Jika Anda ingat lagu ‘Meraih Bintang’, tentu Anda tahu maksud bintang: bukan meteor atau komet Halley, melainkan prestasi atau capaian setinggi langit yang membuat orang layak mendapat bintang penghargaan. Itu cocok untuk ajang semacam Asean Games 2018, tetapi juga bisa dipakai untuk memahami Epifani yang dirayakan setiap tanggal 6 Januari. Saya sudah bahas secara singkat di majalah UTUSAN edisi Januari 2025, yang bisa diakses misalnya via Gramedia Digital, 16 ribu per edisi. Juga jika tulisan itu layak dihargai bintang 16 ribu rupiah, riset dan penulisannya sampai bikin air mata berderai😅 tetapi tidak bisa saya bocorkan di sini isinya. Tulisan di sini juga diiringi derai air mata sih tetapi tidak ada harganya, malah saya mesti bayar.😂
Lah, curcol, Rom?
Gimana lagu ‘Meraih Bintang’ bisa dipakai untuk memahami Epifani? Dengan menengarai jenis bintang sebagai fokusnya. Pertama, jika bintang itu dimengerti sebagai meteor, misalnya, jelas itu adalah narasi untuk anak-anak. Anda bisa memelihara cerita epifani dengan bintang terang menyorot gua yang bikin orang majus dari Timur bisa datang ke sana jika Anda masih krasan sebagai murid kelompok PIA, misalnya.
Kedua, jika bintang itu dimengerti sebagai apresiasi capaian prestasi, mungkin Anda perlu becermin pada dua tokoh yang ditampilkan dalam teks bacaan utama hari ini: tiga orang Majus dan Herodes. Prestasi itu bergantung pada fokus sasaran yang hendak dituju orang. Kalau tak jelas fokusnya, prestasinya juga gak jelas bahkan meskipun followers atau kelompok garis kerasnya banyak. Orang Majus datang untuk pergi menyembah. Herodes bilang dia ingin juga bisa datang menyembah: tetapi siapa percaya pada penguasa yang bahkan membunuh saudara-saudaranya sendiri demi status quonya?
Ketiga, jika bintang itu dimengerti sebagai terang, Anda perlu lebih cermat lagi becermin pada dua karakter naratif hari ini sebagai indikasi pilihan via (jalan): semakin transparan hidup Anda, semakin mudahlah terang itu menyinari Anda. Sebaliknya, semakin munafik hidup Anda, semakin mudahlah kuasa gelap membimbing Anda lewat aneka kompromi yang Anda kira menguntungkan tetapi pada kenyataannya membuat Anda kěcěle. Jika Anda punya kekuasaan, semakin banyak orang juga Anda bikin kěcěle.
Loh, curcol lagi, Rom?😂
Tapi, bukannya orang Majus itu juga tidak transparan, Mo? Bukankah mereka mengangguk-angguk di hadapan penguasa, njuk jebulnya mereka pergi diam-diam?
Jika Anda melihatnya begitu, Anda melihat dengan perspektif Herodes, yang memahami bintang sebagai capaian prestasi dan kekuasaan. Anda tak lagi berfokus pada proses tetapi pada hasil yang menghalalkan segala cara.
Saya usul, bacalah teks Kitab Bilangan bab 22-24. Itu menjelaskan karakter orang Majus, yang menatap ke atas dan berproses dalam hidup mereka yang transparan, yang tidak tersandera maupun menyandera orang lain dalam transaksi politik yang bikin rakyat jelantah susah. Orang Majus itu keukeuh dalam proses bargaining dengan Tuhan, tak tergiur oleh harta dan kekuasaan, bahkan mempersembahkannya untuk sosok lemah. Herodes tak punya kerangka pijakan selain ‘Etika ndhasmu.’
Tuhan, mohon rahmat untuk bertekun dalam proses lebih daripada tawaran hasil cepat menggiurkan yang merusak martabat kemanusiaan. Amin.
HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Hari Anak Misioner Sedunia
Minggu, 5 Januari 2025
Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a,5-6
Mat 2,1-12
Posting 2024: Damai
Posting 2023: Meraih Bintang
Posting 2022: Cerita Fani
Posting 2021: Orientasi
Posting 2020: Kapan Terangnya?
Posting 2019: Terancam
Posting 2018: Hidayah AMDG
Posting 2017: Bintangku Bintangmu
Posting 2016: Museum Allah
Posting 2015: Pesta Para Pencari Tuhan
