Takut Beribadah?

Andaikan. Andaikan saja ini ya. Anda dipaksa bungkam selama tiga puluh hari tiga puluh malam. Anda tak punya daya untuk mengomunikasikan diri selama sebulan itu. Kata, frase, atau kalimat pertama apa yang akan Anda lontarkan setelah Anda bisa bicara lagi? Nah, itu sebulan. Kalau sembilan bulan, bagaimana?

Zakharia sembilan bulan bisu. Sebetulnya tidak ada yang tahu kata, frase, atau kalimat pertama apa yang muncul dari Zakharia seusai lidahnya tak kelu lagi. Akan tetapi, cobala tilik klip video yang pernah saya cantolkan dalam posting Khilaf (Lagi) Ah. Ini adalah rekaman reaksi orang yang pada dasarnya buta warna dan selama sekian puluh tahun hidup dalam dunia tanpa warna. Reaksi mereka, dalam arti tertentu, adalah contoh pengalaman religius, pengalaman ketika orang berhadapan dengan Yang Transenden, yang mengatasi keterbatasannya. Tidak saya dapati ungkapan sumpah serapah, seakan-akan mereka menyesali bahwa selama ini hidup mereka begitu kelabu. Fokus mereka tidak tertuju pada masa lalu yang abu-abu, tetapi pada masa depan yang sekarang sudah berwarna.

Ungkapan Zakharia setelah kebisuannya ialah pujian kepada Allah yang berkenan melawat umat-Nya. Lawatan yang membawa kelegaan. Kunjungan yang melepaskan umat beriman dari lingkaran kebencian dan permusuhan. Intervensi yang memerdekakan orang dari aneka beban prasangka yang menjerumuskan. Yang membuat orang beribadah tanpa rasa takut.
Nah, yang terakhir ini kok entah gimana gitu. Bagaimana orang beribadah tanpa rasa takut? Bukankah sekarang ini trennya ialah ibadah keagamaan dijaga pulisi atau tentara?

Tentu saja, penjagaan aparat keamanan tidak identik dengan adanya ketakutan. Itu hanya salah satu wujud jaminan negara bagi warganya, bahkan meskipun bisa jadi malah aneh rasanya. Selain itu, beribadah mestinya juga punya pemaknaan yang lebih luas daripada ritual semata. Kalau begitu, bahkan ketika negara absen dan tak bisa menjamin umat beragama merayakan hari rayanya, sekelompok umat beriman yang mengalami kelegaan seperti Zakharia bisa saja melakukan selebrasi yang ‘luar biasa’ dengan hal-hal yang biasa. Kiranya itu lebih bermakna daripada perayaan hari raya menjadi selebrasi dangkal yang dipromotori oleh asesoris di media atau di pasar. Pokoknya, orang beriman mengabdi, melayani Allah tanpa rasa takut dan bebas mencari bentuk perayaan yang meskipun tak populis toh bisa jadi malah memberi dampak yang baik bagi kehidupan bersama.

Tuhan, bebaskanlah kami dari rasa takut supaya ibadah kami sungguh berkenan kepada-Mu. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
24 Desember 2019, Selasa

2Sam 7,1-5.8b-12.16
Luk 1,67-79

Posting 2018: Gusti Ngantuk
Posting 2016: Telolet Comes and Goes

Posting 2015: Allah Melawat, Manusia Ngelayap

Posting 2014: Bagaimana Memberkati Tuhan?

3 replies

  1. Selamat (bermalam) Natal Mo Andre🎄🎄🎄 Semoga selalu penuh sukacita dan damai di hati. Di persekusi karena menjalankan ibadah kalau boleh dilihat dr positifnya (hmm semoga sy gak lebay) artinya kita diperkenankan makin menderita karena cinta kita pada Tuhan kita: it’s priceless. Berkah Dalem 🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s