Suara Tak Peduli

Published by

on

Rahmat itu paradoks; lagi-lagi, bisa seperti bayangan. Semakin didekati semakin menjauh, semakin dijauhi semakin mendekat. Tentu, itu hanya alegori untuk menunjukkan bahwa rahmat itu bekerja dengan sifat belas kasih dan pengampunan: hanya mereka yang berbelas kasihlah yang bisa menerima belas kasih, dan hanya mereka yang mengampunilah yang akan diampuni. Substansi pernyataan ini tidak bisa dimengerti dengan perspektif transaksi. Artinya, itu akan disalahpahami jika digambarkan dengan ungkapan kondisional “Kalo lu gak maapin gua, ya lu gak gua maapinlah.”

Dengan pola pikir transaksi begitu, yang kita peroleh hanyalah hukum rimba. Siapa kuat, dia menang. Siapa menjabat, dia sewenang-wenang. Siapa menguasai rapat, dia memaksa orang sepakat; dan tahukah Anda, yang begini ini terjadi pada rapat wakil rakyat yang harus dijaga aparat seakan-akan rapat itu demi kepentingan rakyat? Itu sesuai dengan pola pikir transaksional tadi, tetapi tidak menjelaskan paradoks rahmat.

Teks bacaan utama hari ini menyodorkan paradoks rahmat, berisi perumpamaan yang mengontraskan orang Farisi dan pemungut cukai. Terlalu naiflah membacanya sebagai nasihat untuk menjadi rendah hati atau tidak semata mengandalkan kekuatan diri sendiri karena ada sisi lain yang disodorkan perumpamaan itu. Sisi lain ini menghubungkan sikap orang Farisi di hadapan Allah dan cibirannya kepada pemungut cukai. Gimana hubungannya?
Cibirannya kepada pemungut cukai membuat orang Farisi tak bisa mengandalkan rahmat Allah. Lha gimana mau mengandalkan rahmat jika orang sudah menetapkan kebenarannya sendiri: bahwa orang-orang lain salah, apalagi yang melakukan pekerjaan haram!

Menganggap diri benar dan orang-orang lain salah merusak relasi dengan dua pihak: Allah, yang adalah Sang Kebenaran, dan sesama, yang, sesuai dengan kata dasarnya, sama dengan diri kita nan lemah dan butuh rahmat.
Lha, bukankah kita semua hidup ini mencari kebenaran? Wajar dong kalau mengklaim kebenaran?
Ya, tapi kebenaran pun paradoksal dan cara mengklaimnya pun bisa jadi bumerang jika mengandalkan kekuatan aparat alih-alih nurani! Yang ada hanya pemaksaan agenda penguasa dan, sayangnya, tidak semua agenda klop dengan kedaulatan rakyat.

Gak klop gimana, mayoritas gitu loh pemilihnya!
Betul, Yesus dari Nazareth juga dulu dihancurkan oleh suara mayoritas. Nabi Muhammad juga dulu jadi bulan-bulanan mayoritas suku Quraisy. Maksud saya, suara mayoritas itu tidak selalu substansinya berpihak pada kebenaran atau kedaulatan rakyat. Keberpihakan itu tak mungkin terwujud jika orang tak lagi peduli pada realitas konkret gelapnya hidup ini dan terus menyangkalnya dengan membombong diri ala orang Farisi tadi. Mereka punya ‘agama’ yang sudah cukup untuk bikin saleh, tetapi tak cukup untuk bikin rendah hati. Nah, mungkin suara ibu peduli Indonesia bisa jadi jalan, juga kalau mulai dari titik nol.

Tuhan, mohon rahmat ketekunan untuk peduli terhadap penderitaan sesama tanpa terjerembab pada relasi transaksional. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA III
29 Maret 2025

Hos 6,1-6
Luk 18,9-14

Posting 2021: Saleh
Posting 2020: Suara dari Pinggiran
Posting 2019: Debat Terakhir
Posting 2018: Orang Bukan Bukan
Posting 2016: Doa Pendosa, Dosa Pendoa

Posting 2015: Cermin Mana Cermin

Posting 2014: Saat Tuhan Tiada…

Previous Post
Next Post