Agama Saus Tiran

Saya kira tak ada yang suka melihat manusia munafik, kecuali manusia itu adalah dirinya sendiri. Orang akan protes terhadap tetangganya yang bermulut manies padahal perilakunya amis. Akan tetapi, kalau kriteria itu diterapkannya pada diri sendiri, mungkin dia berkelit. Pokoknya yang munafik itu orang lain, titik.

Kisah bacaan hari ini bisa jadi tamparan keras karena karakter Herodes bisa jadi hinggap di kepala orang-orang beragama juga. Herodes tidak hidup dalam iklim demokratis. Dia jadi penguasa Galilea lebih lama daripada durasi pemimpin otoriter Indonesia dulu: 43 tahun! Dia benar-benar jadi tuan mutlak bagi segala-galanya di Galilea, tanpa kontrol dari penduduk sama sekali. Anda tahu apa artinya kekuasaan tanpa kontrol dari subjek kekuasaan: orangnya tak mau dijadikan objek kekuasaan, padahal setiap orang semestinya jadi subjek maupun objek kekuasaan.

Oh, saya salah ding, Herodes mau juga jadi objek kekuasaan: ia tunduk pada kekaisaran Romawi, yang sudah berkuasa di wilayah Palestina sejak tahun 63 sebelum Guru dari Nazareth lahir. Supaya posisinya aman, Herodes mesti menyenangkan Kaisar dalam segala hal. Ia menyelenggarakan administrasi yang bisa menguntungkan kekaisaran, tetapi ia sendiri tak membiarkan orang lain menarik perhatian Kaisar. Begitulah, salah seorang penulis Yahudi saat itu menginformasikan bahwa alasan pemenjaraan Yohanes Pembaptis ialah ketakutan Herodes akan pemberontakan.

Menurut teks Lukas (22,25), Herodes ini suka disebut sebagai pengayom rakyatnya, tetapi pada kenyataannya ia adalah tiran. Namanya tiran, ya bisa berbuat apa saja seturut yang ada di kepalanya dong, dan itulah tadi yang saya singgung di awal. Dalam diri setiap orang beragama bisa jadi benih itu ada: di luar tampak jadi pagar, tetapi jebulnya makan tanaman yang dipagari. Kok bisa ya? Bisa saja, namanya juga tiran, suka-suka dia aja mau gimana.

Menurut teks Markus (6,21), tindakan tiran Herodes itu terjadi pada saat perjamuan besar yang melibatkan para pembesar, perwira, orang-orang terkemuka di Galilea. Dalam suasana seperti inilah plot pembunuhan Yohanes Pembaptis terjadi. Maklum, Yohanes ini terang-terangan mengungkit sistem korup Herodes, dan dendam pribadi Herodes memperoleh ruangnya dalam ranah publik. Persis di situlah kelemahan moral Herodes, yang memegang semua kekuasaan kecuali terhadap dirinya sendiri! Herodes mengira memegang janji adalah keutamaan yang melebihi komitmen pada nilai kemanusiaan, dan terjadilah, nyawa manusia lenyap semata karena pesta pora yang harus dijaganya.

Saya kira peristiwa kemartiran Yohanes Pembaptis ini baik juga untuk dijadikan pembelajaran supaya orang beragama lebih berhati-hati ketika ia ada dalam posisi mayoritas dan punya kekuasaan. Soalnya, plot pembunuhan suara kenabian sangat mungkin terjadi justru pada momen ‘megah’ begitu. Saya lalu teringat misalnya bagaimana orang married di gereja njuk yang memimpin ibadatnya puluhan imam (yang ‘kebetulan’ jadi uskup). Saya juga teringat bagaimana orang beragama ‘berlomba-lomba’ membangun tempat ibadat megah, seakan-akan memang kemegahan tempat ibadat itu diperlukan Allah. Kalau tidak waspada, agama akan diberi saus tiran, dan kesaksiannya nol besar.

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk melihat mana yang sungguh berkenan bagi-Mu dalam pergulatan hidup kami. Amin.


SABTU BIASA XVII C/1
3 Agustus 2019

Im 25,1.8-17
Mat 14,1-12

Sabtu Biasa XVII B/2 2018: Kutukan Di 
Sabtu Biasa XVII A/1 2017: Persekusi Lagi
Sabtu Biasa XVII C/2 2016: Mati Lagi, Mati Lagi

Sabtu Biasa XVII B/1 2015: Agama Komunis
Sabtu Biasa XVII A/2 2014: Siapa Yang Kamu Sebut Nabi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s