Adakah hal baru yang bisa kita tambahkan dalam daftar tragedi kehidupan? Perang, eksploitasi, korupsi, mutilasi, korupsi, manipulasi, pengkhianatan, dan sebagainya, sejak zaman jebot sudah ada. Naif, kan, jika aneka macam tragedi ditafsirkan sebagai tanda kiamat? Ya memang sih, orang naif pun bukan barang baru, sejak zaman jebot sudah ada.
Kepada murid-murid naifnya itu pula Yesus bicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan akhir zaman. Beliau memperhatikan dua tendensi yang bisa membahayakan: klaim diri sebagai penyelamat alias mesias dan keyakinan akan akhir zaman sebagai fakta yang sudah dekat. Pertama-tama, kita harus memperhatikan mereka yang bikin klaim mesianis. Sejarah menyodorkan tidak sedikit orang yang mengklaim diri sebagai ratu adil yang punya karunia, wahyu, penglihatan khusus, dan akhirnya keblinger: hidupnya hanya berfokus pada diri mereka sendiri sebagai mesias. Lupa bahwa ada referensi lain, revelasi yang sifatnya lebih kolektif, berterima, dan tahan uji (bisa dilihat contohnya dalam Kis 5,36-37). Parahnya, orang-orang semacam ini menikmati pujian, sanjungan, atau bahkan sujud sembah dari orang lainnya. Pada tahap ini, cinta buta meraja, keadilan nelangsa.
Kedua, bisa jadi klaim diri tadi dilengkapi dengan countdown ala iklan di dumay: Anda menang undian, waktu Anda untuk memperolehnya tinggal sekian jam, sekian menit, sekian detik lagi; seolah-olah sesudah batas waktu itu dunia kiamat! Anda dibuat merasa kehilangan sesuatu yang sebetulnya Anda gak punya. Padahal, sebagaimana nemo dat quod non habet, begitu juga nemo amittit quod non habet. Jika Anda tak bisa memberikan sesuatu yang Anda tidak punya, Anda pun tak bisa kehilangan sesuatu yang tidak Anda miliki. Anehnya, hidup ini bisa mempermainkan perasaan Anda seakan-akan Anda memberikan atau kehilangan sesuatu yang sama sekali bukan milik Anda. Lha wong hidup ini ya punya siapa sih? Pernahkah Anda klaim oksigen mana yang boleh orang lain hirup?
Sebetulnya, acuan pada hari kiamat itu bisa saja membantu sejauh orang tidak baperan (bdk. misalnya Ef 4,14): Yes, satu hari lagi kiamat, so what! Yang penting bukan ada apa setelah kiamat, melainkan apa yang bisa dibuat sebelum kiamat supaya hidup ini lebih baik lagi. Referensi pertama (afterlife) akan bikin orang semakin ideologis, entah sifatnya religius atau tidak. Orang bisa bunuh diri massal, menjalani hidup fatalistik tanpa harapan asal kebutuhan biologisnya tercukupi, tak peduli bagaimana pun caranya. Referensi kedua (here and now) membuka peluang untuk menghubungkan nilai, yang mungkin terinspirasi juga oleh keyakinan afterlife, dengan hidup konkret di sini dan kini. Di sini orang tidak memutlakkan sarana apa pun, tetapi tetap mencari sarana-sarana terbaik demi tatanan yang mengakhiri zaman kerajaan binatang buas.
Too good to be true gak sih bahwa ada orang bisa hidup dengan membantu sesama dengan cara berjualan mi ayam seporsi dua ribu rupiah dan bakso tiga ribu rupiah? Jebulnya ya ada tuh!
Ya tapi itu mah di desa, Rom!
Tentu saja, tetapi kan poinnya bukan angka dua ribunya. Yang penting referensi yang kita pakai tidak menjerumuskan kita pada keyakinan ideologis yang membuat kita baperan dan doing nothing. Jika tidak, kita sungguh kehilangan atau hilang.
Ya Allah, mohon rahmat kekuatan untuk bertekun membangun hidup yang sesuai dengan kerajaan-Mu. Amin.
SELASA BIASA XXXIV B/2
26 November 2024
Posting 2020: Pengendapan
Posting 2019: Absolut Ancur
Posting 2018: Perlu Belajar dari Monyet?
Posting 2017: Pamer? Kamu Iri Keleus
Posting 2016: Penggusur Bait Allah
Posting 2015: Tanda Kiamat
Posting 2014: Iman Doraemon
