God be with you

Konon pada abad ke-5 Masehi, ketika hidup kepertapaan Kristen berkembang di wilayah Mesir dan Palestina, ada seorang pertapa yang menulis kira-kira begini: Don’t mind what you prefer, but be careful what God wants from you. Whatever you do, have God in front of you and be sure of his salvation.
Nasihat itu melegakan, bahkan meskipun menantang. Menantangnya di mana? Pada momen ketika orang sungguh ngeh dengan apa yang Tuhan inginkan darinya. Ini sama sekali bukan perkara gampang karena pada dasarnya orang punya motif campuran dalam dirinya. Kerap kali yang campuran itu malah yang menentukan preferensi pilihan orang daripada apa yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah darinya.
Melegakannya? Ya kalau tantangan itu ditanggapi secara positif dan dan orang ngerti apa arti keselamatan, mestilah hidupnya dipenuhi kelegaan. 

Teks bacaan hari ini menarasikan bagaimana proses kelahiran Yesus seturut penuturan penulis Injil Matius. Saya tidak hendak bertele-tele dengan doktrin identitas Yesus ini, yang sifatnya take it or leave it, tetapi fokus saya ada pada substansi di balik narasi kelahiran Yesus ini: Allah menyertai kita. Kembali ke perkataan pertapa Abba Isaiah of Scetis tadi, tak perlulah Anda berpusing ria dengan apa yang Anda take it or leave it. Yang penting Anda waspada akan apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah dari hidup Anda dan Anda hidup dalam kesadaran bahwa Allah menyertai Anda.

Kalau dua hal itu dihidupi, orang sungguh tak punya alasan dan memang tak butuh alasan untuk takut akan apa pun sebagai konsekuensi pilihan-pilihannya, termasuk jika kehendak Allah itu (justru) mengganggu kenyamanannya. (Mohon tidak dibalik: orang yang tak takut apa pun tidak berarti hidupnya memang sumèlèh, bisa jadi cuma nekat dan membahayakan hidup sesamanya.) Kalau hidup orang dipenuhi ketakutan, itu indikasi kuat bahwa ia tak menghayati ungkapan Abba Isaiah of Scetis tadi. Bahkan jika rencana kegiatannya amburadul, ia bisa menjadikan keambyaran itu untuk semakin bertekun mencari apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah, termasuk dengan dialog atau pembicaraan dengan pihak lain.

Titip komen ya: kemarin sewaktu dengar presiden mengumumkan vaksinasi gratis, saya terkejut. Bukan karena takut, melainkan karena pasti ada banyak rencana orang yang luput karena anggarannya bakal dicatut. Semoga aman. Saya sih seperti mbilung, maunya tak usah pakai vaksin dan tetap sehat.🤭

Tuhan, mohon rahmat kebebasan sebagai anak-anak-Mu supaya ketakutan tak menghambat langkah kami karena kami percaya bahwa tak ada momen hidup kami yang berada di luar jangkauan cinta-Mu. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
18 Desember 2019, Rabu

Yer 23,5-8
Mat 1,18-24

Posting 2019: Berkawan dengan Disrupsi
Posting 2018: Keluhuran Islam

Posting 2017: Siyap, Bos!

Posting 2015: Mana Komitmennya?
 
Posting 2014: Terlanjur Married

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s