Minta Maaf Ya

Tiga hari lalu saya awali posting dengan imbauan untuk mengampuni pemimpin tanpa perlu melupakan kesalahannya. Pemimpin tak perlu diidentikkan melulu dengan politik, tetapi juga pemimpin agama. Ndelalahnya kemarin sindiran terhadap tahbisan uskup itu ramai sekali di medsos. Yang menohok ialah komentar yang mempertanyakan semboyan yang dulu ditegaskan oleh uskup pribumi pertama di Indonesia: 100% Katolik, 100% Indonesia. Jangan-jangan, 100% Indonesianya lenyap ditelan codot [saya lebih sadis lagi: mungkin malah tidak 100% Katolik juga😁].

Meskipun saya imam/pastor Katolik, saya tidak dalam posisi membela agama Katolik. Bahkan ini bisa merupakan permintaan maaf jika upacara tahbisan uskup kemarin memang dihadiri ribuan orang sehingga treatmentnya menjadi sangat luar biasa. Sejauh saya pahami, tahbisan uskup kemarin tidak murni perkara agama. Jika murni urusan agama, sebetulnya tidak harus melibatkan ribuan orang, dan karenanya tak bertentangan dengan imbauan presiden. Mungkin puluhan orang saja sudah cukup untuk validitas tahbisannya sendiri. Syukurannya bisa ditunda bersama Koes Plus.

Ini curcol. Secara pribadi saya tidak suka upacara penumpangan tangan para imam pada saat tahbisan imam. Kalau imam yang hadir 300-an, butuh waktu satu jam lebih untuk penumpangan tangan. Njuk umat ngapain selama itu? Berdoa rosario atau meditasi? Ya enggaklah, ngabsen romonya: oh itu kan romo yang dari anu, nah tuh romo favorit, ebuset itu romonya putih banget, itu yang jubahnya hitam siapa ya…
Konon pernah diusulkan supaya yang ikut menumpangkan tangan cukup perwakilan saja (dan itu yang saya alami di Roma), tetapi usulan itu ditolak. Rasanya lebih mak nyesssTaste kolektif ini tak berkaitan dengan pokok agama, melainkan kebiasaan kultur tertentu.

Kalau sudah berurusan dengan kultur, transformasi tak mungkin terjadi hanya dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Beda sekali dengan perkara alam yang dapat menunjukkan perubahan drastis (Anda bisa lihat apa yang terjadi di Venezia setelah lockdown beberapa waktu: air jadi lebih jernih dan muncul angsa putih). Kalau berkenaan dengan transformasi budaya, dibutuhkan modal lain.

Pada tahun 1996 kami sudah tinggal mengeksekusi liburan dalam hitungan hari, sebelum banjir hebat melanda Jakarta. Seluruh biaya pemesanan transportasi dan akomodasi tempat liburan di luar kota sudah dibayarkan. Sebetulnya kalau kami tetap berangkat berlibur pun tidak ada masalah besar karena tempat tinggal kami tak begitu menderita oleh banjir itu. Akan tetapi, meskipun dengan sedikit kecewa juga, karena liburan itu tak terjadi setiap tahun, kami memutuskan untuk membatalkan acara liburan karena ‘tragedi’ banjir Jakarta. Sebetulnya kami ya tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi banjir Jakarta, tetapi keputusan itu kami buat karena rasa solider dengan warga yang sedang kesusahan. Ini taste kolektif, yang juga tak terhubung dengan urusan agama, tetapi terhubung dengan kemanusiaan.

Teks bacaan hari ini sudah terlalu populer sehingga mungkin berhenti di tataran slogan hukum utama: mencintai Allah dan sesama. Keduanya ada dalam satu keping, tetapi bisa jadi orang beragama membuatnya berkeping-keping. Atas dasar rasa solider dengan mereka yang membuat hukum utama agama itu berkeping-keping, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Ya Allah, kasihanilah kami orang yang berdosa ini. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA III
20 Maret 2020

Hos 14,2-10
Mrk 12,28b-34

Posting 2019: Ramalan Cinta
Posting 2018: Pertama dan Terakhir

Posting 2017: Hidup Tanpa Makna

Posting 2016: Galau Lahir Batin
 
Posting 2015: Cuma Ada Satu Cinta
Posting 2014: Ujung2nya Duit atau…

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s