• Tiada Agama selain Jalan

    Tiada Agama selain Jalan

    Setiap orang yang mau meneladan gurunya, dia mesti menyangkal dirinya, menanggung kesusahannya dan mengikuti gurunya itu. Coba kalau yang menyangkal dirinya malah si guru, apa murid ini gak malu? “Siapa lu?” Bayangkan kalau guru karate terus-menerus mematahkan baja untuk muridnya setelah ia memberi contoh, njuk kapan belajarnya si murid? Pokoknya, si murid itu mesti mengambil jalannya sendiri yang memang… Read more

  • Puasa dari Valentine

    Puasa dari Valentine

    Anda pasti tidak bisa membaca tulisan נְדָבָה, bahkan dari cara melihatnya saja sudah ketahuan bahwa Anda tak bisa membacanya. Kalau Anda bisa, berarti saya salah [gitu aja kok repot], hahaha… Saya juga tidak bisa membacanya, tetapi zaman now memungkinkan saya mendapat informasi mengenai tulisan asing itu. Itu karakter Ibrani yang dalam bahasa Inggris jadi alms yang erat… Read more

  • Jogja, Kamu Bisa!

    Jogja, Kamu Bisa!

    Memang tidak mudah membesarkan hati orang yang minim kepercayaan diri, seperti membuka hati orang yang hidup keagamaannya dangkal. Kenapa? Karena keduanya bisa mengambil wujud yang persis bertolak belakang. Orang minder memanifestasikan kesombongannya. Orang culun mengedepankan kepintaran versinya sendiri seakan-akan itulah kebijaksanaan tertinggi di semesta ini. Orang macam ini tak bisa mengevaluasi diri dan sekitar apa adanya. Semua… Read more

  • Godaan Yang Membahagiakan

    Godaan Yang Membahagiakan

    Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. Itu bukan sapaan saya kepada Anda, juga bukan nasihat saya untuk Anda [saya mah apa atuh].… Read more

  • Masih Bisa Bernafas?

    Masih Bisa Bernafas?

    Dalam sebuah karya sastra dari Persia abad ke-13 (Gulistan of Sa’di), Sheikh Muslih-uddin Sa’di Shirazi menuliskan teks yang terjemahannya begini: Aku tak pernah mengeluhkan berganti-gantinya waktu atau berkeluh kesah atas tikungan-tikungan nasib kecuali saat aku bertelanjang kaki dan tak bisa mendapatkan sandal. Akan tetapi, ketika masuk masjid agung Kufah dengan hati yang luka [yaéla Mo, apa gada terjemahan lain sih?]… Read more

  • Tanpa Hati Tak Happy

    Tanpa Hati Tak Happy

    Masih lanjut bahasan kartu kuning Asmat kemarin, saya hendak menyitir pernyataan salah seorang mahasiswa kedokteran yang pernah PTT di Papua seperti dituliskan pada link ini: Melayani di Papua itu, menurut Yafet, kalau tak ikut menggunakan hati sulit. Apalagi kalau sekedar money oriented, pasti bakalan dongkol dan menggerutu dalam bekerja sehari-hari. Menggunakan hati itu disinggung juga… Read more