Self-Discovery

Tak sedikit orang beragama yang keliru memahami kegunaan doa permohonan. Saya cuma sotoy sih: kebanyakan orang mengira bahwa doa permohonan berfungsi supaya apa yang jadi isi permohonan itu dikabulkan, terealisasi, dan sejenisnya. Jadi, misalnya orang mohon dapat jodoh. Artinya, doanya berguna supaya dia dapat jodoh.
Ya’ela, Rom, ya memang begitu kan? Mosok orang mohon jodoh ngarepnya dapet dodol! Gak ada gunanya dong!
Lha ya itu: Anda terbilang orang yang keliru memahami kegunaan doa permohonan.
Romo ini waton suloyo! Teks hari ini jelas omong soal ketuk pintu supaya dibukakan, minta supaya diberi, dan seterusnya! Itu artinya permohonan memang maksudnya supaya objek permohonannya dikabulkan, diberikan.
Delapan enam, tetapi itu di luar kuasa doa permohonannya sendiri. Apakah objek permohonannya terjadi atau tidak, tak bergantung pada doa permohonannya sendiri.
Weleh, malah tambah waton suloyo!
Mbok sik sebentar, tak usah mecucu gitu. Simak baik-baik, kalau Anda mengajukan permohonan jodoh tadi, lalu sepuluh, dua puluh, empat puluh tahun berlalu dan jodoh tak kunjung datang, njuk Anda mau mengatakan doanya gagal?
Lha ya jelas dong!
Lha kenapaé dikatakan gagal?
Ya karena jodoh tak kunjung datang itu!
Nah itulah problemnya, akibat keliru memahami kegunaan doa permohonan.😂😂😂

Pada posting empat tahun lalu, Transparan Lebih Asik, saya tempelkan skema Johari Window, dan di situ terlihat jelas bahwa garis memohon bin meminta itu searah dengan self-discovery, dari diri yang diketahui kepada diri yang tak diketahui. Siapakah diri yang diketahui itu? Ya yang mengajukan permohonan tadi. Siapa diri yang tak diketahui? Ya yang mengajukan permohonan tadi juga, tetapi termasuk instansi transenden yang diimani oleh orang yang bersangkutan.
Alhasil, doa permohonan pertama-tama justru berguna untuk self-discovery! Lha perkara objek permohonannya terjadi atau tidak, ngapain ambil pusing kalau orang sudah mengalami self-discovery?
Itu artinya, doa permohonan disebut gagal bukan karena objek permohonannya absen, melainkan karena absennya self-discovery! Karena itu, tak perlu menghibur diri dengan “semua indah pada waktunya” kecuali Anda mengalami self-discovery!

Pada saat saya berdoa bagi kesembuhan orang yang sakit, tentu saja saya mengharapkan kesembuhannya, tetapi jelaslah bagi saya bahwa kesembuhannya tidak ada di tangan saya, dan karena itu saya bertekuk lutut pada Allah, mendoakan pasien, dokter, dan perawat, dan jika saya temukan jalan bagi saya untuk melakukan sesuatu, itu pula yang saya tempuh. Bukankah itu suatu self-discovery?
Pada saat saya berdoa mohon jodoh, tentu saya mengharapkan kedatangan jodoh, tetapi jelaslah bagi saya bahwa kedatangan jodoh itu bergantung pada keterbukaan saya sendiri, pada cita-cita realistis saya sendiri, pada cara bertutur kata dan bersikap, dan seterusnya, dan jika saya temukan jalan untuk melakukan sesuatu, itu pula yang saya tempuh. Kalau tidak, barangkali cita-cita saya terlalu lebay, dan mungkin perlu memolesnya, dan itulah yang saya tempuh. Bukankah itu juga suatu self-discovery? Anda tak perlu Christopher Colombus atau National Geographic untuk melakukannya. Cukup dengan menyampaikan doa permohonan.😂😂😂

Tuhan, mohon rahmat untuk menerima diri di hadirat-Mu. Amin.


KAMIS BIASA XXVII C/1
10 Oktober 2019

Mal 3,13-18;4,1-2
Luk 11,5-13

Kamis Biasa XXVII B/2 2018: Memelihara Semangat
Kamis Biasa XXVII A/1 2017: Doa Kehilangan
Kamis Biasa XXVII C/2 2016: Mbok Serius

Kamis Biasa XXVII B/1 2015: Susahnya Meminta

Kamis Biasa XXVII A/2 2014: Keinginan Yang Melecehkan Kebutuhan

2 replies

  1. MCK: Minta, Cari, Ketok. Tp ogahlah, doa minta jodoh kok malah dapat dodol 😭😂 Mo, memang kl rajin bikin doa permohonan, beneran otomatis bisa membawa kita utk makin membuka diri menemukan realita diri sendiri sbg jalan menemukan jawaban doa kita? Atau ada hal/syarat lain? Ada alami hal serupa (doa gak terkabulkan) tp bukan ttg jodoh lah. Sy jg sekalian mau ijin kl ada tulisan renungan Rm yg relevan dan mudah dimengerti umat umum, sy mau copas ke fan page nya PDPKK kita ya biar umat jg bisa baca & ambil makna tulisan tsb. At least ini sy udah permisi dulu dg penulisnya. Kok Rm hny repost tulisan lalu2 di grup satunya, padahal ada bbrp tulisan bagus & relevan yg bisa di share ulang. I mean I could read only (not sharing) your repost from the other group🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s