Serangan Fajar

Bersamaan dengan pemilu serentak (kecuali yang sedang berada di luar wilayah NKRI), teks bacaan hari ini menarasikan pengkhianatan manusia sampah secara lebih mendetail, dimulai dengan serangan fajar yang unik. Unik, karena biasanya serangan fajar dilakukan oleh kontestan pemilu, tetapi ini malah dimulai dari permintaan manusia sampah. Entah kepentingannya apa, mungkin memang BU, mungkin kecewa karena Guru dari Nazareth ternyata tak seperti yang dibayangkannya dulu, mungkin iseng #halah. Pokmèn, ada simbiosis mutualis antara manusia-manusia sampah, entah yang berlabel agama atau suku atau etnis atau apalah.

Ndelalahnya, kemarin di rumah saya ada serangan fajar, bukan dalam rupa duit, tapi stiker. Entahlah apakah stiker ini bisa dikategorikan sebagai serangan fajar karena memang gak ada duitnya, tetapi saya prihatin stiker ini tersokong oleh isu agama. Begitulah politik dan agama, apa pun nama agama itu, karena manusia sampah itu pada dasarnya lintas agama. Sebetulnya apa persoalannya dengan simbiosis mutualis antara politik dan agama ya? Bukankah kalau memang itu menguntungkan ya baik diperjuangkan?

Betul, tetapi menguntungkan siapa dan baik menurut siapa? Saya sudah jenuh sebetulnya dengan ulasan soal ini, tetapi memang begitulah: power tends to corrupt. Kalau politik berkongkalikong dengan agama, terjaminlah korupsi kekuasaan, dan itulah yang membentang di hadapan saya dan Anda sekalian. 

Semoga pemilihan umum kali ini, dengan segala keterbatasannya, termasuk kongkalikong manusia sampah tadi, bisa jadi jalan bagi seluruh warga untuk mendewasakan bukan hanya imannya, melainkan juga kehidupan berpolitiknya. Jangan contoh saya ini yang patah arang karena tidak segera melakukan serangan fajar menyuarakan apa yang perlu saya suarakan hanya karena sudah merasa kalah terhadap medsos. Akan tetapi, bolehlah Anda contoh saya dalam hal mruput untuk coblosan😂. Saya coblos minus malum, yang kurang buruk daripada yang buruk lainnya. Kenapa saya bilang buruk, ya karena kongkalikong tadi itu. 

Sejarah adalah resultan aneka realisasi tanggung jawab orang-orang yang ada di dalamnya. Setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, tetapi tanggung jawab itu tak menghilangkan dampak sosial pilihannya. Itu mengapa semestinya kalau mau kongkalikong, harus melibatkan semua elemen, bukan tipu-tipu doang. Contohnya tipu-tipu: belum ada penghitungan suara sudah mengklaim menang, dan sudah ancang-ancang serangan fajar kalau kalau berarti dicurangi dan bahkan memprovokasi untuk menolak hasil jika kalah.

Kalau sejarah hanya dibuat oleh manusia sampah seperti itu, terjaminlah penggerusan mental kewarasan. Sayangnya, kebanyakan manusia sampah lebih fanatik daripada manusia lain yang kehilangan greget untuk kebaikan bersama.
Saya berdoa semoga semakin banyak orang yang punya inisiatif serangan fajar yang berorientasi pada bonum commune daripada yang agendanya kepentingan tribal. Amin


HARI RABU DALAM PEKAN SUCI
Pilpres & Pileg Serentak NKRI
17 April 2019

Yes 50,4-9
Mat 26,14-25

Posting 2018: Notorious Seto
Posting 2017: Iman Oportunis

Posting 2016: Mari Berkhianat

Posting 2015: Faith: Always Inclusive

Posting 2014: Wani Piro: Betraying The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s