Category: Daily Reflection
-

Makan Bareng
Saya tak tahu apakah sebagian besar keluarga zaman now bisa makan malam bersama di rumah atau apes-apesnya di rumah makan. Saya kira, itu sangat menyenangkan (kalau tidak menyebalkan, bergantung relasi orang-orangnya di situ), dan mungkin bisa jadi cerminan hidup keluarga di zaman Guru dari Nazareth. Katanya, keluarga-keluarga di sana itu…
-

Syukurlah…
Kalau Anda menilai orang lain, Anda tidak menunjukkan kenyataan orang lain, tetapi memaparkan perspektif Anda. Apalagi, kalau Anda mengevaluasi Allah: yang tidak mendengarkan, tidak peduli, tidak adil, atau sebaliknya: mahabijak, mahaadil, peduli, pendengar, dan seterusnya. Entah negatif atau positif, penilaian terhadap Allah tidak menyatakan hakikat Allahnya sendiri, tetapi mempertontonkan cara…
-

Upah Kemerdekaan
Dengan dua judul berturut-turut “Ndhèrèk Langkung” dan “Dunia Orang Merdeka” kemarin, insight bacaan hari ini mungkin sudah bisa dikondisikan sejak awal: hendaklah semua properti duniawi, entah sedikit atau banyak, tak menyeret orang beriman untuk numpang lewat dengan jadi pribadi yang sungguh merdeka. Jadi, sebetulnya ya sudah cukup itu saja, tak usah…
-

Dunia Orang Merdeka
Semua orang, sebagai makhluk sosial, sewajarnya berkontribusi bagi kehidupan bersama. Salah satunya dengan pembayaran pajak seturut ketentuan yang berlaku. Apakah ketentuan itu wajar atau tidak, masih bisa dikaji. Konteks narasi bacaan hari ini adalah keadaan ketertindasan bangsa Israel. Konon, separuh dari pendapatan mesti disetorkan sebagai pajak. Ada pajak profesi. Pajak…
-

Ndhèrèk Langkung
Kalau lewat gang atau jalan dan ada orang yang saya lalui, biasanya saya mengatakan “numpang lewat”. Dalam bahasa Jawa istilahnya ndhèrèk langkung. Saat jogging pagi ini saya melalui jalan yang rupanya sedang disapu warga, yang saya memang tidak kenal. Dari arah berlawanan ada tiga penunggang sepeda dengan kecepatan yang saya…
-

Belajar dari Anak
Guru dan murid tak selalu sama dalam pengambilan sikap terhadap kenyataan hidup yang sama. Wajar saja, karena keduanya punya pengalaman dan perspektif berbeda. Ini tidak berarti bahwa guru selalu lebih baik karena pengalaman dan perspektifnya lebih komplet. Lha wong ya namanya baik atau enggak itu bergantung tolok ukur yang dipakai…