Begitulah juga menghidupi masa Adven: hidup di hadirat misteri, yang tak terpahami oleh keangkuhan kepandaian manusia. Siapa mau begitu saja menerima bahwa Allah yang totally other itu memakai selimut manusia lemah dalam kedagingannya dan memberi tanda kerapuhan: bayi yang membutuhkan segala-galanya? Katanya, Allah tidak butuh apa-apa! Siapa pula mau percaya begitu saja bahwa Allah yang mahabesar itu mereduksi Diri dalam kata-kata Kitab Suci yang terbatas oleh bahasa manusia? Katanya, Allah tak terbatas!

Begitulah Adven. Orang diundang untuk menantang asumsi yang diidolakannya. Siapa elu sehingga bisa mengklaim diri tahu segala mengenai misteri kehidupan? Boro-boro misteri kehidupan, wong tentang nasib guru honorer aja elu kagak tau!😂
Jadi maksudnya apa nih, Rom? Mau minta duit ya?😂
Iya, pagi hari ini saya mulai mencatat aktivitas jogging saya, gantian dengan bersepeda, selama sebulan ke depan untuk donasi bagi para guru honorer di seluruh Indonesia, yang di banyak tempat hidupnya sangat mengagumkan, mengharukan, mungkin memilukan juga. Saya masuk dalam tim yang kebanyakan mahasiswa, yang untuk kuliah saja duitnya minta orang tua. Mosok duit untuk kuliah disumbangkan ke guru honorer, kan gak lucu.

Anda tidak berdonasi pun, saya tetap jogging atau bersepeda. Jadi, sebetulnya ya gada hubungannya.😂 Kalau mau berdonasi silakan, kalau tidak juga keterlaluan.🤭

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati untuk memperluas budi kami dalam menghidupi misteri cinta-Mu. Amin.


SELASA ADVEN I
Pw B. Dionisius dan Redemptus
1 Desember 2020

Yes 11,1-10
Luk 10,21-24

Posting 2018: Sampai Kapan
Posting 2017: Come out of the tunnel

Posting 2016: Cinta Monyet 212

Posting 2015: Terserah Gue Donk

Posting 2014: Tuhan Tandingan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s