Natal di Gereja Timur jatuh pada hari ini, yang oleh Gereja Barat alias Katolik Roma dirayakan sebagai hari Penampakan Tuhan. Dua-duanya menampakkan Tuhan, dan Tuhan tak pernah bisa jadi semata objek pikiran manusia. Menurut kebiasaan berpikir Timur Tengah, untuk berhadapan dengan Tuhan, manusia butuh kelindan tiga modal penting: tradisi agama, sains, dan intuisi batin. Dalam dunia pengetahuan Islam, tiga modal itu diistilahkan dengan bayani, burhani, dan irfani.
Mari kita tilik praktik ibadat Gereja Katolik sebagai aplikasinya. Kalau Anda mengikuti misa Gereja Katolik dalam bahasa Italia, di penghujung ibadat itu akan Anda dengar salam pengutusan yang berbunyi Andate in pace atau bisa juga andiamo in pace, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia jadi pergilah [kalian] dalam damai atau marilah kita pergi dalam damai. Ini adalah rumusan yang dibikin oleh para ahli liturgi dengan aneka studi terhadap Kitab Suci dan Tradisi. Anda tinggal terima jadi aja. Begitulah kira-kira pendekatan bayani.
Sekarang mari kita cermati relevansi rumusan itu untuk Anda. Apakah “pergilah dalam damai” itu menunjukkan keadaan damai dalam hati Anda? Bisa ya, bisa tidak. Mungkin dibutuhkan stetoskop atau alat lain yang bisa mendeteksi apakah detak jantung dan pikiran Anda klop dengan damai atau tidak. Ini adalah ranah pendekatan burhani. Anda mesti terima faktanya; bisa jadi Anda merasa damai, tetapi ketika teringat sosok yang menghantui Anda, detak jantung Anda tak beraturan. Akan tetapi, entah keadaan Anda damai atau tidak, pendekatan bayani menegaskan bahwa Anda mesti mewartakan damai Tuhan, bukan damai Anda.
Bagaimana damai Tuhan bisa kita wartakan padahal kita sendiri tidak dalam keadaan damai? Imposebel, kan? Logikanya begitu, kan sudah saya bilang: nemo dat quod non habet. Akan tetapi, damai Tuhan itu sendiri juga tidak bisa dijadikan objek pikiran semata. Lagi-lagi, butuh tiga modal tadi. Nah, sekarang kita perlu lihat cerita hari ini untuk melihat pendekatan terakhir.
Pendekatan irfani itu kelihatan dalam teks yang menyatakan bahwa setelah diperingatkan dalam mimpi, tiga orang majus itu tak kembali lagi kepada Herodes. Mimpi bisa jadi medium bagi intuisi batin. Agak paradoks memang. Intuisi justru merupakan pengetahuan yang tak butuh medium, tetapi bisa saja mimpi jadi pemantik intuisi orang. Apakah intuisi itu bebas dari pendekatan bayani dan burhani? Tidak juga.
Mana ada orang yang berkuasa akan menyembah pihak yang mereka harapkan menyembah dirinya? Omong kosonglah Herodes minta info kepada tiga orang bijak itu supaya dia bisa menyembah bayi. Ini terkonfirmasi oleh kisah lanjutannya bahwa kemudian Herodes membunuh semua bayi. Syukurlah, tiga orang bijak itu punya intuisi.
Kembali lagi ke “pergilah dalam damai” tadi, jebulnya damai itu bukan objek keadaan hati damai yang mesti kita bawa dan bagi-bagikan ke orang lain. Dengan begitu, orang yang tidak damai tak akan berkutik, gak mungkin membawa damai bahkan sepulang ibadat! Kenyataannya tidak begitu. Damai itu dicari dan dibangun dalam perjumpaan terus menerus. Butuh tradisi, butuh sains, butuh intuisi. Tiga orang bijak itu mencontohkannya: mereka cari info, tanya sana-sini, dan akhirnya berjumpa dengan Sang Damai. Damai Tuhan tak identik dengan adem ayem, bisa saja konflik. Tiga orang bijak itu menemukan damai dalam konflik. Kok bisa ya?
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk menampakkan damai-Mu dalam pergumulan hidup kami. Amin.
HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Hari Anak Misioner Sedunia
Minggu, 7 Januari 2024
Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a,5-6
Mat 2,1-12
Posting 2023: Meraih Bintang
Posting 2022: Cerita Fani
Posting 2021: Orientasi
Posting 2020: Kapan Terangnya?
Posting 2019: Terancam
Posting 2018: Hidayah AMDG
Posting 2017: Bintangku Bintangmu
Posting 2016: Museum Allah
Posting 2015: Pesta Para Pencari Tuhan
