Di mimbar-mimbar khotbah, cinta bisa menjadi abstrak. Juga jika bertolak dari teks bacaan utama hari ini, pengkhotbah bisa mereduksinya dengan nasihat untuk mengasihi semua orang, termasuk musuh. Soal ini saya sudah singgung dalam posting Bayar 3x!. Akan tetapi, konteks kemunculan nasihat itu sendiri bukanlah relasi pribadi orang per orang atau kelompok fanatik agama, melainkan juga semacam musuh bersama yang pada saat itu adalah kekuatan penjajah Romawi. Kekuatan opresif penjajahan itu sendiri tak bisa cuma dilekatkan pada penjajah aseng, tetapi juga kekuatan dalam negeri yang memang merenggut martabat manusia.
Jika kekuatan opresif seperti ini tidak jadi musuh bersama, sudah banyak contohnya, BBM rentan oplosan atau defisit takaran. Jika kekuatan korup masif seperti ini tidak jadi musuh bersama, fasilitas umum sangat mudah terbengkalai karena pelayan publiknya abai. Ironisnya, pelayan publik mempersepsi jabatannya sebagai cita-cita yang harus digapai dan kritik publik ditanggapi dengan santai.
Perintah untuk memperluas cinta sampai kepada musuh tidak berasal dari ide mulia humanis ala hak asasi manusia atau motif strategis untuk menundukkan musuh. Perintah itu datangnya dari ikhtiar untuk menyinkronkan cara bertindak orang dengan sifat-sifat yang diyakini sebagai sifat Allah yang maha pengasih dan penyayang. Replikasi sifat ilahi inilah yang pada gilirannya memberi ganjaran surgawi di sini dan sekarang ini, tak harus tunggu sampai entah kapan dan di mana. Di situ pula letak kesempurnaan karena cinta Allah sendiri sempurna adanya, adil, tidak pilih kasih juga.
Tuhan, semoga kami mampu memperluas zona nyaman kami dengan belas kasihan-Mu. Amin.
HARI SABTU PRAPASKA I
15 Maret 2025
Posting 2021: Sempurna
Posting 2020: Berat Hati
Posting 2019: Tuhan Nomor Satu
Posting 2018: Hatimu Terbuat dari Apa?
Posting 2017: Sudah Kuat?
Posting 2016: Bridge over Troubled Water
Posting 2015: Logika Paradoksal
Posting 2014: Masih Mau Korupsi? Plis deh…
