Kritik

Konon begini curhatan Hélder Pessoa Câmara, seorang uskup di Brazil pada abad lalu: kalau saya membantu orang-orang miskin, mereka mengatakan saya seorang santo, tetapi kalau saya bertanya mengapa orang-orang ini miskin, mereka menyebut saya seorang komunis.
Saya kira itu dikatakannya pada saat rezim militer berkuasa, rezim yang kekuasaannya sangat rentan kekerasan persis karena punya senjata. Kalau Anda berdialog dengan orang yang punya hak untuk menggunakan senjata, secara psikologis Anda sudah dalam posisi inferior. Dalam posisi seperti itu, jika tidak takut, Anda perlu berdialog dengan harapan dan doa supaya yang punya legitimasi menggunakan kekerasan itu bertindak seturut prosedur yang menaruh hormat pada hak azasi manusia. Jika harapan dan doa Anda itu tulus, Anda tak perlu melawan aparat negara dengan kekerasan; bahkan, Anda jangan lari kalau memang yakin tak melakukan kesalahan.

Terhadap kasus penembakan yang hari-hari ini menjadi topik pembicaraan media, saya sungguh berharap supaya aparatus negara menjalankan fungsinya secara jujur, bahkan kalau mesti menindak mereka yang menggunakan kekerasan. Saya tidak ingin preseden pendekatan keamanan pada masa Orde Baru terjadi lagi: nyawa manusia melayang tanpa momen sedikit pun baginya untuk melihat kemungkinan pertobatan. Ini pertanyaan bodoh saya: apakah aparat keamanan itu dibekali suatu produk teknologi eksklusif yang bisa melumpuhkan orang lain tanpa menghabisi nyawanya? 

Pertanyaan itu tidak saya maksudkan sebagai ketidaksetujuan saya terhadap tindakan tegas aparat terhadap mereka yang jelas-jelas melawan hukum dan membahayakan keamanan bersama. Sebaliknya, saya sangat mendukung tindakan tegas itu. Akan tetapi, ketegasan itu senantiasa terbuka pada evaluasi demi kinerja yang lebih profesional. Salah satu parameternya ialah penghargaan hak azasi manusia. Kalau tidak, tindakan tegas tadi secara prinsip tidak berbeda dari perbuatan para pelaku kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
Kelamaan, Rom, terhadap orang yang tak menghargai HAM, tak usah pula menerapkan kaidah HAM! Terhadap mereka yang intoleran, kita juga mesti intoleran, karena kalau kita toleran, berarti malah membiarkan intoleransi mereka!

Betul, itulah logika verbal. Masalahnya ialah bahwa misteri hidup dan kemanusiaan tidak terurai hanya dengan logika verbal.
Haiya, maka dari itu, Rom, tak cukup logika verbal, tinggal dor saja, selesai!
No comment deh.

Teks bacaan hari ini menguak tendensi kekuasaan yang emoh dikritik, termasuk kekuasaan dalam agama juga. Orang bisa sedemikian konservatif sehingga setiap upaya pembaharuan selalu dikategorikan sebagai ketidakmurnian. Orang bisa sedemikian anarkis sehingga setiap upaya penataan dianggap konservatif, dan sebagainya. Setiap orang punya tendensi untuk emoh perubahan karena sudah merasa nyaman.

Tuhan, mohon kebijaksanaan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan hidup baru seturut Kerajaan cinta-Mu. Amin.


JUMAT ADVEN II
11 Desember 2020

Yes 48,17-19
Mat 11,16-19

Posting 2019: Salah Obat?
Posting 2018: Resonansi Agama

Posting 2017: Lipstick Mana Lipstick
Posting 2016: Pelahap Neraka
Posting 2015: Kebal Kritik, Bebal mBribik

Posting 2014: Pernah Patah Hati Gak Sih?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s