Anda dapat mengetahui apa yang dipercayai seseorang bukan dari apa yang ia nyatakan di tempat ibadat, tetapi dari asumsi-asumsi yang mendasari tindakannya. Di tempat ibadat tentu yang lantang disuarakannya syahadat, tetapi mungkin yang terpancang di pikirannya syahwat. Bisa jadi, yang digaungkannya di tempat kerja adalah moto ‘waktu adalah uang’ tetapi yang dilakukannya semata adalah ‘segalanya demi uang’. Begitu seterusnya bisa Anda temukan bagaimana orang memiliki keterpecahan diri.
Teks bacaan utama hari ini menunjukkan akar dari keterpecahan itu: motivasi yang setengah-setengah. Artinya, setengah tertuju pada riyā’ dan setengahnya lagi pada ibadah. Mengenai yang pertama sudah saya singgung perkaranya dalam posting Suara dari Pinggiran. Mengenai yang kedua, blog ini sendiri secara keseluruhan dimaksudkan ke arah sana, juga kalau mesti senggol sana-sini. Dengan begitu, masa yang dalam Gereja Katolik didedikasikan sebagai persiapan Paska ini adalah masa untuk melihat akar keterpecahan itu, bukan sekadar melihat dan mengubah simtom atau gejala.
Ada sebagian orang Katolik yang selama 40 hari penuh berpantang medsos, misalnya. Alasannya, mereka merasa seperti sudah ketagihan medsos. Akan tetapi, dalam terang keterpecahan tadi, barangkali lebih membumi lagi jika diselisik akarnya karena ketagihan medsos hanyalah simtom. Begitu pula ketagihan-ketagihan yang lainnya. Hanyalah simtom, gejala bahwa orang kehilangan kemampuan untuk mengarahkan dirinya pada komunikasi-diri dengan Allah. Tanpa kemampuan ini, segalanya menjadi ritual yang, sebaik dan saleh apa pun, tidak relate dengan hidup konkret orang, baik dalam skop individu maupun sosial. Itu terbilang sebagai mengoyakkan pakaian daripada hati.
Orang muda yang mengoyakkan hati kira-kira akan seperti seorang mahasiswa/i yang mendedikasikan waktu belajarnya sepenuh hati menggumuli materi sedalam mungkin dalam kepercayaan dan ikhtiar untuk menemukan kebenaran ilahi dan menanggapi secara positif kemampuan yang diterimanya dari Allah. Orang tua yang mengoyakkan hati itu seumpama pensiunan yang menepikan ambisinya untuk cawe-cawe dengan target kekuasaan berkesinambungan dalam ring satunya. Guru agama yang mengoyakkan hati itu bak guru yang berupaya menjadi guru bangsa karena tak lagi disekat oleh kategori dan capaian sosial agama tertentu. Politikus yang mengoyakkan hati itu seumpama petugas partai atau wakil rakyat yang peduli pada cara-cara beradab menggulati kekuasaan demi kesejahteraan bersama daripada proyek-proyek populis yang memantik kekaguman rakyat jelantah. Anda dapat melanjutkannya dengan contoh-contoh lain yang mengindikasikan bahwa orang lebih sadar kamera Allah daripada kamera yang dipasang oleh orang-orang yang simpatinya ia butuhkan.
Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk mengarahkan niat dan tindakan kami dalam tatapan cinta-Mu. Amin.
HARI RABU ABU
5 Maret 2025
Yl 2,12-18
2Kor 5,20-6,2
Mat 6,1-6.16-18
Posting 2024: Tobat Nyoblos
Posting 2021: Sedekah Iman
Posting 2020: Waspada Saja, Tong!
Posting 2019: Puasa Kampanye
Posting 2018: Puasa dari Valentine
Posting 2017: Come Back to Me
Posting 2016: Tobat, Bos!
Posting 2015: Grow up, Brow!
Posting 2014: Solidarity with The Father
