• Sakti Tenan

    Sakti Tenan

    Bencana bisa dipolitisir ketika sensibilitas terhadap penderitaan menipis. Sudah saya bahas di tulisan berjudul Allah di Kalijodo, yang menyajikan beberapa tanggapan dan asumsinya terhadap penderitaan, entah itu bencana alam ataupun bencana nonalam. Ini tetap relevan bagi umat beriman untuk berefleksi, apakah ia sedang beriman atau sedang mempertebal kebodohannya. Beberapa waktu lalu ada orang yang mengaitkan… Read more

  • Dunia Sama Kita Beda

    Dunia Sama Kita Beda

    Memang tidak mudah ya hidup di dunia yang penuh dengan attachment alias kelekatan, yang cenderung memberi tagging terhadap aneka hal dengan èmbèl-èmbèl kata ganti empunya alias posesif: milikku, milikmu, miliknya, dan seterusnya. Entahlah, pemahaman dan perilaku yang sinkron dengannya memang tidak semudah diomongkan: hidup ini cuma titipan, hidup ini cuma sementara, dan sejenisnya.  Saya ingat permainan dinamika kelompok… Read more

  • Senggol Mang

    Senggol Mang

    Sudah pernah saya tegaskan dengan buku tebal bahwa kalau orang sungguh sedang berurusan dengan cinta sejati, hidupnya bukan semakin terperosok pada tribalisme, melainkan terarah pada nilai universal. Cinta sejati itu tidak membatasi, mengungkung, memicikkan orang, tetapi justru memperluas horison atau cakrawala hidupnya. Perluasan cakrawala itu dalam teks bacaan hari ini bisa dimengerti juga dari imaji… Read more

  • Waktunya Nganu

    Waktunya Nganu

    Untuk segala sesuatu ada waktunya. Si Pengkhotbah, setelah kemarin mewartakan kesia-siaan di dunia ini, hari ini menyampaikan bahwa kesia-siaan itu tak terhindarkan dalam kronologi waktu: ada waktu untuk lahir-mati, menanam-mencabut, membunuh-menyembuhkan, menangis-tertawa, meratap-menari, membuang-mengumpulkan, memeluk-puasa memeluk, merobek-menjahit, dan seterusnya. Loh, mosok itu disebut kesia-siaan sih, Mo? Menanam, lahir, menyembuhkan, menari, memeluk, menjahit, dan sebagainya itu, mosok… Read more

  • Apa Urusan Anda?

    Apa Urusan Anda?

    Segala sesuatu adalah sia-sia, sia-sia belaka. Begitu kata si Pengkhotbah. Itu benar, tetapi tidak mutlak sifatnya karena jika sifatnya mutlak, jadi boomerang bagi si Pengkhotbah sendiri. Kok boomerang sih, Mo, si Pengkhotbah itu kan belum kenal Instagram? #halah Kalau segala-galanya memang sia-sia belaka, ya berarti pernyataan “segala sesuatu adalah sia-sia” itu termasuk sia-sia toh? Dengan… Read more

  • Du sollst nicht lügen

    Du sollst nicht lügen

    Orang beragama itu kerap kali mengatakan bahwa hidup di dunia ini cuma mampir, entah mampir untuk apa, pokoknya mampir saja, tak selama-lamanya hidup di dunia ini. Lain waktu dikatakannya mengenai anak sebagai titipan Tuhan dan di kesempatan lainnya meyakini bahwa hidup ini amanah dari Allah. Akan tetapi, ya begitulah, namanya juga cinta palsu: lain kata,… Read more