Rasul Nomor Berapa

Saya mulai dengan rasa kepo saya terhadap teks bacaan yang disodorkan hari ini. Soalnya, ada empat ayat yang didrop, yaitu nama-nama para rasul yang dipilih Guru dari Nazareth. Di satu sisi, panggilan dengan nama menunjukkan sifat personal. Di lain sisi, sifat personal itu rupanya tak perlu dilekatkan pada individu-individu tertentu. Artinya, betul bahwa yang dipilih sebagai rasul oleh Guru dari Nazareth adalah Petrus, Andreas dan seterusnya. Meskipun demikian, tugas kerasulan itu rupanya tidak eksklusif milik mereka.

Dengan begitu, saya kira bukan demi mempersingkat bacaan sehingga empat ayat itu tak disertakan. Perkara teknisnya bisa saja dikatakan empat ayat itu sudah dibahas pada hari lain. Misalnya dalam posting Mulai dari Fitrah, itu bacaannya dari teks ini juga tanpa ngedrop empat ayat nama-nama rasul itu. Hanya saja, kok tidak berasa insightnya ya kalau perkaranya cuma teknis begitu?🤭 Pengedropan nama-nama para rasul itu berarti melepaskan “dua belas rasul” dari konteks partikularnya, yaitu konteks zaman hidup Guru dari Nazareth. Alhasil, “dua belas rasul” itu adalah pembaca atau pendengar teks itu.

Lah, gimana ya, Rom; di situ kan dibilang bahwa kepada dua belas rasul itu diberi kuasa untuk mengusir roh jahat, melenyapkan penyakit dan kelemahan. Saya mah apa atuh!
Lha iya justru itulah insightnya: Anda adalah bagian dari “dua belas rasul” itu karena tugas kerasulan tadi sudah dilepaskan dari konteks partikularnya; sudah bukan lagi milik eksklusif mereka yang disebut dengan Petrus, Andreas, dan seterusnya itu. Mengusir roh jahat, melenyapkan penyakit dan kelemahan, dan seterusnya, adalah juga tugas Anda juga. Panggilan tugas kerasulan ini tentu memerlukan konteks partikular yang berbeda dari zaman Guru dari Nazareth dulu.

Kalau Anda keberatan dengan status “dua belas rasul” itu karena sudah dipatenkan oleh kekristenan, ya anggap saja Anda rasul ketiga belas. Kalau rasul ketiga belas itu pun sudah diambil orang lain, ya cincailah, pilih nomor yang Anda suka. Pokoknya, Anda punya komitmen untuk mengusir roh jahat, melenyapkan penyakit, kelemahan, dan seterusnya itu. Anda pun tidak harus menjadi tenaga kesehatan atau dokter supaya dapat melenyapkan penyakit. Dalam konteks hidup sekarang, barangkali menjaga antibodi pun sudah terbilang sebagai melenyapkan penyakit dan kelemahan!

Kalau ternyata sakit, gimana, Rom? Lha ya masih bisa toh mengusir roh jahat yang memanifestasikan dirinya dalam ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, keraguan yang lebay yang bikin batin kacau? Tuhan tak menginginkan ini itu dari Anda, Dia menginginkan Anda. Tak perlu repot.

Tuhan, mohon rahmat keteguhan hati untuk mengemban tugas panggilan-Mu. Amin.


SABTU ADVEN I
5 Desember 2020

Yes 30,19-21.23-26
Mat 9,35-10,1.6-8

Posting 2019: Pecut Sana Pecut Sini
Posting 2017: Move On Lagi

Posting 2015: Gunanya Jatuh Cinta

Posting 2014: Pintar Tanpa Cinta?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s