Penolong Budi

Di kota saya ini belum ada PSBB [Semoga jangan sampai deh]. Imbauan social distancing belum ditingkatkan sebagai kebijakan ketat; barangkali karena kasus Covid-19 bersifat impor dan gelombang pemudik belum meninggi. Akan tetapi, kemarin saya merasa jalanan mulai agak lebih padat daripada hari-hari sebelumnya. Entah ini dampak mudik dini atau karena warga tak tahan mengurung diri. Semoga first things first senantiasa ada di hati dan aksi. Amin.

Njuk apa hubungannya dengan bacaan hari ini ya?
Ya mungkin gada hubungannya.😁
Harapan akan first things first itu mengandaikan orang mengalami perjumpaan dengan apa yang paling penting dalam hidupnya, dan apa yang paling penting itu tak bisa ditentukan oleh satu momen tertentu. Tidak hanya itu, tolok ukurnya juga tak bisa dimonopoli oleh satu dimensi, entah material, mental atau spiritual.

Kisah hari ini menunjukkan kerapuhan dimensi material yang bisa ditangkap dengan indra. Maria melihat dengan mata kepalanya sendiri tetapi ia tak mengenali pribadi yang sangat dicintainya. Rupanya mata tak memadai. Dibutuhkan indra lain: pendengaran. Setelah melihat dan mendengar suara yang memanggilnya, barulah Maria ngeh pada sosok yang memanggilnya, yang tak lain ialah pribadi yang sungguh-sungguh dicintainya. Tentu saja, di situ diandaikan bahwa ngeh Maria terjadi karena ada intuisi yang menyertai budinya. Sebutlah intuisi itu sebagai intuisi rohani, karena pribadi yang memanggilnya bukan lagi pribadi yang sama dengan sosok yang dijumpai sebelumnya. Intuisi itu menyimpan informasi yang pengolahannya seakan-akan begitu cepat tanpa prosedur ketat.

Katakanlah orang yang berlalu lalang di masa pandemi ini tak berprinsip first things first. Bisa jadi mereka melihat atau mendengar berita bagaimana korban Covid-19 berjatuhan. Akan tetapi, dua modal indra itu belum tentu cukup membantu mereka untuk menangkap first things first karena intuisi mereka tak memuat informasi mengenai perbedaan pertambahan linear (penambahan angka tetap) dan eksponensial (penggandaan angka) Covid-19. Kalau cuma bertambah secara linear, orang tak perlu begitu susah memikirkannya, tetapi kalau pertambahannya mengikuti garis eksponensial, semestinya orang berpikir ulang sehingga sebisa mungkin meminimalisir pergerakan.

Akan tetapi, bahkan kalau intuisi orang sampai di situ, apakah prinsip first things first orang bisa sejalan dengan kepentingan kolektif? Tidak otomatis, karena bisa jadi orang tetap dihadapkan pada kesulitan material, tanpa tabungan, tanpa jaringan pengaman sosial, dan seterusnya. Ini bukan lagi soal logika utak atik akal budi, melainkan soal empati terhadap kepentingan kolektif tadi dengan segala risiko dan pengorbanannya.

Dalam tradisi Katolik masih ada ibadat yang terus menerus menegaskan bahwa perjumpaan dengan Allah itu tak bisa dipenuhi oleh kesempurnaan budi yang menutup keterbatasan indra. Dikatakan di situ bahwa iman menolong budi karena indra tak mencukupi. Dengan demikian, setiap orang perlu mawas diri apakah ia mengukur segala-galanya dengan indra, dengan budi, atau juga dengan iman. Kalau hanya dua hal pertama yang dipakai, biasanya berujung pada kecemasan, kekhawatiran, kritik, protes, demo, dan seterusnya. Kalau hal ketiga disertakan, bisa jadi tetap ada kritik, protes, atau demo, tetapi bukan lantaran kecemasan atau ketakutan.

Ya Allah, mohon rahmat kemerdekaan untuk mencintai-Mu juga melalui sesama. Amin.


SELASA DALAM OKTAF PASKA
14 April 2020

Kis 2,36-41
Yoh 20,11-18

Posting 2019: Sudah Bersyukur?
Posting 2018: Cura Personalis

Posting 2017: Update Status Dong

Posting 2016: Kutunggu Rindumu

Posting 2015: Resurrection: Spiritual Selfie

Posting 2014: Bangkit=Tobat

2 replies

  1. Itu benar dan ngalamin sendiri Mo, alinea kedua dr akhir: saat indra dan budi masih tetap membawa resah pikiran & kekuatiran, iman berperan selayaknya obat penenang. Gak langsung bikin perasaan jd ekstasi gak terkontrol sih, tp setidaknya membuat hati bisa tenang berpasrah bhw apa yg akan terjadi nanti, terjadilah krn itu pasti yg terbaik. Hidup mang selalu akan didampingi masalah ya Mo hiiiks🙏

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s