Ritual Challenge

Ungkapan the medium is the message oleh kebanyakan orang disalahpahami sebagai relasi teknologi media dan content di dalamnya. Teknologi dianggap sebagai kendaraan teologi (anggaplah ilmu ketuhanan). Semakin teknologinya menarik, semakin teologinya bisa diterima. Itu gombal amoh.
Saya sebut saja contohnya: ritual challenge. Kalau Anda menantang saya untuk memakai bedak dan gincu dan mengunggahnya ke IG, mungkin saya mau menerimanya; tetapi kalau Anda memberikan challenge kepada saya untuk membawa rosario (tasbih Katolik) dan memberi berkat tanda salib lalu mengunggahnya ke IG atau medsos lainnya, saya pastikan sebelum Anda memberikannya: tidak akan saya terima.

Saya beri dua contoh the medium is the message: Alquran dan Yesus Kristus. Artinya apa? Alquran tidak lagi dimengerti sebagai kertas dengan tulisan Arab sebagai objek suci, tetapi sebagai Sabda Allah yang mengubah hidup orang yang memercayainya. Yesus Kristus tidak lagi dimengerti sebagai tokoh historis yang selesai hidupnya 2000 tahun lalu, tetapi sebagai Firman Allah yang memungkinkan perubahan hidup mereka yang percaya.

Akan tetapi, tak perlu penjelasan rohani mengapa bahkan orang beragama bertikai akibat perbedaan keyakinan itu. Marshall McLuhan sendiri mengatakan it is only too typical that the “content” of any medium blinds us to the character of the medium. Maksudnya apa? Pengertian medium direduksi sebagai teknologinya, alih-alih sebagai efek teknologi itu. Akibatnya, digambarkan dalam teks bacaan pertama, orang tak mau buka mata pada kenyataan bahwa ciptaan ini adalah medium Allah dan bagaimana kualitas hidup ini dibangun bergantung pada bagaimana orang menangkap medium itu. Kalau yang ditangkap kertas tulisan Arab dan Yesus historis semata, mereka yang beda tafsir ya jadi musuh, lawan, atau sekurang-kurangnya objek yang tak relevan bagi hidup seseorang.

Teks bacaan kedua mengingatkan orang pada kisah masa lalu ketika orang Israel di padang gurun mendapat roti yang jatuh dari langit. Mereka menangkap roti itu sebagai perpanjangan tangan Musa yang telah membuat hukum Taurat bagi tata kelola kehidupan mereka. Mereka lupa bahwa roti itu adalah medium Allah, bukan medium Musa. Maka, Stefanus mereka rajam justru karena ia meyakini Yesus Kristus sebagai medium Allah. Padahal, kalau mereka mau melek sedikit saja, mereka bisa melihat dampak the medium is the message itu: perubahan hidup apa yang dialami Stefanus. Begitu pula jika orang mengakui bahwa Alquran adalah medium Allah, orang berfokus pada bagaimana kertas bertulisan Arab yang dituturkan Nabi Muhammad itu memberi pencerahan dan perubahan hidup orang yang memercayainya, bukan pada kitabnya sendiri. Galfok seperti ini bisa menimpa ritual challenge jadi riyā’ (lihat posting Suara dari Pinggiran). Dalam problem riyā’ itu tersembunyilah kesesatan orang beragama: alih-alih terdorong mewujudkan relasi batiniahnya dengan Tuhan, orang memupuk kerinduan pada apa saja yang relevan untuk panca indranya.

Saya teringat adegan film The Robe, ketika Marcellus perwira Roma mempersoalkan pengikut Yesus Kristus yang ternyata tetap saja sakit, padahal ia mengklaim mengalami mukjizat. Jawaban perempuan itu menunjukkan makna the medium is the message. Mukjizat tidak terletak pada kesembuhannya, tetapi pada perubahan paradigma yang dipenuhi harapan, iman, dan cinta. Ia menjadi lebih happy, meskipun sakitnya tetap ada, justru karena ia boleh mempersaksikan kepada orang lainnya bahwa penderitaan atau kesulitan hidup tak bisa mempermiskin kegembiraan hidup orang beriman.

Saya mendoakan penderita Covid-19 dan para tenaga kesehatannya, semoga pandemi ini jadi momen yang baik untuk memberi kesaksian: bukan lagi kesaksian akan agama, melainkan kesaksian akan Allah yang penuh cinta dalam setiap titik nadir peziarahan hidup manusia. Amin.


SELASA PASKA III
28 April 2020

Kis 7,51-8,1a
Yoh 6,30-35

Posting 2019: Enjoy Your Life 2
Posting 2018: Makan Tuh Iman

Posting 2017: Bakar Bunga

Posting 2016: Roti Surga, Selai Neraka

Posting 2015: Tanda Tangan Allah

Posting 2014: Weak But Strong

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s