Heart to Heart

Sudah jadi rahasia umum bahwa hidup bersama tanpa physical distancing selama 24 jam sehari bukanlah jaminan kedekatan antarpribadi. Pada pasangan yang mengalami infatuation, itu tak lebih dari perkara seks. Pada orang-orang yang hidup dalam lembaga (termasuk perkawinan), itu soal menjaga tradisi (meskipun ‘demi anak’ bisa dijadikan alasan). Jelas, jarak fisik bukan per se pengganggu hidup bersama. Sebaliknya, kedekatan fisik per se bukan penjamin relasi intim antarpribadi.

Teks bacaan kedua hari ini menginsinuasikan dua kenyataan itu. Yudas bisa dikatakan dalam tiga tahun terakhir hidupnya selalu bersama Guru dari Nazareth dan teman-temannya, siang-malam 24 jam setiap harinya. Sebaliknya, Maria barangkali hanya berjumpa dengan Sang Guru satu semester satu kali atau bahkan lebih lama dari itu. Guru dari Nazareth hanya mengunjungi Maria-Marta-Lazarus pada momen perayaan besar ketika Sang Guru ke Yerusalem. Akan tetapi, sebagaimana Yudas yang setiap harinya bersama Guru dari Nazareth tak kunjung punya relasi pribadi dengannya, percayalah sama saya, begitu pula ada banyak orang yang memuji-muji Allah, meneriakkan puji-pujian kepada Allah dengan lagu megah dan tarian meriah, tetapi mereka ini tak punya intimitas relasi dengan Allah.

Adegan dalam teks ini kiranya adalah kunjungan terakhir Guru dari Nazareth dan momen ini menjadi penting untuk melihat faktor determinan relasi antarpribadi. Yudas mengkritik keras pemborosan parfum yang dilakukan Maria. Perspektif yang dipakainya ialah duit, modusnya ‘orang miskin’. Perspektif Guru dari Nazareth berbeda: kalau barang mahal pun direlakan, itu artinya halnya penting. Yang penting dalam momen itu bukan kata-kata. Maria tak berkata-kata. Ia mengurapi kaki Guru dengan parfum mahal dan menyekanya dengan rambut. Mahkota kepala membersihkan kaki. Simbol apakah ini? Simbol itu kelak dilakukan Guru sendiri, yang membasuh kaki murid-muridnya.

Cintalah yang memungkinkan relasi dibangun, entah dalam kondisi kedekatan fisik atau physical distancing. Tentu saja, Yudas juga mengklaim dirinya mencintai Guru, tetapi klaim itu ironis dan isinya tak lebih dari ilusi. Ya itu tadi yang saya bilang: banyak orang hidup dengan klaim bersama Guru dan memujinya dengan gerak dan tari, bahkan mendirikan Gereja baru, tetapi mereka tak sungguh kenal, apalagi memperkenalkan Guru! (Mat 7,21). Dari teks ini bisa dimengerti bahwa ‘mengenal Guru’ sangat terkait erat dengan orang-orang miskin, sebagaimana dituliskan,”Orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi aku tidak akan selalu ada padamu.”

Kalimat itu seakan-akan jadi ramalan bahwa kemiskinan takkan lenyap dari muka bumi ini tetapi cara menghadapi orang-orang miskin itu rupanya tak selalu klop dengan relasi antarpribadi. Yudas memandang orang-orang miskin dengan perspektif duit, seakan-akan problem orang miskin ialah duit semata [dan ujung-ujungnya supaya orang-orang miskin ini tidak anarkis dan merugikan yang tidak miskin]. Guru melihat gestur Maria sebagai tindakan cinta, dan itulah yang sesungguhnya dibutuhkan orang-orang miskin: cinta yang membuat martabat mereka pulih dan relasi antarpribadi terbangun. Cinta seperti ini hanya mungkin dibangun dengan perjumpaan heart to heart dan pembatasan sosial takkan merusak relasi cinta yang diperjuangkan dalam hati orang. Kalau rusak, namanya bukan cinta lagi, melainkan ilusi.

Ya Allah, mohon rahmat ketulusan dalam mencintai-Mu dan sesama. Amin.


HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI
6 April 2020

Yes 42,1-7
Yoh 12,1-11

Posting 2019: Awasi TPS
Posting 2018: Choosing Your Perfume

Posting 2017: Mulut Mu-anies

Posting 2016: Merekayasa Sejarah
 

Posting 2015: Iman Punya Preferensi
Posting 2014: Honoring The Wisdom

2 replies

  1. Di dalam cinta tidak ada ketakutan: cinta yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam cinta.” (1Yoh 4:18)

    Cinta dari perspektif yg lain..

    Para pembaca ingat
    AMDG ya..(Ayo Maskernya Dipakai Gaess),,

    Dimaafkeun ya Mo,, itu WA status,,,AMDG versi temenku anggota sat.gas covid19 di tmpatku bekerja hehehehe piss✌☺

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s