Roti-roti Hidup

Salah seorang senior saya mengajar agama di Akademi Keperawatan dan karena seluruh perkuliahan dilakukan secara daring, sibuklah dia dengan segala peralatan untuk kelas onlen. Memakai baju resmi sebagai pastor, dan di mejanya saya lihat ada sketsa diagram dan peta berwarna. Saya dengar suaranya persis seperti ketika mengajar di depan kelas. Perhatian saya semakin besar ketika tiba-tiba dia berhenti dan tertawa, tak bisa melanjutkan materi pelajarannya. Saya lirik ke layar monitornya dan ternyata mahasiswa yang diajarnya adalah para perawat yang berpakaian APD dengan face shield, dan di situ ada tambahan kumis kucing dan telinga kelinci pada masing-masing kepala mereka. Itu yang membuat senior tertawa; tetapi pada saat saya menatap ekspresi para perawat yang akan bertugas seusai kuliah onlen ini, saya malah tak tahan sendiri.

Saya meninggalkan ruangan dan meratap. Mereka ini adalah tenaga kesehatan yang berjibaku di garda depan. Saya meratap bahwa kepada para tenaga medis unyu-unyu yang berhadapan dengan risiko kematian itu malah dijelaskan soal teknis peta Israel zaman jebot. Saya sekilas melihat pose lucu mereka yang tampak gembira menantikan giliran tugas mereka. Mengapa tidak mengajar agama dengan mulai dari mengidentifikasi perasaan-perasaan mereka dan memberi peneguhan kepada mereka? Tapi sudahlah, setelah meninggalkan ruangan dosen senior saya itu, saya bangun dari tidur.

Jadi, itu semua adalah mimpi, dan karena itu, kejanggalan-kejanggalannya menjadi tidak penting [tidak saya ceritakan bahwa sebelum melihat dosen senior mengajar onlen itu saya habis menendangi Thanos, mumpung dia sedang teler]. Poinnya ialah bahwa para perawat itu perlu diteguhkan untuk menyadari bahwa roti hidup dalam teks bacaan hari ini sudah hadir dalam hidup mereka: dalam kegembiraan mereka, dalam semangat mereka, dalam kreativitas, keberanian, kepasrahan, dan seterusnya. Pelajaran agama, sebagaimana kerohanian, bukan sebagai sesuatu yang ditambahkan dari luar, melainkan sebagai penggalian disposisi batin orang untuk menangkap hakikat agama yang sesungguhnya.

Sebagian orang mengira bahwa hidup rohani dan fisik material itu berjalan berdampingan sebagaimana pemuka agama dan saintis hidup berdampingan. Problemnya, tecermin dalam sebuah meme mengenai kaum religius yang menanti-nantikan petunyuk dari para saintis mengenai Covid-19, meskipun berdampingan, relasinya timpang, saling menundukkan. Pandemi seakan menyingkirkan kerohanian karena berurusan dengan fisik; ini saatnya sains berperan dan agama mesti tunduk pada sains.

Padahal, pada kenyataannya, sains sendiri muncul sebagai reaksi terhadap sikap fatal orang beragama. Sudahlah, kembali saja ke para perawat tadi: tak usah menjelaskan roti hidup, surga, pahala, hidup kekal, dan sebangsanya dengan aneka macam teori. Lihat saja bagaimana dalam berhadapan dengan bahaya itu dalam diri mereka ada harapan, kekuatan, keberanian, kreativitas, penghiburan, solidaritas, dan seterusnya. Itulah roti surga, pahala, hidup kekal.

Mereka bersemangat melayani bukan demi hidup kekal, melainkan karena hidup kekal. Yang pertama merujuk pada orang yang kehausan pahala cinta, yang kedua menggambarkan orang yang hidupnya digerakkan oleh cinta dalam diri mereka. Orang beriman senantiasa bergerak dari model pertama ke model kedua.
Tuhan, mohon rahmat kesadaran untuk menggeser orientasi pahala kami pada pengalaman cinta
-Mu. Amin.


RABU PASKA III
PW S. Katarina dari Siena
29 April 2020

Kis 8,1b-8
Yoh 6,35-40

Posting 2019: Kerohanian Sportif
Posting 2018: Sirene dan Strobo

Posting 2016: Roti Hidup vs Hati Korup

Posting 2015: Broken, Bright Life

Posting 2014: Awas Kekuatan Gelap!

2 replies

  1. “Please Lord, help me get one more”

    Dari renungan di atas rasanya ingin curcol,,

    Ada seorang pemuda taat dlm beragama dari amerika mau ikut perang (Dunia II) Desmond Doss namanya, tapi ia tak mau pegang senjata, saat latihan karena prinsipnya yang aneh (tidak mau membunuh), dia di bully di persekusi bahkan sempat di adili, singkat cerita dia ikut perang dan masuk dalam petugas medis, siapapun di tolongnya trmasuk musuh, semalaman (saat gencatan) ia berusaha mengevakuasi prajurit yg trluka, satu satu di bantu keluar dari medan perang utk mendapat pertolongan, sangat mencekam di tengah moncong senjata lawan yg siap menembak, terluka beberapa kali, tiap kali ia berhasil membawa prajurit yg terluka ia berkata “please lord, help me get one more” tiap kali berhasil membawa prajurit lainya, ia pasti berkata ” please lord help me get one more”, sampai pagi datang dan ia kelelahan.

    Teman saya, perawat yg bekerja di ruang isolasi pastilah mempunyai semangat yg sama, “Please Lord help me to cure patient one more”… mereka sangat bersemangat di tengah intaian covid19.. karena mereka beragama seperti Desmond Doss….

    Suwun

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s