Kebosokan Rohani

Kalau kemarin disodorkan Allah yang terlibat, yang tidak indifferent bin lèlèh luwèh, hari ini disinggung kelompok manusia yang indifferent bin lèlèh luwèh. Sebetulnya apa salah indifferent bin lèlèh luwèh to? Bukankah sikap itu diperlukan supaya orang tidak jatuh dalam kelekatan?
Iya betul, itu sudah dibahas dalam uraian mengenai Azas dan Dasar. Akan tetapi, jelaslah dalam kasus ini, sikap indifferentnya berbau masa bodoh dan tidak mau mendengarkan liyan lantaran sudah merasa diri benar, maka apa saja pilihannya ya benar, tanpa melihat seruan liyan tadi.

Dalam seruan apostolik Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus menunjuk keadaan itu sebagai kebusukan rohani. Katanya, kebusukan rohani ini lebih buruk daripada kejatuhan orang ke dalam dosa. Masuk akal juga, kalau orang jatuh ke dalam dosa, sekurang-kurangnya ia bisa mengerti bahwa ia sedang dalam keadaan berdosa. Kalau orang busuk rohaninya, kategori dosa sudah tak ada lagi: semua-muanya boleh, apa saja boleh, suka-suka orangnyalah.
Bukankah Augustinus sudah mengatakan do whatever you want, Rom?
Betul, tetapi mandat itu berbunyi setelah ada mandat lainnya: love. Artinya, hanya dalam keadaan cinta orang boleh berbuat semaunya.

Problemnya, kalau orang ada dalam keadaan cinta, ia justru tahu apa yang dikejarnya dalam hidup, tidak asal berbuat semaunya; atau, semaunya itu selaras dengan cinta. Kredibilitas cinta terkikis ketika pengklaimnya melakukan kekerasan, kebohongan, kecurangan, atau perilaku lain yang jelas-jelas mengarah pada tujuan lain. Kredibilitas cinta terkorupsi oleh aneka desakan kepemilikan lebih daripada komitmen yang memerdekakan.
Akan tetapi, pada kenyataannya, memang kebanyakan orang tak bisa merealisasikan cinta luhur itu, bukan karena cinta itu teoretis, melainkan karena cinta itu jadi slogan belaka dan slogan ini dipakai untuk membenarkan apa saja yang dimauinya tanpa melihat arah, orientasi hidup yang membawa sukacita sejati.

Dua hal yang gampang untuk menguji cinta menurut saya adalah tingkat komitmen dan kecemburuannya. Keduanya berbeda jalur. Yang pertama bersifat sentripetal, yang kedua sentrifugal. Semakin komitmen kuat, kecemburuan tak punya tempat. Sebaliknya, semakin kecemburuan kuat, komitmen semakin lemah, tidak lagi memerdekakan. Bisa dimaklumi, karena kecemburuan ada pada jalur kepemilikan, sedangkan komitmen pada jalur kemerdekaan.
Ya itu kan karena Romo gak married, makanya gampang aja bilang gitu.
Lha memangnya cemburu itu hak orang yang married? 😂😂😂

Saya lupa apakah pernah saya bocorkan rahasia bahwa sewaktu saya kelas satu SD saya bisa begitu cemburu pada Om saya yang bercengkerama dengan gadis-gadis cantik dari Bandung, selama perjalanan dalam mobil. Lha memangnya gadis-gadis cantik itu istri-istri saya?
Ya itu namanya bukan cemburu, Rom, melainkan iri hati karena Romo tidak mendapat perhatian.
Naaaaah itulah maksud saya. Jalur cinta ‘memberi’, sedangkan jalur iri hati ‘mendapat’, jalur cemburu, dengan demikian, adalah ‘kepemilikan’; jalur komitmen adalah ‘kesetiaan’. Sudah saya bahas bahwa posesif bukan tanda baik cinta. Pada diri orang posesif, kemerdekaan bukan nilai pokok dan komitmen (apa pun isi dan bentuknya) tak lebih dari beban. Lha kalau orang terbebani hidupnya, bagaimana dia bisa mendengarkan liyan?

Tuhan, biarkanlah kami yang letih lesu datang mendengarkan Engkau. Amin.


RABU BIASA XXIV C/1
18 September 2019

1Tim 3,14-16
Luk 7,31-35

Rabu Biasa XXIV B/2 2018: Gereja Baper 
Rabu Biasa XXIV A/1 2017: Juara Komen
Rabu Biasa XXIV B/1 2015: Generasi Korup

Rabu Biasa XXIV A/2 2014: Waton Suloyo

3 replies

  1. Hi Rm renungan nya asik hr ini. Moso’ sih kls 1 SD dah bisa cemburuan, mau ngapain jg dg gadis2 cantik Bandung tsb Olaalaaa🤣. Kayaknya istilah detached love (cinta yang membebaskan) itu terlalu tinggi ilmunya buat kita2 krn kalau ada cinta (mau cinta konjugal atau cinta yg lebih dalam kyk Agape) pasti ada kelekatan yg normal2 aja (to some extend deh), tp kl sampai obsessed itu yg berabe, bahaya. Soalnya tanpa ada rs kelekatan yg to some extend tsb, bisa jadi leleh luweh juga dong ama yg dicintai, suka2 mau ngapain (sampai di googling apa sih arti kata itu dr semalam nongol meski didampingi Inggrisnya, just to make sure). Entah sampai kapan bisa mencapai cinta ideal spt begini: Love, and do whatever U want. Romo Andre sendiri sudah hampir berlabuh kesana jugakah?😁🙏

    Like

    • Sebetulnya enggak juga Bu; banyak kok cinta orang tua yang menunjukkan detached love itu: ketika mereka melepaskan anaknya, tetapi sama sekali tidak berarti leleh luweh atau tak peduli, misalnya. Itu ada momen yang membuat cintanya jadi detached. Pada kebanyakan orang yang sungguh menghidupi Sabda, mau tak mau dia mesti detached karena ‘kelekatan’nya kepada Sabda. Detachment tidak sama dengan indifferent. Ya ini soal perspektif sih Bu. Saya tidak yakin bahwa cinta ideal itu ada. Yang ada ya cinta real aja, cuma itu berarti dari waktu ke waktu mesti diuji (antara lain dengan pembedaan roh atau penegasan rohani) apakah itu modus, bersyarat, terlekat, dan seterusnya. Saya setuju pada de Mello, tak yakin bahwa hidup tanpa kelekatan itu mungkin, tetapi semakin sedikit kelekatannya semakin murni cintanya. Maka Ibu dan saya sama-sama ke arah sana, semoga cintanya semakin dimurnikan.

      Like

  2. Betul sih Mo, saat Rm bicara soal cinta ortu ke anak dg kerelaan melepaskan mrk berjuang di padang belantara kehidupan ini, selerti refleksi pribadi: ke 2 anak panah dah jauh melesat dr busur, sang busur hny bisa mendoakan dan memonitor dr jauh. It’s not an indifference for sure! Yg menghidupi sabda: spt para rohaniwan/wati kyk Rm skrang ya 😁. Beneran setuju kalau gak mungkin ada detached love selama kita msh berlabel manusia, sebebas2 dan semurni2nya, pasti masih ada sedikit kelekatan, tapi dlm kedewasaan atau dlm bentuk yg ilahi yg hanya Tuhan yang tahu. Amin ya Rm, semoga Rm, sy atau siapa pun yg sungguh berniat bisa memurnikan diri dan hati menuju kesana🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s