Kangen Lagi

Kalau Anda bertamu dan disuguhi minuman serta makanan yang sangat menyukakan hati Anda dan dipersilakan tuan rumah untuk menyantapnya, apakah yang Anda lakukan? Segera makan dan minum yang disajikan atau menunggu sampai hidangannya basi atau saling berpandang-pandangan saja dengan tuan rumahnya?
Tentu saja, itu bergantung pada siapa tuan rumahnya dan dalam kultur mana Anda hidup. Saya, misalnya, jelek-jelek begini punya darah Jawa, yang tidak akan langsung menyerbu sajian pada “Silakan minum” atau “Ayo minum” pertama kali, tetapi bisa juga tanpa rikuh menyantap sajian tuan rumah tanpa menunggu tuan rumahnya sendiri memberi contoh untuk minum atau makan.

Akan tetapi, wagu gak sih kalau kita mengundang orang untuk pesta makan-makan dan minum-minum dan orang itu menjawab positif R.S.V.P. tetapi pada pestanya sendiri malah tidak makan dan minum? Menurut saya, itu bukan wagu nostalgia apalagi wagu kebangsaan, melainkan wagu banget!
Saya kira dasar pemikiran itu jugalah yang dipakai Guru dari Nazareth untuk menjawab pertanyaan murid-murid Yohanes mengapa para murid Guru dari Nazareth ini tidak berpuasa. Dalam kultur Jawa tadi, wagu kalau tuan rumah mempersilakan Anda minum berkali-kali dan tuan rumahnya sendiri sudah minum dan makan, memberi contoh, tetapi Anda tak menyentuh sajiannya sama sekali. Bisa jadi itu malah offensive, menyinggung ketuanrumahannya.

Teks bacaan hari ini, kalau dibaca terpotong, bisa jadi landasan bagi orang modern untuk tidak berpuasa, berpantang, bermati raga, beraskese, menyangkal diri, dan sejenisnya. Intuisi saya, atau lebih tepatnya, kecurigaan saya mengatakan bahwa orang kristiani yang punya tradisi pantang dan puasa pun bisa jadi tak lagi berminat dengan praktik rohani ini karena klaim keselamatan yang dianutnya. Lha wong sudah diselamatkan kok, orang sudah bersama Tuhan, ngapain lagi mesti puasa makan minum atau pantang jajan atau game online segala? Padahal, bisa jadi itu cuma modus orang tak mau repot hidup susah, apalagi menderita.
Lah, bukannya baru kemarin Romo sendiri bilang ya bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia menderita? Penderitaan itu konsekuensi, bukan tujuan atau penyakit yang dicari-cari orang.

Wooo, berarti belum tepat cara membacanya: tujuannya bukan susah atau menderita, melainkan puasa atau pantang. Puasa dan pantang itu sendiri juga bukan tujuan pada dirinya sendiri. Itu adalah sarana manakala orang punya pengalaman keterpisahan dengan ‘mempelai’, yang tentu maksudnya adalah Tuhan. Akan tetapi, sayangnya, karena ideologi agama yang dibangunnya sendiri, karena keyakinan tertentunya mengenai manunggaling kawula Gusti, orang kehilangan pengalaman keterpisahan itu. Seperti kata video klip yang lalu, kerinduan adalah bunga-bunga perpisahan. Pantang dan puasa bisa jadi wujud kerinduan cinta orang kepada Penciptanya. 

Jadi, pertanyaannya bukan lagi soal orang mau menderita atau tidak, melainkan apakah ia memiliki kerinduan cinta kepada Allahnya. Ya Allah, tanamkanlah dalam hati kami kerinduan cinta yang kuat kepada-Mu semata. . Amin.


HARI JUMAT SESUDAH RABU ABU
8 Maret 2019

Yes 58,1-9a
Mat 9,14-15

Posting 2018: Pantang Internet
Posting 2017: Halo Munafik

Posting 2016: Dasar Pengemis

Posting
2015: Puasa nan Romantis

Posting 2014: How do you fast?

6 replies

  1. Puasa (dan mungkin pantang) itu kadang kalau mendekati akhir bulan bagi anak kos khususnya saat jadi mahasiswa. Puasa itu juga kadang karena melihat dan mendenar raga tidak memerlukan tambahan asupan nutrisi. Lebih jarang puasa itu kadang karena merindukan keheningan, puasa itu seperti mengosongkan dan membersihkan isi kamar yang sesak, dan kemudian dengan membuka jendela, siapa tahu ada angin semilir yang masuk dan menyejukkan yang tengah duduk pun berbaring di dalamnya.

    Like

      • Anak kos kadang punya pilihan Romo – sehingga puasanya anak kos itu dalam tanda petik ‘relatif’, tapi mereka yang ada di daerah konflik, daerah pasca bencana di seluruh penjuru dunia, apakah mereka memiliki pilihan lain?

        Ini adalah hal yang menarik, sayangnya saya hanya bisa memandangnya hanya dalam batas tataran konseptual. Saya tidak bisa melakukan kontemplasi, saya bisa berpikir tentang A atau B mereka yang ‘puasa’ di daerah nirpangan, nirsandang dan nirpapan, tapi saya tidak bisa merasakannya sendiri.

        Meski saya mencoba berpuasa untuk merasakan puasa mereka. Apa yang bisa saya rasakan sama adalah keroncongan di perut saya, tapi tidak ‘ketakutan’ akan bunyi khas dari dalam itu sendiri. Karena saya dikekang dan ditemboki oleh pengetahuan saya yang lain, yaitu setelah keroncongan – saya masih bisa mengambil pecel di warung sebelah, namun mereka yang ‘berpuasa’ itu, tidak memiliki kekang dan tembok yang menutup pandangan mereka dari rasa takut, kekhawatiran, dan keputusasaan.

        Oleh karena itu, bagi saya sepopuler apapun puasa anak kos saya, tidak akan bisa sama ketika saya tidak ada di posisi mereka yang nirpangan. Saya bisa menikmati puasa saya, tapi saya tidak berbangga karena merasa bisa turut merasakan yang orang-orang menderita itu rasakan, karena saya tidak benar-benar merasakannya.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s