Pray to Choose

One learns to pray by praying. The novitiate of prayer is silence.
Jelas ya. Yang pertama itu seperti renang: learning by doing. Yang kedua seperti novisiat (sekolah khusus tingkat dasar para biarawan/biarawati Katolik): sepi sunyi sendiri, dekat kuburan.

Refleksi hari ini cuma hendak menghubungkan teks hari ini dengan insight kemarin mengenai doa yang direkomendasikan: bersungguh-sungguh sebagai penghayatan iman yang berujung pada sikap tanpa memandang rendah orang lain. Nikmatilah jerih payah beragama, tapi tak usah mengadili orang lain.
Mari sebentar meninjau cerita kemarin mengenai dua orang yang berdoa. Yang satu orang Farisi, yang lainnya pemungut cukai yang biasa dicap pendosa. Kalau dihitung-hitung jumlah kata terjemahan bahasa Indonesianya, ada empat puluh kata yang dipakai orang Farisi itu berdoa. Sedangkan pemungut cukai itu hanya memakai tujuh kata. Dua angka itu cool, tetapi saya tak mempersoalkan falsafah angkanya. Pokoknya, doa orang Farisi nan congkak itu memakai kata hampir enam kali lebih banyak daripada pemungut cukai.

Di situlah, barangkali memang belajar doa itu berpintukan keheningan. Masuk akal kalau orang terlekat pada hapenya, susahlah berdoa.
Ah, gak juga, Rom! Saya belajar doa pakai bahan latihan doa di blog Versodio ini pakai hape!
Njuk bisa berdoa, gitu?
Enggak. 😂😂😂

Kan dah saya bilang (antara lain dalam Sok Sibuk Lu), seperti mungkin (karena saya tak punya sumbernya) dikatakan Imam Ali saudara Nabi Muhammad dan Bhagavad Gita: detachment is not that you should own nothing, but that nothing should own you. Terlekat pada hape berarti pikirannya terkuasai oleh hapenya sendiri atau isi hape yang tak relevan dengan intensi orang untuk berdoa tadi.
Guru dari Nazareth pastilah tak terlekat pada hape dan beliau bisa berdoa semalam-malaman. Busyet, berapa ribu kata dipakainya ya?
Kalau konsisten dengan ajarannya kemarin, jelas bahwa waktu semalam-malaman itu cuma diisi dengan beberapa kata, tak bertele-tele seperti doa orang Farisi. Ha njuk ngapain dong doanya? Ya silakan halaman Latihan Doa tadi. Kalau itu dilakukan, jangankan semalam suntuk, sepanjang hidup pun bisa terjadi.

Jangan-jangan karena semalam suntuk berdoa itu Guru dari Nazareth malah teler lalu keesokan harinya salah memilih rasul, termasuk Simon Zelot dan Yudas Tadeus yang dipestakan Gereja Katolik hari ini!
Bisa jadi, karena salah benar itu juga bergantung pada sudut pandangnya. Dua orang itu getol melawan penjajah juga dengan angkat senjata, dan mereka mau saja diminta jadi ring satunya Guru dari Nazareth karena melihat sosok Guru ini cocok untuk perjuangan mereka melawan penjajah.

Blaik, setelah ikut, jebulnya mereka keliru, Guru dari Nazareth ternyata tak punya agenda mengusir penjajah, yang jelas-jelas melanggar HAM! Ini tak sesuai agenda mereka.
Menariknya, mereka kok tetap mengikuti Guru dari Nazareth ini sampai titik darah penghabisan ya? Dugaan saya, itu karena mereka mengerti bahwa yang dilawan Guru dari Nazareth bukan penjajah atau pendosanya, melainkan struktur dosa yang menguasai orang sehingga jadi penjajah. Iya gak sih?

Tuhan, ajarilah kami berdoa untuk senantiasa mengambil pilihan hidup dan jalan yang berkenan kepada-Mu. Amin.


PESTA S. SIMON DAN YUDAS
(Senin Biasa XXIX C/1)
28 Oktober 2019

Ef 2,19-22
Luk 6,12-19

Posting Tahun 2017: Pastor Kok Malas
Posting Tahun 2016: Agama Pilihan

Posting Tahun 2015: Sumpah Pelupa
Posting Tahun 2014: Sedikit Yang Dipilih? Gombal!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s