Asa Terakhir?

Ini bacaan mengenai lansia tetapi mungkin baik bagi yang umurnya belum lewat kepala empat. Kalau Anda mau membayangkannya silakan, kalau tidak punya bayangan juga tak apa-apa, mungkin Anda hidup dalam kegelapan.😁
Suami istri umurnya sudah lanjut, tanpa anak, sang istri mandul. Benar-benar tiada harapan. Sang suami, Zakharia, adalah seorang imam yang bertugas di bait Allah. Apa yang mereka harapkan ketika kemungkinan untuk mendapatkan anak itu tertutup selain menutup usia dengan tenang dan tidak dihantui rasa bersalah atau mungkin rasa malu? 
Apakah nasib seperti itu eksklusif milik pasangan lansia yang tak punya anak?

Rasanya gak juga. Tak sedikit pasangan yang keturunannya seperti bintang di laut dan pasir di langit itu mengalami putus harapan: anak-anaknya yang tercerai berai entah ke mana, cucu-cucunya yang tak suka berkunjung, tetangganya yang lansia satu per satu hilang dari peredaran, dan seterusnya. Nasib tragis ini tidak pertama-tama disebabkan karena kemandulan, ketiadaan anak, tetapi karena harapan yang ditumpukan pada kefanaan itu. Pada hidup senja Zakharia dan Elisabet, Allah melakukan disrupsi supaya mereka mengembalikan harapan kepada Allah sendiri.

Tentu saja, Zakharia dan Elisabet, sebagaimana Anda dan saya, berpikir bahwa tak mungkinlah orang mandul bisa hamil. Dengan modal itu pula Zakharia berhadapan dengan warta dari Allah. Those who do not listen cannot even speak. Tentu saja, mendengarkan di sini maksudnya bukan perkara kinerja indra telinga, melainkan kinerja akal budi di hadapan Allah. Karena akal budi tersusupi keputusasaan, pendengaran pun terfilter, dan Zakharia tak mampu berkata-kata. Ini ekstrem lain dari mereka yang mampu berkata-kata dengan perbendaharaan bahasa yang kaya, tetapi semua hanya flatus vocis, bunyi-bunyi yang beberapa hari lalu saya bahas sebagai noise, label yang tak terkoneksi dengan kenyataan hidup.

Cinta Allah mengatasi kemandulan dan akal budi yang terkungkung oleh dunia kefanaan. Pada cinta itulah harapan pantas ditumpukan, entah orang melanjutkan usianya atau tidak. Sayangnya, tak sedikit orang beragama yang berpikiran untuk menumpukan harapan pada kefanaan (rebutan kekuasaan, nama besar, ekshibisi, dll), kalau mentok barulah berharap kepada Allah. Akan tetapi, itu adalah cara berpikir linear yang menempatkan Allah sebagai penutup lubang (bahkan meskipun yang menggali ya manusianya sendiri).

Tuhan, mohon rahmat supaya kami senantiasa dapat menaruh harapan pada cinta-Mu sendiri alih-alih ribut dengan aneka setting kehidupan yang tertambat pada kefanaan. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
19 Desember 2020, Sabtu

Hak 13,2-7.24-25a
Luk 1,5-25

Posting 2019: Iman Meragukan
Posting 2018: Jalan Berpikir

Posting 2017: Dasar Majenun

Posting 2016: Sahabat Syaiton

Posting 2015: Imam Dukun
 
Posting 2014: Tong Kosong BerbuNyi NyiNyiR