Truth will find you

Mungkin lebih mudah bagi Allah mempertobatkan pendosa daripada orang yang tak melihat dirinya sebagai pendosa atau yang memandang dirinya sebagai hakim atas hidup ini, entah dengan pengetahuan atau keyakinan yang dipupuknya sendiri. Yunus, yang diminta Tuhan memberi peringatan kepada bangsa Niniwe, berkeluh kesah dan maunya Tuhan menghancurkan bangsa itu, tak usah kasih perpanjangan waktu. Mungkin Anda dan saya seperti Yunus, yang menciptakan batas kesabaran dan gemar dengan kata toleransi. [Eh gak ding, saya tak suka kata toleransi. Pernah saya singgung pada posting Tole Lan Si Plet.] Tak ada toleransi untuk bangsa, suku, orang yang hidup dari kedosaan demi kedosaan.

Saya teringat adegan film ketika Augustinus, seorang filsuf pencari kebenaran, mendebat Ambrosius yang menghadap Kaisar dan mengamati bahwa di hadapannya ada beberapa kelompok orang yang semuanya mencari kebenaran. Ini mestinya bikin orang bertanya-tanya di mana kebenaran itu, kebenaran versi mana, versi siapa. Kalau semua mengklaim benar, njuk mana yang betul-betul benar, bukan?
Augustinus menyodorkan kemungkinan lain: gimana kalo klaim kebenaran itu, entah yang diklaim kelompok Manicheanisme, Mitra, Arianisme, Kristianisme, ateisme itu salah? Gimana kalo orang tak bisa menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Ambrosius berpaling pada Augustinus,”Memang betul, Augustinus. Orang tidak menemukan Kebenaran. Orang cuma perlu membiarkan Kebenaran menemukan dirinya.”
Itulah yang muncul dalam benak saya ketika membaca teks hari ini. Ceritanya para pemuka agama kesal sekali karena Guru dari Nazareth bergaul dengan para pendosa, dan disodorkanlah cerita bagaimana Allah sangat bergembira jika ada pendosa yang bertobat daripada mereka yang hidup taat beragama tetapi malah diskriminatif: terhadap pendosa, terhadap agama lain, terhadap lawan, dan seterusnya. Tendensi Allah ialah mencari pendosa supaya bertobat.

Akan tetapi, ini pasti bukan seperti dirham atau domba yang dicari perempuan dan gembala dalam perumpamaan hari ini. Dirham dan domba yang hilang itu teronggok di tempat tertentu dan pemiliknya ke sana kemari mencarinya. Dirham dan domba itu tak bisa dari dirinya sendiri mencari tuannya. Begitulah halnya Kebenaran yang dimaksudkan Ambrosius: orang tak bisa menemukannya, tetapi bisa membiarkan Kebenaran itu menemukan dirinya.
Kok isa Kebenaran mencari dan menemukan orang?
Karena Kebenaran bukanlah ideologi (agama, kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan lain sebaginya), melainkan pribadi. 

Dengan demikian, kalau orang membiarkan Kebenaran menemukan dirinya, ia tidak bersikap pasif seperti dirham dan domba tadi. Akan tetapi, ia juga tidak bisa berlagak aktif seperti para pencari kebenaran yang mengandalkan dirinya sendiri, entah dengan sains atau dengan falsafah lain. Membiarkan Kebenaran menemukan dirinya berarti, saya meminjam istilah Anthony de Mello, menanggalkan keyakinan-keyakinan semu, yang pada umumnya lebay, kalau bukan ekstrem.
“Kamulah kebahagiaanku.” “Kamulah satu-satunya.” “Tak bisa hidup tanpa kamu.” Tentu “kamu” bisa dilekatkan pada benda konkret atau benda abstrak, dari bulgogi sampai ideologi.

Kalau begitu, orang bisa hidup tanpa Tuhan dong, Rom?
O bisa banget, kalau Tuhannya adalah ideologi.
Allah yang adalah pribadi itu rupanya menghendaki umat-Nya melakukan pertobatan terus-menerus, menanggalkan aneka keyakinan ideologis yang tak membawa hidup langgeng.

Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan untuk menanggalkan kepalsuan hidup kami. Amin.


KAMIS BIASA XXXI B/2
5 November 2020

Fil 3,3-8a
Luk 15,1-10

Kamis Biasa XXXI B/2 2018: You Are Precious
Kamis Biasa XXXI C/2 2016: Muter-muter Yuk

Kamis Biasa XXXI A/2 2014: Untung Rugi, Aku Tahu

2 replies

  1. OMG, rm yg baik🤭ini kayaknya ekstrim deh. Bs jd ujungnya berakhir pd paradoksal, atau bahkan menjd jalan tak berujung. Dlm kehdpn sosial dn masy atau keluarga bisa jd tdk bs menerapkan itu, atau sgt rumit/complicated (bukan sulit), kec balik pd hidup selaras dg alam dn menyepi/menyendiri. Tp itu pun kurang sehat (false belief? Hihi.. ) Apa yg belief dan apa yg Truth juga kdg rancu (hape ku sampai terpelanting jatuh saking rumet alias rumit dn mumet🥺) jd bgmn kalau aku menawarkan jembatannya saja, rasionalitas? Wahaha..

    Like

    • Rasionalitas sendiri, tanpa yang tadi Kak Indi sebut ekstrem itu, jatuhnya nanti ke ideologi. Memang detachment itu butuh tafsir dan latihan juga. Kalau tidak, orang tak bisa lagi membedakan antara komitmen dan attachment. Orang hidup berkeluarga sebetulnya basisnya adalah komitmen, bukan attachment.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s