God in the Dark

Published by

on

Frase “mati dalam penyesalan” kembali akrab bagi telinga saya tetapi maknanya sekarang jadi lebih jelas buat saya karena populernya tagar #Indonesiagelap, yang tidak disukai dan mungkin tidak dipahami oleh Yang Mulia Pejabat status quo. Teks bacaan utama hari ini menyodorkan frase “mati dalam dosamu” yang sama saja dengan frase “berjalan dalam kegelapan” (Yoh 8,11b). Menurut ahli tafsir, penggunaan bentuk tunggal ‘dosa’ di sini menunjukkan bahwa dosa tidak diukur dengan tindakan individual, tetapi dengan kegagalan orang mengenali Allah dalam diri Yesus. Ini juga harus diberi catatan supaya orang tidak gagal paham: mengenali Allah dalam diri Yesus sama sekali tidak berarti Yesus=Allah, apalagi Yesus lebih besar dari Allah. 

Lah, tapi kenapa di ayat 24 ditegaskan “sebab jika kamu tidak percaya akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” Rom? Bukankah itu klaim bahwa Yesus ini adalah Dia, yaitu Allah?
Iya sih, klaim itu mengidentifikasi Yesus dengan nama ilahi untuk menegaskan bahwa dia dan Allah itu satu (bdk. Yoh 1,1 dan 10,30). Akan tetapi, prinsip tauhid dalam Islam membingkai pernyataan itu secara lebih menyegarkan: ini bukan wacana filosofis, melainkan keyakinan mendasar bahwa keseluruhan hidup Yesus itu segaris, sejalan, sematra, sehorison dengan kehendak Allah sendiri. Itulah maksudnya Yesus dan Allah adalah satu.

Ada gambaran dalam teks Yohanes yang menjelaskan hal itu juga seperti “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15,5) atau “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam aku” (Yoh 10,10). Keduanya bukanlah wacana filsafat (meskipun di kemudian hari jadi bahan wacana filsafat juga), melainkan refleksi iman penulisnya yang percaya dan melihat Allah dalam diri Yesus. Tak usahlah berpikir runyam: Anda dan saya bisa percaya bahwa Allah juga bekerja dalam diri tetangga yang arogan, bukan karena tetangga arogan itu adalah Allah, melainkan karena perjumpaan kita dengannya selalu memuat panggilan Allah yang menuntut kita memberi tanggapan. Bagaimana kita menanggapi itulah ranah perjumpaan dengan Allah dapat terjadi. Kegagalan memahami hal ini membuat penyokong status quo begitu bencinya pada Yesus dan secara murah menghakiminya sebagai penista agama karena menyamakan dirinya dengan Allah.

Anda dan saya sepakat bahwa membantu anak-anak terlantar itu sangatlah mulia, tetapi Anda dan saya bisa berdebat soal dari mana datangnya bantuan, bagaimana bantuan diberikan, dan seterusnya. Saya tidak ingin mati dalam penyesalan atau berjalan dalam kegelapan dan syukurlah di monitor saya lewat pekerjaan mahasiswa yang mengingatkan Anda dan saya bahwa solidaritas bukanlah semata soal memberi sumbangan, melainkan soal membangun komunitas terang, yang tidak mungkin dibangun dengan cara-cara gelap, baik legal maupun ilegal. Kalau masih tak paham di mana gelapnya, ya memang dunia kita berbeda sih.

Semoga Anda dan saya mendapat rahmat secukupnya untuk menemukan Tuhan juga meskipun di lingkungan gelap. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA V
8 April 2025

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

Posting 2020: Live in Peace
Posting 2019: Jagoan Siap Kalah

Posting 2018: Proxy War

Posting 2017: Situ Waras?

Posting 2016: Nonton Salib
Posting 2015: Smart Life, Dumb People

Posting 2014: Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur

Previous Post
Next Post