Berkah 2023

Orang beragama masih mungkin mengutuk orang lain, terutama yang dianggapnya jahat atau melakukan persekusi terhadap diri atau kelompoknya. Akan tetapi, orang beriman tidak mengutuk orang lain. Sebaliknya, ia memberkati orang lain; dan kalau ia memberkati orang lain, itu berarti bukan dirinya sendiri yang menjadi sumber berkat dan pemeran utama. Orang beriman memainkan peran pembantu supaya berkat itu menjadi nyata bagi orang lain.

Kemarin sewaktu berhenti di perempatan, saya berhenti di sebelah pengendara motor; tidak persis di sebelahnya karena roda depan saya sejajar dengan roda belakangnya. Saya mematikan mesin dan saya lihat pengendara motor itu mengambil hapenya dan bersamaan dengan keluarnya hape itu jatuhlah selembar uang 75 ribu (bukan nominal sebenarnya) di antara ban belakang motornya dan ban depan motor saya. Ketika saya hendak mencondongkan badan ke depan untuk memberi tahu pemotor itu, nyempillah pemotor lain di antara kami; muda-mudi, yang muda di depan, yang mudi di belakang. Saya mengurungkan niat untuk memberitahu pemotor yang uangnya (atau uang orang lain) jatuh tadi, tetapi saya sadar rupanya muda-mudi yang nyempil tadi juga tahu ada duit jatuh dari motor sebelah kanan depan kami itu.

Saya menyadarinya karena mendengar perbincangan muda-mudi itu selagi menantikan kedatangan warna hijau. Saya tak ingat apa yang dikatakan yang muda, tetapi setelah sekian puluh detik, kata-kata yang mudi (“Jangan, kasihan”) menggerakkan saya untuk berkata ke yang muda,”Kasih tahu saja, Mas!” Maksud saya, saya berharap yang muda ini memberitahu pemotor sebelah bahwa uangnya jatuh. Si pemuda ini tertawa mengangguk-angguk, dan jebulnya uang itu sudah dipungutnya (pantesan mereka ribut berwacana, rupanya karena godaan sudah dalam genggaman tangan), lalu diberikannya ke pemotor sebelah itu.

Saya hendak menunjukkan contoh bahwa berkat bagi orang lain mengandaikan peran tertentu supaya harapan akan kebaikan bagi sesama itu terwujud, bukan omdo’. Dalam kasus uang 75 ribu tadi, berkat itu relatif mudah diberikan. Akan tetapi, lain halnya jika berkat mesti diberikan kepada orang lain yang jelas-jelas menjadi musuh, melakukan persekusi, berniat jahat. Tidak segampang itu ceritanya.

Saya mengulangi kisah Nabi Muhammad yang saya singgung pada posting Adveniat Regnum Tuum untuk menggambarkan konsekuensi kata-kata yang jadi trade mark Bunda Maria “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Nabi Muhammad memutus rantai kekerasan yang sangat lazim dalam hidup kesukuan. Upaya terakhirnya merebut Makkah justru kelihatan dalam gerakan yang lembut, yaitu menjadi peziarah. Artinya, mereka masuk tanpa senjata perang, hampir seperti orang telanjang karena hanya mengenakan kain putih penutup aurat. Ini riskan banget; bagaimana kalau orang-orang Quraisy itu mencegat mereka di jalan dan menghabisi mereka?

Tentu dalam kelompok ada pergumulan karena aneka kekhawatiran dan ketakutan, dan itu semua mesti dibebankan pada Nabi yang jadi pemimpin kelompok gerakan baru itu. Mestilah ada aneka pertanyaan dari pengikut Nabi yang intinya mempersoalkan bagaimana mungkin kemenangan dicapai tanpa senjata. Tak mungkinlah mereka merebut Makkah tanpa senjata karena musuh mereka, orang Quraisy itu, ada di rumah mereka sendiri dan punya perlengkapan perang. Dalam desakan pertanyaan seperti itu seolah-olah Nabi Muhammad menanggapinya dengan tenang “Kalau kita habis, berarti merebut Makkah bukanlah sungguh-sungguh apa yang diinginkan Allah.” Sesederhana itu, tetapi tidak semudah orang mengandalkan diri sendiri. Mengandalkan Allah jauh lebih sulit.

Nabi Muhammad memberkati orang-orang Makkah: keyakinan iman mereka jadi berlipat-lipat juga dalam lingkaran kaum Quraisy sendiri. Memang itulah arti berkat: kebaikan berlipat-lipat, yang sumbernya adalah Allah sendiri. Konon, harta bisa jadi berkah karena sedekah. Artinya, harta itu tak dinikmati sendiri, tetapi dinikmati semakin banyak orang, berlipat-lipat jumlahnya. Hanya saja, pantas dipersoalkan jika yang disedekahkan itu hasil korupsi: benarkah itu berkah dari Allah?
T
uhan, mohon rahmat supaya hidup kami sungguh bisa jadi berkat. Amin.


HARI KEDELAPAN OKTAF NATAL
Hari Raya Santa Maria Bunda Allah
Minggu, 1 Januari 2022

Bil 6,22-27
Gal 4,4-7

Luk 2,16-21

Posting 2021: Tuhan Baru
Posting 2020: Manusia Rahim

Posting 2019: Bukan Tahun Baru

Posting 2018: Hidup Baru

Posting 2017: Damai Aja Bang

Posting 2016: Tahun Haram

Posting 2015: Pernah Serius Mikir?