Ironi 2

Published by

on

Sebagian ironi kehidupan disebabkan oleh kenaifan orang berhubung dengan keyakinan semunya. Misalnya, gaji kecil membuat orang yang bergumul dengan survival bisa melakukan hal-hal buruk untuk bertahan hidup: mencuri, korupsi, menipu, bahkan mungkin membunuh. Keyakinan semunya ialah dengan menaikkan gaji, potensi korupsi dan lain-lain itu bisa diperkecil. Kenapa semu? Karena gaji kecil bukanlah satu-satunya faktor. Anda dan saya bisa lihat sendiri bahwa korupsi, mungkin saja dilakukan oleh karyawan pabrik yang gajinya hanya tetanggaan dengan UMR, tetapi mega korupsi tak mungkin dilakukan oleh karyawan-karyawan seperti itu. Gaji dan kekayaan koruptor kakap itu jelas beda level dari UMR.

Jadi, menaikkan gaji orang yang doyan sogok itu tidak membuatnya jadi tidak doyan sogok. Doyan sogok itu tak kenal besar kecil. Kecil diterima, besar diharapkan! Itulah etika ‘ndhasmu‘ yang sebenarnya dan rupanya etika inilah yang sedang diajarkan oleh pejabat tinggi negeri. Itulah juga ironi yang dibangun dari proses yang tak transparan.

Teks bacaan utama hari ini menunjukkan kritik Guru dari Nazareth yang mendapati kerumunan orang mencarinya, kerumunan orang yang perutnya kenyang oleh makanan roti yang tersedia oleh Guru dan murid-muridnya ini. Penulis teks ini sangat lihai dengan ironi dalam teknik naratifnya tetapi cukuplah Anda dan saya memetik pesan yang disodorkan Sang Guru: bekerjalah bukan untuk makanan yang bisa binasa, melainkan untuk makanan yang membantumu hidup kekal.

Meskipun orang tahu mana makanan yang bisa binasa (sebutlah sembarang makanan yang masuk lewat mulut atau infus dan yang kemudian keluar lewat saluran sekresi) dan mana makanan yang mengantar orang untuk hidup kekal (semacam etika yang tak sekadar ndhasmu), tidak berarti orang otomatis memilih makanan hidup kekal. Orang doyan sogok bukannya tak tahu perbedaan dua jenis ‘makanan’ ini, tetapi pilihan dasar hidup mereka tidak mengarah pada hidup kekal. Ironisnya, mereka ini fasih di bibir, perlente dalam pakaian, dan saleh dalam ritual agama, yang jebulnya tak menjamin transformasi pilihan dasar hidup mereka.

Orang-orang seperti itu bisa saja bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk benar-benar menjalankan apa yang sungguh dikehendaki Allah. Akan tetapi, itu juga adalah ironi karena sesungguhnya persoalan dasarnya bukan apa yang seharusnya mereka lakukan, melainkan apa yang sungguh-sungguh mereka percayai. Orang-orang ini tidak percaya bahwa proses dan sistem yang transparan akan membangun kesejahteraan bersama karena jika demikian, jika mereka percaya, sifat ‘doyan sogok’ mereka kehilangan lahannya.

Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan untuk menanggung hidup kekal-Mu. Amin.


SENIN PASKA III
5 Mei 2025

Kis 6,8-15
Yoh 6,22-29

Posting 2020: Shaolin Forever
Posting 2019: Puasa Miapa
Posting 2018: PartAi setaN

Posting 2017: Ngapain Percaya Tuhan?

Posting 2016:
 Plesetan Iman

Posting 2015: Perbuatan Tanpa Iman Is Dead

Posting 2014: Spirit’s Work, Wider and Deeper

2 responses to “Ironi 2”

  1. widya Avatar

    jujur… ketika pekerjaan terasa berat aku banyak keluh dan nangis… Doain aku ya Romo

    Like

    1. romasety Avatar

      Didoakan, Kakak. “Terasa berat” itu jgn2 indikasi kita fokus ke yang gak ada di depan mata ya?

      Like

Previous Post
Next Post