Meraih Bintang

Anda masih ingat cerita tentang kucing yang harus diikat selama ibadat malam di suatu biara. Kalau sudah lupa, silakan lihat pada posting Kucing Anjing Kelinci. Cerita kecil itu saya pakai untuk menangkap pesan hari ini. Mungkin paralel dengan kisah itu adalah kenyataan bagaimana seorang ibu memberi makan kepada anak balitanya. Saya tidak ingat pasti, tetapi tampaknya saya dulu pernah diberi makan oleh ibu saya setelah makanan itu dikunyahkan ibu saya. Tak ingat lagi rasanya, tetapi yang pasti sekarang saya tak mau lagi diberi makan makanan yang sudah dikunyah orang lain dulu. Itu mesti ketambahan bumbu enzim liur berjuta rasa gak enaknya.

Pada kenyataannya, saya yakin, jauh lebih banyak orang yang hidup keagamaannya dikunyahkan orang lain daripada mengunyahnya sendiri. Setelah puluhan tahun, saya baru ngeh bahwa institusi agama, apa pun namanya, punya tendensi membela status quo; persis seperti direpresentasikan oleh Herodes dalam cerita hari ini: Semua baik-baik saja di bawah kepemimpinanku, jadi jangan sampai ada orang lain yang merenggut posisiku! Status quo tidak selalu buruk juga sih, tapi kalau berkutat di situ terus, tak ada transformasi, hidup kagak rame, malah bisa jadi eksklusif. Padahal, kisah tiga raja dari Timur hari ini sewajarnya ditangkap sebagai wawasan bahwa keselamatan, juga yang ditawarkan agama, itu pastinya berlaku bagi semua atau siapa saja.

Apa boleh buat, eksklusivisme itu muncul juga karena perkara kunyah mengunyah tadi. Semakin besar, anak tidak akan mau dikunyahkan orang lain untuk memakan menu favoritnya; lha wong kenikmatan makanan itu justru di mulut je. Akan tetapi, balik lagi, tidak berarti semakin umur bertambah, semakin orang mengunyah agamanya sendiri. “Sudah, pokoknya saya rutin sembahyang; perkara bagaimana hidup Yesus dari Nazareth, saya tak tahu.” Ini tidak hanya menimpa Yesus dari Nazareth, juga terjadi pada tokoh agama lainnya.

Tentu, saya punya privilese untuk mengarahkan rasa kepo saya ke bidang-bidang itu karena saya (bisanya) memang menggeluti ranah itu. Ini privilese yang mungkin cuma dimiliki segelintir orang. Akan tetapi, persoalannya bukan privilese, melainkan orientasi hidup orang. Jika ditelaah baik-baik kisah tiga raja dari Timur itu, mereka sebetulnya mendongak ke atas, melihat bintang, demi menemukan harta berharga di bawah sini. Itu perbedaan mereka dari Herodes, yang fokus perhatiannya pada status quo, tidak bisa mendongak ke atas. Semua yang ada di bawahnya mesti dikontrolnya baik-baik dan orang tak dibiarkannya berpikir kritis, merongrong status quonya.

Contoh kecil. Sejak kecil saya diberi info kecil bahwa Yesus kecil itu lahir di desa kecil Betlehem. Padahal, siapa yang tahu Yesus kecil ini lahir di kota kecil mana? Pokoknya Betlehem, wis, Mo!
Baiklah, tetapi sebaiknya jangan malas berpikir: di Betlehem menurut Injil Matius. Nah, itu baru betul. Perkara apakah kenyataannya begitu, God knows.

Itu bukan perkara besar dan orang bisa dengan mudah mengerti bahwa penulis Injil Matius punya kepentingan menulis teks bagi orang-orang Yahudi, sehingga mesti meyakinkan mereka bahwa kelahiran Yesus ini sudah diprediksi para nabi, bukan orang asing yang jatuh dari langit. Nah, boleh-boleh saja toh menulis dengan kepentingan itu?
Perkara yang lebih besar barangkali ada dalam teks pesta pembaptisan Tuhan besok. Karena saya tak menulis refleksi untuk besok, saya singgung sekarang dengan pertanyaan saja: mengapa Yesus memberi dirinya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis?
Saya
curiga, lebih banyak orang suka atau puas pada jawaban suci (karena Tuhan rendah hati, solider, misalnya) tanpa repot-repot mencari tahu penjelasan yang ‘tak suci’ demi pengenalan pribadi (seperti Herodes). Merepotkan memang, karena untuk mengenal sosok Yesus ini, orang mesti rajin-rajin mengenal dirinya sendiri sebagai pribadi manusia. Ini paralel dengan ikhtiar orang untuk mengenal Allah, tidak bisa ditempuh di luar jalur pengenalan misteri manusia sendiri.

Berhubung sudah ngelantur, lebih baik kembali ke salah satu pesan kisah hari ini: bintang memang di atas sana, kecuali bintang laut, tetapi terang bintang yang sesungguhnya mestilah ditemukan di bawah sini; dalam hiruk pikuk hidup biasa.  Tabu dalam pencariannya: status quo ala Herodes yang pedomannya menang kalah, dominasi, supremasi, selebrasi, dan basa basi.

Tuhan, mohon rahmat supaya pencarian kami boleh menjadi persembahan hidup bagi-Mu dan sesama. Amin. 


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Hari Anak Misioner Sedunia
Minggu, 8 Januari 2023

Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a,5-6
Mat 2,1-12

Posting 2022: Cerita Fani
Posting 2021: Orientasi
Posting 2020: Kapan Terangnya?

Posting 2019: Terancam

Posting 2018: Hidayah AMDG

Posting 2017: Bintangku Bintangmu

Posting 2016: Museum Allah
Posting 2015: Pesta Para Pencari Tuhan