Kalau Anda tidak tahu Tessera atau Catena Legionis, misalnya, ya tidak apa-apa; bukan salah bunda mengandung. Tidak akan ada orang yang menyalahkan Anda hanya karena Anda tidak ikut Legio Mariae. Anda baru akan dipersalahkan jika sudah tak join Legio Maria, masih pula Anda meletakkan jahe untuk topping sushi atau mendidihkan air tapi dengan menaruh sendok atau centong kayu di dalamnya. Pokoknya, kalau Anda tidak bergabung dengan Legio Maria, tidak apa-apa. Kalau bergabung, mungkin lebih baik lagi. Saya sendiri sudah pensiun (padahal tidak ada tuh istilah pensiun, wekaweka).
Akan tetapi, saya tidak akan pernah melupakan kidung Maria yang dibacakan pada hari ini sebagai bagian perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (yang mestinya sih tanggal 15 Agustus). Ayat ini yang sejak pertama kali saya ucapkan menimbulkan reaksi gimana gitu dalam diri saya: Orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari tahta, yang hina dina diangkat-Nya.
Dulu saya berpikirnya begini: apakah itu maksudnya Soeharto akan diturunkan dari tahta, lalu ada orang hina dina diangkat-Nya? Klausa pertama memang jadi kenyataan sih beberapa tahun kemudian, tetapi siapakah orang hina dina itu? Mosok si anu?
Saya perkenalkan istilah dari langit: eschatological reversal. Gampangannya, ya seperti saya pikirkan dulu itu: ada masanya penguasa akan diturunkan, diganti orang yang hina dina. Jadi, diktator itu tak akan kekal selamanya. Dia akan digantikan oleh orang yang semula hina dina tak ternama, dan kemudian orang ini juga akan jadi diktator, menindas rezim sebelumnya yang tangan-tangan guritanya sudah menjalar ke mana-mana. Nanti kelak suatu ketika di masa datang sebelum kiamat, mereka yang tertindas ini akan mengambil alih kekuasaan lagi dan lagi-lagi menindas keluarga rezim sebelumnya. Begitu seterusnya.
Apakah Kidung Maria menyodorkan tafsir eschatological reversal ini?
Ganz und gar nicht! Dua bersaudara yang dikandung dua bersaudari dalam teks bacaan hari ini pada usia produktif mereka memang jadi tokoh politik juga, tetapi tak satu pun dari mereka berambisi jadi pimpinan parpol untuk diusung jadi capres! Jijay. Mereka cukup tahu diri, meskipun belum tua. Kalau saja mereka nekat mencapreskan diri, pasti saya kirimi posting Mbok Sudahlah, Wo’ itu.
Narasi yang memuat Kidung Maria ini menyinggung soal pembebasan, bukan dalam konteks ganti personalia. Sewaktu Yohanes Pembaptis mengkritik keras Herodes yang berselingkuh, ini bukan perkara menyentil moral individual Herodes belaka, melainkan soal mental yang hendak ditancapkan Herodes di tanah Palestina. Yesus melanjutkan kritik itu dengan aneka cara yang merongrong kuasa nan korup. Yang dilawannya bukan kuasa, melainkan korupnya kuasa.
Kalau begitu, bisakah perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dimaknai sebagai momen pembebasan manusia dari korupnya kekuasaan? Ya tesseralaaaa…..
Tuhan, mohon rahmat transparansi supaya tendensi korup dalam hidup kami tidak memperbudak tindak-tanduk kami dan sesama. Amin.
HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
(Hari Minggu Biasa XIX A/1)
13 Agustus 2023
Why 11,19;12,1.3-6.10
1Kor 15,20-26
Luk 1,39-56
Posting 2020: Ndherek Langkung
Posting 2019: Belajar dari Jin Salib
Posting 2018: Ditinggal Malah Senang?
Posting 2017: Maria adalah Kita
Posting 2016: Ngimpi Doa
Posting 2015: Kavling Badan di Surga
Posting 2014: Tolong Doa’in Prabowo Dong
