Pakaian Salah

Di negeri ini [meskipun di negeri lain juga bisa sih], pakaian bisa jadi kambing hitam untuk melegitimasi perkosaan: rok yang kurang panjang, kaos tanpa lengan, pakaian ketat, dan seterusnya. Tidak usahlah sampai perkosaan. Juga dalam ranah agama, pakaian-pakaian macam begitu mendapat pembatasan. Ini bukan karena Tuhan jijik melihat pakaian minim, melainkan karena manusia punya tendensi untuk menyalahkan pakaian minim atas perubahan ‘metabolisme’ dalam dirinya sendiri. Libido dalam dirinya meningkat, yang disalahkan pakaian orang lain.

Terjemahan teks bacaan hari ini tidak gamblang menunjukkan soal itu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia dalam hatinya. Saya tidak mengerti mengapa penerjemah memakai kata ‘menginginkan’. Mungkin dia belum membaca buku Cara Menguji Ketulusan Cinta eaaaaaa….. Saya tidak menguasai Bahasa Yunani, tetapi ἐπιθυμῆσαι (epithymēsai) jelas berhubungan dengan libido. Perkara konteksnya libido diarahkan untuk mengejar objek atau bahkan memperkosanya, saya no comment karena itu bukan bahan refleksi saya.

Saya mau melihat bahwa ada tuntutan moral yang begitu tinggi terhadap orang beriman. Ini bukan soal moral orang beriman lebih baik daripada moral orang tak beriman, melainkan soal passing grade; dan grade ini tidak bicara soal tinggi-rendah, tetapi soal beriman atau tak-beriman. Moralitas orang beriman tidak dibangun di atas norma moral (kesepakatan atau kebiasaan masyarakat tertentu), tetapi di atas hukum cinta atau kasih. Maka dari itu, poin pentingnya bukan soal norma pakaian mesti menutupi apa dan panjangnya berapa dan di tempatnya mana (karena itu bisa diatur atau dibicarakan baik-baik, bukan dijadikan bahan untuk menghujat). Poin pentingnya adalah soal memandang pribadi dengan cinta. 

Akan tetapi, karena cinta itu dimensinya banyak, yang dikatakan oleh Guru dari Nazareth dalam teks bacaan hari ini gamblang. Katanya, orang bilang jangan berzinah, tetapi hal perzinahan itu kan bisa disiasati bahkan lewat hukum, entah itu bernama lokalisasi, poligami, atau apa lagilah. Artinya, perintah moral ‘jangan berzinah’ itu oleh orang beriman diperluas perspektifnya sebagai undangan untuk memperkaya dimensi cintanya. Dengan demikian, orang beriman tidak berhenti pada libido dan bertindak seturut dorongan libido, eros, atau philia, tetapi seturut panggilan universal cinta Allah. Paulus mengakui bahwa cinta ilahi itu ditanggungnya dalam tubuh yang rapuh. Karena itu, orang beriman tak perlu berlagak mengenyahkan libido dengan menyalahkan pakaian, kolam renang, siaran televisi, yang mengekspos bagian-bagian anu. Ngapain dienyahkan wong itu sudah built-in

Romo ini pembela kaum berpakaian minim ya? 😂😂😂
Entah kaum berpakaian minim atau penontonnya pada hakikatnya sama: bergantung pada paradigma mengenai orang lain, apakah mereka dipandang sebagai objek semata. Kerapuhan yang built-in (entah itu perkara libido atau perkara lain) tak bisa dijadikan alasan untuk melegitimasi pengobjekan pribadi. Seperti apa mengobjekkan pribadi? Memandang pribadi lain sebagai objek nafsu libido kekuasaan, menundukkan orang lain untuk menuruti apa maunya (lebih bagus lagi kalau orangnya tak merasa dikuasai). Orang beriman berupaya membuat sinkron pernik-pernik kehidupannya dengan cinta ilahi yang hormat pada pribadi-pribadi lain.

Tuhan, mohon rahmat untuk mampu menghargai sesama sebagai pribadi. Amin.


Jumat Biasa X C/1
14 Juni 2019

2Kor 4,7-15
Mat 5,27-32

Jumat Biasa X B/2 2018: Kemenangan Krisis
Jumat Biasa X A/1 2017: Harta di Kerapuhan 

Jumat Biasa X C/2 2016: Gak Ada Tuhan dalam…

Jumat Biasa X A/2 2014: Ngapain Sih Berdoa Segala?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s