True Friendship

Sewaktu SMP, saya pernah marah besar pada orang tua dan setelah menumpahkan kemarahan, saya benar-benar njothak alias mendiamkan mereka, sebagai wujud bahwa saya ngerti mekanisme defensif pasif-agresif [Asem tenan ik cah SMP wis ngerti pasif-agresif😁]. Itu bertahan sepuluh hari. Kegiatan di rumah ya seperti biasa, tetapi pokoknya saya tidak bicara sama sekali kepada mereka, bahkan sekadar untuk menjawab,”Mboh!”
Lha kenapa kok cuma bertahan sepuluh hari?
Lha ya saya butuh duit.🤭

Saya tahu bahwa kedua orang tua saya bermaksud baik, tetapi kali itu saya benar-benar marah besar karena mereka tidak memberi kepercayaan lantaran kekhawatiran dan ketakutan mereka sendiri. Setelah saya berpisah dari mereka, saya malah semakin melihat bagaimana mereka berusaha mencintai saya, termasuk dengan keterbatasan mereka. Begitulah, seperti dalam posting Mulai dari Fitrah: Trust and friendship is founded not in proximity, but precisely in the distance. Bisa dikopilah, kalau tak berjarak, orang malah tahu borok-borok orang lain dan tidak selalu mau menerima borok-borok itu, bukan?

Kalau itu cuma perkara receh mengenai hobi atau warna atau makanan favorit, kiranya tak sulitlah menyiapkannya. Orang tak sampai pada krisis kepercayaan, tak pula merasa dikhianati hanya karena selera orang lain berubah-ubah. Akan tetapi, kalau borok itu berkenaan dengan prinsip, orang perlu menimbang-nimbang untuk mengambil jarak. Dalam social distancing justru dimungkinkan secara objektif orang menangkap maksud baik orang lain tanpa terhalang borok-boroknya.

Teks bacaan hari ini menunjukkan dinamika relasi seperti itu. Bacaan pertama menunjukkan kerenggangan relasi vertikal karena orang malah membangun tugu-tugu berhala di antara mereka. Bacaan kedua mengisahkan apa konsekuensinya kalau relasi vertikal terbangun: para murid itu menyebar ke mana-mana untuk mewartakan kabar gembira dan pertobatan supaya semakin banyak lagi orang mengalami kedalaman relasi vertikal tadi. Rupanya, semakin relasi vertikal mendalam, semakin relasi horisontal tertata. Sebaliknya, relasi horisontal tak menjamin relasi vertikal. Komunitas yang dibangun Guru dari Nazareth tidak dimaksudkan untuk sekadar membangun keakraban dan kehangatan dalam kelompok sendiri, melainkan membangun kesaksian kolektif.

Apa maksudnya kesaksian kolektif? Bisa bermacam-macam, tetapi pokoknya ini bukan perkara mencari panggung atau aktualisasi diri, melainkan aktualisasi AMDG. Kadang kala saya dengar ungkapan pemuka agama yang menutup ceramahnya dengan mengatakan bahwa kebenaran milik Allah semata dan kesalahan dan keterbatasan ada di pundaknya. Sekurang-kurangnya itu bisa jadi permulaan untuk bersama orang lain mencari wajah Allah dalam hidup yang serba biasa, dan tidak memonopoli kebenaran dalam keterbatasan perspektifnya sendiri.

Begitu pula halnya jika agama diletakkan secara proporsional: kebenaran adalah milik Allah semata dan keterbatasan ada pada setiap agama. Maka dari itu, memuliakan agama sendiri malah kontraproduktif. Sebaliknya, komunitas agama apa pun sudah sewajarnya memuliakan kehidupan dan kemanusiaan dengan landasan relasi vertikal yang dibangun dengan cara hidup masing-masing supaya Kerajaan Allah sungguh nyata, supaya nilai-nilai agama (bukan dimensi formal-legal-ritualnya yang mendistingsi agama satu dari yang lainnya) sungguh menjadi rahmat semesta. Ngeri kan kalau agama malah bikin tata cara diskriminatif?

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk membangun kedalaman relasi dengan-Mu dan keluasan hati bagi sesama. Amin.


RABU BIASA XIV A/2
8 Juli 2020

Hos 10,1-3.7-8.12
Mat 10,1-7

Rabu Biasa XIV B/2 2018: Bebas Bersyarat?
Rabu Biasa XIV C/2 2016: Mulai dari Fitrah
Rabu Biasa XIV A/2 2014: Dua Jenis Golput

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s