Suara dari Pinggiran

Dalam Islam dikenal istilah riyā’, yang kurang lebih berarti show off ibadah dengan harapan mendapat pujian dari yang lainnya. Praktik keagamaan ini sangat ditentang dalam Islam (Surah Al-Ma’un 107:4-6). Ini mirip dengan mandat Guru dari Nazareth “Jika memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu”. Karena itu, orang perlu mengerti gejala-gejala riyā’. 

Menurut Ḥārith ibn Asad al-Muḥāsibī, ada sekurang-kurangnya dua gejala. Pertama, orang gembira ketika dipuji sehingga malah lebih senang pada pujiannya daripada imbalan rohaninya sendiri. Seseorang bisa saja semakin rajin berdoa atau mengembangkan musik untuk pelayanan, meskipun sebetulnya dia tak “memperoleh” apa-apa dari doa-doanya. Kedua, orang tidak senang dan menjadi sangat baper ketika praktik ibadahnya dikritik. Asem tenan, sudah serius dan ribet persiapannya je!

Salah satu cara untuk menghindari riyā’, menurut al-Muḥāsibī, adalah dengan introspeksi diri, evaluasi diri, dan bersikap hati-hati. Anda bisa membaca artikel Online Piety and Its Discontent berkenaan dengan riyā’ ini. Saya cuma hendak memparafrasekan teks bacaan pertama: Sebab Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korban bakaran.

Thanks to coronavirus, saya menemukan momen untuk membagikan pengalaman. Selama tinggal di Jerman, saya hidup bersama pasutri berusia 60-an tahun yang setiap hari bermain ping pong. Sebagai pensiunan, hidup mereka memang lebih banyak di rumah, tetapi yang menarik saya ialah bahwa seminggu sekali mereka bertandang ke rumah tetangga. Yang dilakukan dalam tandang itu sangat mengesankan saya. Mereka, sekitar tujuh orang, membaca kitab suci, hening sebentar, lalu membagikan ‘tafsir’ mereka bergantian, berdiskusi sebentar, lalu pulang. Tidak sampai satu jam. Tempatnya bergantian.

Meskipun saat itu tidak mengerti yang mereka diskusikan, saya percaya dengan cara itulah mereka, umat biasa, memperlihatkan upaya tulus untuk mengenal Allah. Itu bisa saja dilanjutkan dengan misa di gereja pada hari Minggu, tetapi penting bahwa dari dalam diri mereka sendiri sudah ada dorongan untuk sungguh mengenal Allah dalam kebersamaan dengan orang lain, juga meskipun agamanya berbeda.

Sudah sejak awal milenium ini seorang dosen di Vatikan sana menyerukan pendekatan dari pinggiran; dan apa yang dibuat warga di Jerman tadi adalah contoh pendekatan dari pinggiran. Apa mau dikata, suara dosen itu cuma terdengar sayup-sayup. Butuh virus korona untuk memberi shock bahwa pastorsentris, romasentris, uskupsentris, pemuka-agamasentris itu tak cocok untuk pengenalan akan Allah. Untuk administrasi agama memang perlu top down, tetapi untuk pengenalan akan Allah, pendekatan itu mesti dilockdown untuk petugas administratifnya saja.

Di kalangan Gereja Katolik sekarang populerlah misa streaming. Saya tidak anti, tetapi pada masa social distancing ini kiranya justru jauh lebih bermanfaat yang distreaming adalah upaya pengenalan akan Allahnya, bukan ritualnya. Alasan saya sederhana. Ritual tak tergantikan oleh teknologi. Saya tidak menentang komuni batin atau sentuh layar tivi dan sembuh seketika. Akan tetapi, itu semua bisa jadi malah mengarah kepada riyā’ tadi.

Yang saya bayangkan: sementara umat beragama di rumah, mengapa tidak pemuka agamanya mendatangi mereka via streaming (dan bisa berdialog juga), atau mengunjungi umatnya dengan menjaga kaidah social distancing untuk pendalaman iman? 

Virus korona semestinya menampar siapa saja yang hendak membangun pusat-pusat agama dengan bangunan fisik dan mendorong siapa saja untuk mengenal Allah dengan cara-cara baru, bukan dengan dasar kebiasaan tradisi yang rentan bencana. Di situ, sebagaimana ditunjukkan dalam bacaan kedua, arogansi religius tidak mendapatkan rida Allah, malah bisa jadi riyā’.

Tuhan, bantulah kami untuk semakin mengenal dan mencintai-Mu lebih dari yang lain. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA III
21 Maret 2020

Hos 6,1-6
Luk 18,9-14

Posting 2019: Debat Terakhir
Posting 2018: Orang Bukan Bukan
Posting 2016: Doa Pendosa, Dosa Pendoa

Posting 2015: Cermin Mana Cermin

Posting 2014: Saat Tuhan Tiada…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s