Orang Idiot

Ini cerita nyata mengenai orang idiot di sebuah sekolah menengah atas. Biasanya kepala sekolah memberikan pengumuman lewat sound system yang terdengar di seluruh penjuru ruangan di sekolah itu. Pada waktu itu sudah tayang di bioskop sebuah film yang diangkat dari novel Fyodor Dostoyevsky dengan judul The Idiot alias orang idiot. Kepala sekolah ini memiliki sejumlah tiket untuk menonton film itu dan ditawarkannyalah tiket itu kepada para guru, karyawan, dan murid-murid SMA-nya. Pengumumannya berbunyi begini,”Film berjudul Orang Idiot sudah mulai ditayangkan di bioskop dan saya memiliki cukup banyak tiket dari sutradaranya. Bagi para guru, karyawan, dan murid yang mau melihat orang idiot, silakan datang ke kamar saya.”
Dari seluruh penjuru ruangan terdengar tawa yang keras sekali. Mereka menertawakan orang idiot yang baru saja membuat pengumuman itu…

Wacana yang dimuat dalam teks bacaan kedua hari-hari ini sebetulnya bernasib sama dengan pengumuman di sekolah tadi: ditertawakan. Orang gila mana yang bilang bahwa hidup kekal cuma diperoleh dengan jadi kanibal terhadap dirinya? Orang gila itu bernama Yesus, yang mengatakan,”Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunya hidup kekal.”
Mari cermati pengumuman kepala sekolah tadi. Sebetulnya, para pendengarnya sudah mendapatkan konteks pengumumannya, yaitu bahwa film berjudul Orang Idiot sudah tayang di bioskop. Akan tetapi, karena kalimat berikutnya dilepaskan dari konteksnya, frase “melihat orang idiot” terasosiasikan dengan “melihat kepala sekolah yang idiot di kamarnya”. Karena itulah mereka tertawa terkekeh-kekeh.

Nasib Yesus lebih tragis. Ia tak cuma ditertawakan, tetapi ditolak, ditinggalkan, dan jadi bahan pertentangan. Sebetulnya, para pendengarnya tahu bahwa yang dimaksud Yesus tentu bukan kanibalisme, tetapi karena orang cuma berpikir secara materialistik, ungkapan Yesus itu akhirnya juga jadi sumber perbantahan. Salah satu perbantahannya disodorkan oleh seorang imam abad keempat bernama Arius, yang kemudian dilawan oleh wakil Gereja, seorang uskup bernama Atanasius, yang diperingati Gereja Katolik pada hari ini. Arius menyangkal keilahian Yesus. Di tengah-tengah perseteruan itu ada saja campur tangan politik penguasa yang punya kepentingan stabilitas negara. Memenangkan doktrin yang satu, mengalahkan yang lain.

Perseteruan itu tak berhenti pada abad keempat, tetapi saya tak ambil pusing dengan perseteruan itu karena percaya hidayah Allah menggapai setiap orang seturut disposisi batinnya masing-masing. Saya tak menyangkal keilahian Yesus justru karena percaya bahwa dalam diri setiap orang ada dimensi keilahian, yang tak harus bermuara pada paham Allah Tritunggal dalam kekristenan, misalnya.
Silakan simak saja video salah seorang senior saya yang sembuh dari Covid-19 setelah tiga minggu lebih dirawat di RS Kariadi, Semarang, pada tautan ini. Pada komentar video itu ditegaskan bahwa rasa kemanusiaan adalah bagian dari puncak tauhid, apa pun doktrin agamanya. Bukankah ini sesuatu yang ilahi? Bukankah Mbak Suniah yang bersyukur atas kesembuhan pasien yang didampinginya menunjukkan keilahiannya dengan memberi harapan kepada Pak Izak yang bergumul dengan Covid-19? Bukankah itu juga representasi “makan daging dan minum darah” Yesus?

Curcol: sudah sebulan lebih komunitas para suster tetangga kami yang biasa merayakan Ekaristi setiap pagi tak dapat melakukannya karena pelayanan misa dihentikan oleh Uskup. Saya bisa saja datang ke tempat mereka atau sebaliknya mereka bergabung dengan kami untuk misa harian dengan kaidah jaga jarak. Akan tetapi, kami taat pada Uskup. Para suster ini tidak rewel dan merengek-rengek ingin misa offline karena rindu. Yang mengherankan saya, malah ada umat yang berpikir untuk minta pelayanan misa; mungkin alasannya rindu itu. Saya tepok jidat sajalah mengingat pengumuman kepala sekolah tadi…

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat membuat hidup insani kami sebagai butir-butir keilahian-Mu. Amin.


SABTU PASKA III
Pw S. Athanasius
2 Mei 2020

Kis 9,31-42
Yoh 6,60-69

Posting 2019: Hidayah Kebebasan
Posting 2018: Maju atau Mundur Cantik? 

Posting 2017: Oh Terobos Busway Toh?

Posting 2016: Mau Bisnis Penyembuhan?
 
Posting 2014: To Whom Shall We Go?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s