Ngikut

Published by

on

Beragama dalam kesepahaman dengan status quo kiranya lebih nyaman daripada mengusiknya: aneka fasilitas tersedia asalkan mendukung status quo, tak ada risiko keamanan atau pengorbanan. Pada kenyataannya, yang dikorbankan bisa jadi adalah makna beragamanya sendiri karena yang menentukan agama bukan lagi dinamika relasi dengan Tuhan, melainkan relasi kekuasaan antarmanusia. Contohnya, negara bisa saja secara top down membangun tempat ibadah megah di tempat yang orang kebanyakan tidak membutuhkannya. Yang penting bangunannya dulu, komunitasnya urusan belakang, entah mereka mampu merawat bangunannya secara mandiri atau terus bergantung pada uluran tangan orang lain atau status quo.

Tentu saja, pernyataan umum itu tidak perlu ditangkap mutlak benar. Ada juga yang mengorbankan makna beragama sekaligus mengusik status quo. Contohnya, kaum fundamentalis yang menempatkan agamanya di atas komunitas manusia pada umumnya. Orang-orang dalam kelompok ini bisa sangat kritis terhadap status quo, bukan karena memperjuangkan kemanusiaan di hadapan Allah, melainkan karena dibutakan oleh superioritas agamanya.

Teks bacaan utama hari ini menegaskan poin yang disampaikan kemarin: penderitaan Yesus sampai mentok itu membawa keselamatan karena merujuk cinta Allah kepada dunia. Nota bene, dunia (Yunani: κόσμος alias kosmos) dalam teks Yohanes seringkali berarti mereka yang pada saat teks ini ditulis berselisih dengan Yesus dan Allah (bdk. misalnya Yoh 1,10; 7,7; dan 15,18-19). Bayangkan, Allah mencintai mereka dan begitu cintanya sehingga Ia memberikan putra-Nya kepada mereka! Akan tetapi, tentu saja, meskipun Allah memberikan putra-Nya kepada semua orang itu, hanya yang percayalah yang menerima pemberian Allah.

Menerima atau menolak pemberian Allah itu punya konsekuensi: hidup kekal atau kebinasaan. Jika dikaitkan dengan status quo tadi, hidup kekal justru bisa ditengarai dalam tegangan, gejolak, perlawanan, kritik, tantangan terhadap kekuasaan di luar Allah. Alhasil, hidup kekal bukanlah ruang temporal masa depan atau masa lalu, melainkan masa depan yang sudah direaliasikan dalam masa kini pada momen orang menerima pemberian Allah itu. Saya mengikuti moto senior saya dalam bahasa Jawa: pejah gesang ndherek Gusti alias hidup mati mengikuti Tuhan. Hidup kekal seperti ini tidak dialami Nikodemus yang datang malam-malam kepada terang tapi tak juga paham, tetapi dijalani oleh siapa saja yang mempertaruhkan kenyamanannya untuk menegakkan Kerajaan Allah bin keadilan sosial. Itulah maksudnya dilahirkan anōthen bagaikan pneuma yang tidak pernah stagnan dalam kenyamanan.

Tuhan, biarkanlah pilihan-pilihan kami sungguh mewujudkan hidup kekal-Mu. Amin.


HARI RABU PASKA II
30 April 2025

Kis 5,17-26
Yoh 3,16-21

Posting 2020: Doa Melawan Korona
Posting 2019: Humanity Needs You
Posting 2018: Siapa Butuh Dua Periode?
Posting 2017: Play Duit atau Play Do’i

Posting 2016: Komitmen Berhadiah

Posting 2015: Neraka Bukanlah Hukuman

Posting 2014: Habisi Gelap Terbitkan Terang

Previous Post
Next Post