Another Bruce Lee

Saya ingat seorang kawan yang seumur-umur begitu jijik dengan sampah (bahkan yang dibuatnya sendiri) lantas mesti melompat masuk bak sampah yang begitu bau demi menghindari kejaran aparat keamanan pada peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1996. Sebetulnya, kalau tidak melockdown di bak sampah pun, ia tetap akan lolos dari kejaran. Aparat keamanan tak akan segitunya mengejarnya karena yang penting saat itu ialah orang-orang Kodam Jaya (yang dipimpin oleh mantan presiden RI, siapanya bisa ditebak sendiri) menyerbu dan mengambil alih kantor DPP PDI Perjuangan. Dia cuma penonton aksi mimbar bebas dan tak punya koneksi politik langsung dengan partai pimpinan mantan presiden RI itu (siapanya juga bisa ditebak sendiri).

Tentu saya tidak mengharapkan kawan saya itu tertangkap aparat dan digebuki (meskipun mungkin dia pantas digebuki untuk alasan lainnya), tetapi saya mau mengatakan begitulah ia melakukan lockdown dalam bak sampah: khawatir dan takut tertangkap aparat dan dipukul dengan pentungan atau bahkan mungkin ditembak. Hal yang serupa dialami oleh murid-murid Guru dari Nazareth yang melakukan lockdown di tempat tinggal mereka karena insiden yang menimpa Guru mereka. Saya tidak mengatakan bahwa rasa khawatir atau takut mereka itu salah atau keliru. Apa yang dialami kawan saya dan murid-murid Guru dari Nazareth yang melakukan lockdown berangkat dari naluri, yang bisa juga membangun suatu kultur tertentu.

Saya ceritakan lagi adegan film The Legend of Bruce Lee. Mohon maklum, ini masa social distancing dan saya hidup di antara para pensiunan yang mau gimana lagi kalau tidak nonton film?🤣 Saya jadi operator pemutar film, dan minggu-minggu ini saya tayangkan film itu. Hari ini tiba adegan ketika Bruce Lee bertemu dengan profesor filsafat di Seattle (Prof. Kane?) yang melontarkan observasinya mengenai tendensi imigran Tionghoa di Amerika: punya rasa tak aman yang rumit dijelaskan dan menyimpan pengetahuan untuk dirinya sendiri. Guru filsafat ini mendorong Bruce Lee untuk menampilkan diri apa adanya justru supaya bisa membuka mata orang Amerika mengenai ilmu bela diri. Bruce Lee akhirnya mau memberi kelas tentang filsafat timur dan ia menghubungkannya dengan ilmu bela diri. Bruce Lee meniti jalannya untuk membuat kung fu berterima di seantero jagat.

Banyak kali orang menutup pintu hatinya karena takut kehilangan sesuatu, termasuk takut kehilangan nyawa. Ini berlaku untuk para rasul setelah kematian guru mereka, seakan-akan lupa apa yang diajarkan guru mereka sendiri belum lama ini: barangsiapa takut kehilangan nyawanya karena pemuliaan makhluk Allah, ia justru kehilangan hidupnya. Tentu ia bisa bertahan dari virus korona dan bahkan memperoleh pendapatan karena bisa memangkas anggaran bantuan sosial, tetapi persis di situlah orang kehilangan nyawanya karena takut: tak kebagian, sakit, mati, kehilangan pekerjaan, orang dan sebagainya. Undangan hari ini: berdamai dengan pengalaman kehilangan, kekurangan, kemiskinan, kesepian, dan seterusnya.

All is well, bahkan meskipun dunia ini tampak berantakan: ketika orang berdamai dengan kesulitan, tragedi, kekacauan, bukan dengan menciptakannya. Jadi, bukan berantakannya yang well, melainkan damainya, yang memungkinkan orang menata tanpa dikendalikan aneka macam ketakutan mengenai apa saja. Bruce Lee bukan satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Amin.


KAMIS DALAM OKTAF PASKA
16 April 2020

Kis 3,11-26
Luk 24,35-48

Posting 2019: Firehose of Truth
Posting 2018: Hantu Scooby-Doo

Posting 2017: Warga Baperian

Posting 2016: Takut Salam Damai
 
Posting 2015: Iman Infantil

Posting 2014: Ujung-Ujungnya Apa Nih?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s