Sebagai pembaca cerita pemula, Anda dan saya akan cenderung membuat kategori evaluatif baik-buruk atau benar-salah atau bagus-jelek terhadap karakter-karakter yang disodorkan cerita itu. Memang itu bisa berguna untuk mengidentifikasi diri lebih condong ke karakter yang mana, tetapi kategori seperti itu tidak banyak membantu kita untuk memahami dunia cerita yang disodorkan. Misalnya, teks bacaan utama hari ini berisi cerita sederhana tentang orang kaya dan orang miskin, yang disebut Lazarus, tetapi dunia ceritanya sendiri tidak mengajak kita untuk berpihak pada orang kaya atau orang miskin.
Itu mengapa warga Kokononohaha gagal paham jika berhadapan dengan konflik, kritik, pertentangan, protes. Persoalan yang ditangkap hanya perkara hitam-putih, mulyo-megaria, atau tentara-sipil. Semoga jika hari ini ada protes besar terhadap UU TNI, protes itu tidak ditangkap sebagai gerakan anti TNI. Ya memang ngeri sih akibat kepercayaan diri minim: kritik dianggap ancaman [ya mungkin memang betul ancaman juga] semata, protes orang lain dianggap melawan dirinya. Lagi saya sampaikan, semakin rendah kepercayaan diri, semakin rendah pula kepercayaan kepada orang lain: semua harus dikontrol sampai level terkecil.
Kembali ke teks hari ini, sasaran cerita itu sebetulnya adalah para penggila uang, yaitu mereka yang tidak bisa lagi memercayai Allah dan hanya bisa menyandarkan perhitungannya pada seberapa banyak kepemilikan materi bisa diklaimnya. Di awal cerita, pembaca bisa saja mengidentifikasi diri dengan lebih memihak orang kaya atau Lazarus, tetapi di akhir cerita, kita tidak bisa menemukan alasan untuk berpihak pada orang kaya atau Lazarus. Lha iya, ngapain mengidolakan orang kaya yang bahkan sampai alam maut pun masih saja memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri? Ngapain juga mesti mengidolakan Lazarus yang sedemikian melarat dan gak ngapa-ngapain selain kelaparan ujug-ujug masuk surga?
Jika disimak baik-baik cerita Lazarus ini, kelihatan bahwa poin penting charity tidak terletak pada bansosnya, melainkan pada sikap dasar orang terhadap sesamanya. Nota bene, mana tahu orang kaya itu bahwa Lazarus nan kere dan kudisan itu diterima Bapa Abraham? Ironisnya, Bapa Abraham sebetulnya mengakui orang kaya yang menyapanya sebagai Bapa Abraham, tetapi rupanya pengakuan kekerabatan itu tidak identik dengan persetujuan terhadap permintaan orang kaya. Kenapa? Karena orang kaya ini tak juga tobat; tak paham apa yang sudah disampaikan Bapa Abraham lewat para nabi yang berseru-seru soal keadilan sosial sampai lidah hampir kelu (bdk. Yes 58,6-7). Ia tak mengenali Lazarus sebagai sosok yang mengundangnya untuk bertobat juga. Lazarus tetaplah aseng, undangan Allah pun aseng; yang tidak aseng hanya status quo, yang landasannya bukan lagi kepercayaan kepada Allah, melainkan kuasa dan uanglah pendukungnya.
Tuhan, semoga kami semakin peka menangkap panggilan-Mu juga dalam diri mereka yang kami labeli aseng. Amin.
HARI KAMIS PRAPASKA II
20 Maret 2025
Posting 2021: Barrier Wall
Posting 2020: Korban Hoaks
Posting 2019: Halal Gratis Pula
Posting 2018: Wis Kewowogen
Posting 2017: Awas Jurang!
Posting 2016: Buka Pintu Beta Mau Masuke
Posting 2015: When Good Men Do Nothing
Posting 2014: Kemiskinan: Mengandalkan Allah
