Salah satu pertanda kenaifan ialah pencarian tanda-tanda akhir zaman bin kiamat ketika orang berhadapan dengan bahaya, tekanan, kesulitan besar. Itu mengapa tak sedikit orang baru ‘ingat’ akan Tuhan ketika mereka berhadapan dengan situasi tersulit. Bisa jadi, karakter lagu-lagu rohani yang jos lahir dari situasi penindasan dan penderitaan sebagaimana dicontohkan penggubah Mazmur. Di hadapan mara bahaya mereka bersenandung, berteriak kepada Allah.
Jadi, penulis Mazmur itu orang-orang naif ya, Rom?
Ya mungkin saja, seperti saya dan Anda mungkin terbilang orang-orang naif.
Poin saya bukan pada kenaifan, melainkan pada bagaimana seruan kepada Allah itu pantas dilambungkan untuk menggugah harapan. Harapan untuk apa? Supaya Allah intervensi?
Ya, supaya Dia intervensi lewat Anda dan saya.
Alhasil, Anda dapati bahwa pencarian tanda-tanda kiamat itu hanyalah kenaifan dalam bentuk primitifnya, kenaifan yang menuntun orang pada kultur kematian, fatalisme, tanpa harapan, dan perangkap kompleks rendah diri.
Bagi mereka yang memiliki sarana untuk meringankan penderitaan dan penindasan, keasyikan sia-sia pada kiamat adalah penyimpangan dari Warta Gembira. Kemarin-kemarin sudah saya singgung bagaimana Yesus meminta murid-muridnya awas terhadap dua tendensi: klaim mesianik dengan propaganda kiamat sudah dekat. Hari ini, mungkin baik Anda dan saya camkan bahwa Guru dari Nazareth ini tidak endorse supaya Anda dan saya berpretensi menjadi nabi, dalam arti apa pun, tetapi justru mengundang kita untuk menengarai situasi yang menyesatkan, termasuk yang diberi label religius. Saya tidak akan pernah lupa bahwa anak muda yang gemar menempelkan stiker antinarkoba bisa jadi justru mereka yang hendak bersembunyi di balik stiker itu. Begitulah mangsa kenaifan.
Kabar Gembira tidak menawarkan cara untuk meramalkan akhir dunia, tetapi kekuatan rohani untuk mengatasi kesulitan dan penderitaan. Dengannya, ketakutan tak mendapat tempat penting. Di sisi lain, mengikuti Kabar Gembira rupanya membuat orang beriman berhadapan dengan para penguasa, pembela status quo. Di sinilah relevansi teks bacaan hari ini: pastilah muncul upaya penggembosan mereka yang hendak menciptakan komunitas penentang ketidakadilan, pekerja perdamaian, dan pemberi tempat mereka yang terpinggirkan.
Dengan demikian, teks hari ini mengundang Anda dan saya untuk memeriksa dua visi mengenai makna menjadi murid. Tinggal kita pilih: fokus pada ramalan masa depan yang tidak ngefek bagi masa kini atau komitmen hidup yang menentang tendensi status quo penguasa. Yang terakhir jelas berisiko seperti zaman Orba: ditangkap, dianiaya, dan (mungkin) diadili. Untuk yang terakhir ini, jika orang beriman mengalaminya, ia menjalaninya tanpa kekhawatiran karena biar bagaimanapun, Allah tetaplah setia. Persoalannya terletak pada kesetiaan orang beriman sendiri pada kebenaran Kabar Gembira itu, yang diteguhkan bukan dalam spekulasi kosong tetapi dalam kesengsaraan.
Oleh karena itu, jika ingin mengalami agama yang lebih hidup, sebaiknya Anda dan saya tidak ribet dengan tanda-tanda masa depan tetapi mencari sinyal untuk mengakhiri zaman jahiliyah dengan ketaatan di sini dan sekarang ini kepada Kabar Gembira tadi. Lawanlah status quo dalam diri sendiri maupun sistem yang melanggengkan penderitaan mereka yang tak berdaya!
Ya Allah, untuk kesekian kalinya, mohon kejernihan hati dan budi untuk melihat tanda-tanda kehidupan juga dari aneka kesulitan dan penderitaan. Amin.
RABU BIASA XXXIV B/2
27 November 2024
Posting 2020: Saktinya Melahirkan
Posting 2019: Grafitiku Grafitimu
Posting 2018: Agama Penjajah
Posting 2017: Hakim Sendiri
Posting 2016: Sabaran Kuda
Posting 2015: Mbok Sabar Melulu
Posting 2014: Sabar, Brow!
