Curcol dulu ya. Saya mengajar para calon guru agama Katolik dan salah satu mata kuliah yang saya ampu semester ini adalah praktik pendalaman iman. Ini bukan mata kuliah favorit, kecuali jika favorit berarti momok (karena wajib sifatnya dan empat sks bobotnya). Saya sangat bisa mengerti. Mayoritas dari mahasiswa saya adalah lulusan sekolah menengah yang sama sekali tidak punya latar belakang filsafat dan teologi. Mau berpikir kritis, mungkin masih dalam tahap awal. Mau berpikir teologis, baru dapat pengantar. Padahal, pendalaman iman mengandaikan keduanya. Celakanya, ini dugaan saya, teman-teman muda ini sudah terbiasa dengan aneka nasihat moral spiritual dari guru mereka sehingga bahkan suatu kisah atau narasi kehidupan selalu berujung pada pesan moral tertentu.
Tidak mengherankan, ketika saya membaca teks persiapan pendalaman iman, mayoritas menyodorkan tema, topik, dan tujuan, yang semuanya berbau-bau himbauan moral: kasih, hidup berbagi, toleransi, kesabaran, kesetiaan, kerendahhatian, dan seterusnya. Apakah itu keliru? Tidak, tetapi kurang tepat dalam konteks pendalaman iman. Mengapa kurang tepat? Karena ujug-ujug omong soal impact daripada output dan outcome. Pendalaman iman, semestinya berangkat dari output yang diharapkan, yang pada gilirannya menghasilkan outcome tertentu. Baru setelah itu ada impact-nya. Kalau ujug-ujug omong impact, pendalaman iman atau juga pelajaran agama hanya akan jadi copy paste atau penerusan kebiasaan masa lalu.
Perayaan hari ini bisa jadi test case apakah orang menangkap makna perayaan Kamis Putih, yang kekhasannya terletak pada pembasuhan kaki. Saya yakin, bahkan tim liturgi akan langsung melekatkan ritual ini sebagai model kerendahhatian. Bagaimana tidak? Lha wong Tuhan kok merendahkan diri; mosok orang kaya melayani orang miskin; guru kok berlutut membasuh kaki murid. Persis seperti itulah yang dimengerti Petrus, yang protes terhadap gurunya: ia memahami perendahan diri dengan hitung-hitungan transaksional dan material. Membasuh kaki, baginya, dan mungkin bagi gerombolannya, adalah kebiasaan cuci kaki sebelum masuk ke rumah untuk perjamuan, seakan ia lupa bahwa pembasuhan yang dilakukan gurunya itu terjadi di tengah-tengah perjamuan.
Untuk apa, jal, di tengah perjamuan, gurunya pamer kerendahhatian? Ia tidak paham bahwa gurunya sedang menyingkap wajah Allah: bukan sosok berkarakter rendah hati ala modus pansos ja’im, melainkan sosok yang dari sononya memang cuma cinta belaka, yang tanpa syarat. Itulah juga yang diharapkan dari para muridnya, supaya mereka saling bertukar kado dari Allah, anugerah cinta tanpa syarat itu. Pertukaran kado ini tidak transaksional karena tidak lagi berbasis ‘apa yang kuperoleh’ tetapi ‘apa yang dapat kuberikan’ demi kebahagiaan seluruh makhluk. Kata orang Italia,”Ti voglio bene”
Andai saja lebih banyak orang punya paham Allah yang berkata “Ti voglio bene” kepada segala makhluk tanpa diskriminasi. Seperti itulah output yang bisa diharapkan dalam sebuah pendalaman iman. Outcome-nya? Orang bisa lebih empatik terhadap sosok rapuh seperti Yudas, Petrus, anak-anak Zebedeus, dan sebagainya. Impact-nya? Bisa jadi orang menjadi rendah hati, tetapi kerendahhatiannya hanyalah konsekuensi dari paham Allah yang inklusif tadi.
HARI KAMIS PUTIH
2 April 2026
Kel 12,1-8.11-14
1Kor 11,23-26
Yoh 13,1-15
Posting 2025: Love You
Posting 2024: Angèl di M.
Posting 2023: Ganjar[an]
Posting 2022: Tanpa Syarat
Posting 2020: Wajah Allah
Posting 2019: Mbok Sudahlah, Wo’
Posting 2018: Bukan (Cuma) Merendah
Posting 2017: Pemimpin Retorik Doang?
Posting 2016: Krisis Bahasa Cinta
Posting 2015: Faith in The Dark
Posting 2014: Kamis Putih: Perayaan Cinta

No Comment