Centro

Anda yang gemar berbelanja di mal tentu pernah mendengar kata centro dan kiranya tahu bahwa itu berarti pusat. Menariknya, pusat itu tidak tunggal; sekarang di mana-mana ada pusat. Pusat oleh-oleh, pusat servis komputer, pusat belanja, pusat komunikasi, dan sebagainya. Ada tendensi orang untuk menjadi pusat, bahkan jika tidak memakai kata centro. Kemarin saya sarapan di suatu warung yang pada papan namanya terpampang tulisan besar: tidak buka cabang!

Dengan begitu, menjadi jelas bahwa tendensi orang untuk menjadi pusat justru membuat pusat tidak lagi cuma satu. Tak mengherankan, jika semua orang berkeyakinan bahwa agama yang benar itu cuma satu, jamaklah agama yang benar itu. Alhasil, kebenarannya jadi relatif terhadap penganutnya sendiri (lha ya mana ada orang menganut agama yang diyakininya salah?), bukan terhadap Kebenaran yang dimaksudkan. Jika orang beragama sungguh hendak merujuk pada Kebenaran yang sesungguhnya, ironisnya, ia perlu menégasi ideologinya sendiri. Ini agak sedikit rumit, tetapi mungkin sosok yang dibahas dalam teks bacaan hari ini bisa membantu.

Yohanes tentu saja menghendaki pengikutnya bertobat dan berbalik kepada Allah, pusat hidup yang sesungguhnya. Akan tetapi, ada tendensi dari para pengikutnya bahwa pusat hidup atau sosok yang bisa menghubungkan mereka pada pusat hidup itu adalah Yohanes, sehingga mereka menyebutnya Mesias. Yohanes menyangkalnya dan menunjuk sosok liyan. Dia sendiri juga rupanya tak punya keyakinan seratus persen terhadap siapa sosok liyan itu. Pokoknya, bukan dirinya!

Disposisi batin seperti ini tidak perlu dimaknai sebagai perendahan diri, tetapi sebagai pengakuan bahwa dari dirinya sendiri orang tidak dapat berelasi dengan Pusat Kehidupan. Ini bukan perkara pengetahuan mengenai sains, melainkan misteri hidup yang mengandaikan keterlibatan setiap orang untuk menguak lapis kehidupan lain yang dapat membantu orang sampai pada Pusat Kehidupan. Jalan keterlibatan itu tidak dikarpeti klaim diri sendiri sebagai pusat kebenaran, tetapi dengan mencari liyan sebagai partner untuk menemukan kebenaran sesungguhnya.

Ya Allah, mohon rahmat keterbukaan hati dan budi untuk membiarkan cinta-Mu sebagai pusat hidup kami. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Peringatan Wajib S. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze
Sabtu, 2 Januari 2021

1Yoh 2,22-28
Yoh 1,19-28

Posting 2019: Tahu Diri
Posting 2018: Manete in me

Posting 2017: Akulah Kebenaran?

Posting 2016: Mana Suaranya?
Posting 2015: Mau Menyuarakan Apa atau Siapakah?

1 reply

  1. 😂😂😂🤭mantep, Rm. Mambaca blog ini beneran waktu menjd ilusi. Yeah kl terkait Tuhan, mmg Tuhan melampaui batas dimensi semesta. Wl Augustine dari Hippo pernah menyebutkn, Tuhan berada di luar wkt, waktu hanya ada di dlm alam semesta yg diciptakan. 😁dinisbikan di blog ini🤣 asik jg melihat kelanjutan percepatan dn kecepatan di sini, krn variabel waktu (t) dlm dimensi di sini menjd 4 dimensi.🤣🤣🤣 Tp sdh tahun baru kan, Rm. Selamat Tahun Baru, sukses, sehat, dan bahagia selalu. Amin (doa 4 dimensi)

    Like