Ritualisme

Published by

on

Sebagian orang yang mengkritik ritualisme melakukannya karena tidak melihat pentingnya ritual. Sebaliknya, di bilik kamar pengakuan saya mendapati sekian orang mendaftarkan kealpaannya untuk doa sebelum dan sesudah makan atau sebelum tidur dan bangun tidur (dan semacamnya gitu deh) sebagai dosa. Dua kelompok ini sama-sama keblingernya karena mirip-mirip dengan anjing terbelakang yang tak bisa melihat kelinci, seperti saya narasikan dalam posting Kelinci, Kucing, dan Anjing. atau Anjing Gak Liat Kelinci.

Ritual itu penting sejauh tak terjerembab sebagai ritualisme. Salah satu indikator apakah orang terjerembab dalam ritualisme ialah pertanyaan dasarnya selalu berkutat pada “Boleh atau tidak boleh” atau “Sah atau tidak sah”. Apakah pertanyaan seperti itu tidak penting? Penting, tetapi tidak lebih penting daripada tujuan yang tersirat dalam praktik ritual. Jika pertanyaan itu lebih utama dari tujuan ritual, tinggal tunggu waktu saja, orang beragama, apa pun, akan main kuasa, dominasi, lebih daripada donasi, seperti saya bilang kemarin.

Teks bacaan utama hari ini menampilkan sosok perempuan yang tak diragukan lagi keakrabannya dengan ritual bangsa Yahudi. Ia tak pernah meninggalkan Bait Allah, siang dan malam berpuasa dan berdoa. Kurang ritual apalagi nabi perempuan ini?
Apakah ia jatuh pada ritualisme?
Kiranya tidak. Begitu ia melihat bayi Yesus, ia mengucap syukur dan bicara ini itu tentang anak bayi itu kepada semua saja yang merindukan kemerdekaan lahir batin. Kata-kata bisa begitu powerful dalam ritual karena dengan itulah dibangun komitmen, cinta diserukan, dan harapan merajut relasi.

Dengan demikian, orang yang cinta ritual, bisa jadi sedang membangun komitmen, menyerukan cinta, dan membangun relasi autentik dengan pihak yang disasarnya dengan ritual itu. Di situ, ritual bukanlah daftar restriksi mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, melainkan rangkaian sarana efektif bagi umat untuk mengucap syukur atas kehadiran Allah juga dalam hal-hal yang serba remeh dan begitu biasa.

Celakanya, pecinta buta ritual yang jatuh ke ritualisme segera mereduksi aktivitas ritual sebagai keseragaman alih-alih komitmen bersama, hirarki alih-alih persekutuan egaliter, dan perasaan romantis alih-alih perayaan cinta Tuhan dalam hidupnya. Itu mengapa orang modern tak memandang ritual sebagai elemen penting dalam hidupnya: lha wong yang menjalankan ritual ya hidupnya tak beda dari mereka yang menjalankan ritual politik dengan dominasi, kuasa, manipulasi, kolusi, dan sebangsanya! Ngerinya, ritualisme itu tidak hanya menelan umat beragama, tetapi juga pemuka-pemukanya, yang tidak setanak Hana dalam menjalani hidup.

Tuhan, mohon rahmat supaya hidup kami mewujudkan syukur kepada-Mu dan kebijaksanaan cinta-Mu. Amin.


HARI KEENAM OKTAF NATAL
30 Desember 2024, Senin

1Yoh 2,12-17
Luk 2,36-40

Posting 2020: Harapan Janda
Posting 2019: Harapan Terakhir
 
Posting 2017: Mbok Jadi Manusia
Posting 2015: Namanya Amaryllis bellavedova

Posting 2014: Kesalehan yang Gak Narsis

Previous Post
Next Post