Sembah

Published by

on

Apakah godaan terbesar para orang tua sebagai penanggung jawab anak-anak mereka? Tidak sedikit orang yang jatuh dalam godaan ini: memperlakukan anak-anak sebagai properti mereka, sebagai jaminan hari tua mereka, sebagai proyeksi ambisi mereka, dan sejenisnya. Bayangkanlah: orang tua yang ‘memproduksi’ anak supaya kelak di kemudian hari ada orang muda yang merawatnya. Tega nian, bukan? Selain tega tenan, konsep itu jelas tidak cocok dengan keyakinan bahwa anak adalah titipan Tuhan.

Teks bacaan utama hari ini menarasikan bagaimana keyakinan anak sebagai titipan Tuhan itu dipraktikkan dalam kehidupan bangsa Yahudi: mereka mempersembahkan anak laki-laki sulung ke dalam proyek Allah. Dikatakan dalam teks sebagai refren dalam tiga ayat pertama: menurut hukum Taurat Musa, seperti tertulis dalam hukum Tuhan, seperti difirmankan dalam hukum Tuhan. Tentu, tak perlu Anda ributkan kenapa hanya anak laki-laki sulung. Poinnya bahwa anak yang dianggap penting oleh orang tua adalah milik Tuhan dan dipercayakan kepada proyek Allah, bukan proyek orang tua yang doyan pagar laut.

Apakah godaan terbesar para orang tua itu hanya berlaku bagi orang tua? Ya tentu tidak, karena konsep hak milik itu juga bisa diadopsi oleh orang dalam aneka lembaga dengan paradigma superioritas atau senioritas. Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi di Sikka baru-baru ini. Beritanya mungkin Anda bisa baca di tautan ini. Yang menyedihkan saya, dari sumber lain saya dapatkan keterangan bahwa perusahaan yang mengambil nama Kristus Raja itu dijalankan juga untuk pendidikan calon imam.
Lha kok malah sedih, Rom, kan malah bagus demi pendidikan calon imam?
Ya itu tadi godaan terbesar para orang tua juga berlaku untuk lembaga, termasuk yang memelihara paradigma pastorsentris!

Saya pikir, dalam kondisi itu, barangkali yang dibutuhkan Gereja bukan imam, melainkan penggerak masyarakat yang peduli pada kesejahteraan bersama. Atau, kalau tetap harus ada imamnya di situ: barangkali yang diperlukan adalah sosok imam penggerak masyarakat yang peduli pada kesejahteraan bersama, bukan imam yang terampil mencari dana!
Loh, tetapi bukankah juga proyek geotermal itu penting untuk kesejahteraan bersama dan Gereja mesti mendukungnya?
Ya ini agak melebar, tetapi prinsipnya sama: tujuan tidak menghalalkan cara, apalagi jika ini melibatkan status quo, hirarki bisa tenggelam dalam proyek rentenier dan gerakannya tidak lagi seperti tradisi mempersembahkan anak lelaki sulung kepada Allah. Mana ada Yesus kemudian bersepakat dengan kekaisaran Roma untuk menghancurkan Bait Allah Yerusalem dan mendirikan Basilika IKN #eh? Ada juga dia membangun basilika dari bawah, dari dirinya sendiri, yang dibuldozer oleh pemegang kekuasaan status quo.

Jika Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah ini diselisik dengan cermat, aneka proyek yang dilandasi prinsip hukum rimba, superioritas, top down, hirarkis, senioritas, pastorsentrisme, tidaklah relevan, kalau bukan malah menentang proyek Allah sendiri. Entah apa yang disembah.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk menangkap proyek harapan, iman, dan cinta-Mu dalam hidup bersama yang kompleks ini. Amin.


PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH
Minggu Biasa IV C/1
2 Februari 2025

Mal 3,1-4
Ibr 2,14-18

Luk 2,22-40

Posting 2021: Let It Be
Posting 2020: Surga di Bawah Telapak
Posting 2019: Mau Sisa-sisa?

Posting 2018: Dilanmu Mana?

Posting 2017: Saya Disadap

Posting 2016: Orang Tua Bikin Hang

Posting 2015: Bismillah

Previous Post
Next Post