Shelter Ihsan

Barangkali pada masa susah mendapatkan pekerjaan seperti sekarang ini, orang baru memperhatikan makna kerja; meskipun mungkin pemaknaannya bisa dangkal juga: cuma demi sesuap nasi atau sebongkah berlian.
Ini kelakar Uskup saya, dan sungguh-sungguh saya terima sebagai kelakar karena memang Uskup saya ini pakarnya kelakar. Dalam suatu pertemuan dengan sekitar 150 anggota tarekat saya, ketika seluruh atensi sungguh kami berikan pada beliau, keluarlah ungkapan yang mengejutkan kami. “Saya sangat menyesal diminta jadi uskup,” begitu kata beliau, dan ketika kami menunggu alasannya, beliau melanjutkan pernyataannya,”Kenapa kok tidak dari dulu ya. Soalnya ternyata jadi uskup itu enak.” Saya kira, 9,5 dari 10 yang hadir saat itu tertawa terbahak-bahak sampai kaca ruang pertemuan hampir pecah. 

Tentu saja, de gustibus non disputandum est, enak atau tidak itu perkara selera. Pun kalau enak, saya sama sekali tidak berminat jadi uskup [sapa juga yang bakal milih kamu, Rom?🤣].
Yang hendak saya soroti bukan perkara enak tidaknya jadi apa, melainkan soal “ternyata” alias “jebulnya” yang baru disadari Uskup setelah beliau jadi uskup. Inilah yang saya pakai untuk memetik pesan teks hari ini, perumpamaan yang tentu Anda sudah akrab. Kalau belum ya silakan baca teksnya di sini.

Alih-alih bersyukur bahwa boleh kerja dari pagi sampai sore, para pekerja itu malah tidak puas karena majikan mereka memberi orang yang kerja belakangan upah yang sama dengan mereka. Jelas, bukan, di mana fokus perhatian mereka? Pada upah!
Ya jelaslah, Rom, gimana mau fokus ke kerja wong mesti berpanas-panas, berkeringat, kerja keras, dan seterusnya! Gada enak-enaknya!
Mosok mesti diulangi lagi: de gustibus non disputandum?

Barangkali, kalau diaplikasikan pada olimpiade kemarin: lebih indahlah berpartisipasi di dalamnya daripada sekadar menang kalah dalam pertandingan. [Ya tapi lebih indah lagi berpartisipasi dan menang, Rom😅. Ya wis sakkarepmu deh]
Lalu teringatlah saya pada konsep ihsan dalam Islam. Konsep ini tak terpahami oleh orang yang beragama dengan mengandalkan mentalitas buruh harian tadi karena fokus perhatian ihsan tidak lagi terletak pada keribetan, kerepotan, atau ketidakenakan beragama. Orang yang beragama dalam tataran ini menjalankan ibadahnya (yang tidak sekerdil ritual saleh) seakan-akan dalam keadaan dapat memandang Allah secara langsung; atau, apesnya, ia sadar bahwa ibadahnya dilihat oleh Sang Khalik.

Saya mengingat Santo Alberto Hurtado, yang kiranya hidup dalam tataran ihsan ini; seorang imam biasa, memberi pendampingan rohani kepada orang banyak, tetapi juga membaktikan hidupnya untuk membantu orang-orang miskin secara konkret dengan shelter yang didirikannya. Dalam diri orang-orang miskin itu ia melihat “Kristus tanpa rumah”, yang seakan-akan berteriak menggedor hatinya untuk berbuat sesuatu. Oleh seorang kawan jauh, Santo Alberto Hurtado ini disebut sebagai pelindung mereka yang multitasking. Saya kira bukan karena banyaknya pekerjaan yang ditanganinya, melainkan karena keakrabannya dengan Allah membuat banyak pekerjaan baginya.

Tuhan, mohon rahmat kepekaan untuk menangkap panggilan-Mu dalam diri sesama kami yang tersingkir. Amin.


RABU BIASA XX B/1
Peringatan Santo Alberto Hurtado (SJ)
18 Agustus 2021

Hak 9,6-15
Mat 20,1-16a

Rabu Biasa XX C/1 2019: Allah Luwèh?
Rabu Biasa XX B/2 2018: Sirik Aja Lu
Rabu Biasa XX A/1 2017: Ayo Ngguyu
Rabu Biasa XX B/1 2015: Apa Upahnya Kerja?

Rabu Biasa XX A/2 2014: Just Do What You Do!