Work from anywhere

Saya curiga jangan-jangan bangsa kita ini gemar berslogan secara berlebihan. Membuat hukum bukan untuk dijadikan pedoman bertindak, melainkan demi pantes-pantesnya negara hukum aja. Menggembar-gemborkan demokrasi bukan supaya hidup berbangsa ini ditata dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, melainkan demi pantes-pantesnya negara demokratis aja. Alhasil, hal-hal itu jadi candaan tetapi sebetulnya malah sesuai kenyataannya: aturan dibuat untuk dilanggar, demokrasi yang penting dari dan demi pemilu ajaTagar #dirumahsaja atau work from home, dengan demikian, tak jauh nasibnya dari dua hal itu.

Saya tidak anti WFH atau “di rumah saja”, tetapi barangkali semboyan itu memang disodorkan dengan logika seperti kalau orang menggantungkan cita-cita: setinggi-tingginya, supaya kalau jatuh pun masih tetap tinggi. Justru karena itu, imbauan WFH dan “di rumah saja” perlu ditangkap maksudnya sebagai manifestasi social distancing yang memanggil orang untuk sungguh memperhatikan prinsip first things first. Tentu tidak mudah menatanya untuk semua orang. Yang bagi saya penting, belum tentu bagi orang lainnya penting; yang bagi orang lain bernilai, belum tentu bagi saya bernilai.

Lain perkaranya jika imbauan tadi sudah masuk ranah hukum. Kriteria kepentingannya mesti tunduk pada aturan PSBB atau pun karantina wilayah bin lockdown. Apa yang sehari-hari dibuat seturut prioritas nilai mesti ditata ulang dalam batas aturan bersama itu. Social distancing menginterupsi kesehari-harian yang barangkali perlu ditinjau ulang kepentingannya. Akan tetapi, siapa kira bahwa social distancing dengan prinsip first things first ini adalah medium perjumpaan dengan Allah? 😁 Lagian kurang kerjaan amat, Rom, bahas social distancing pakai nyangkut-nyangkutin Allah segala!

Teks bacaan hari ini mengisahkan bagaimana murid-murid kembali ke hidup sehari-hari mereka sebagai nelayan pasca kematian guru mereka. Mereka menjalani hidup yang serba biasa sebagaimana mereka hidupi sebelum bertemu dengan Guru dari Nazareth. Pada momen hidup biasa itulah mereka diinterupsi oleh pribadi yang sudah mengatasi kematian. Rupanya, tempat ideal interupsi itu adalah justru hidup biasa, sehari-hari, normal, yang dijalani murid-murid. Kabar baiknya, mereka sadar bahwa mereka sedang diinterupsi dan dalam kelanjutan kisah memang mereka kembali menemukan jiwa sebagai murid yang ikut bangkit bersama guru mereka.

Social distancing bisa jadi medium interupsi, tetapi sebagian tak menggubrisnya karena kebiasaan, kecanduan, kerobotan, kebodohan, fanatisme, kemunafikan, dan apa-sapa saja yang membutakan orang dari panggilan transformatif. Maaf curcol: hidup saya ini solitaire dalam dua tahun terakhir, bisa menghabiskan waktu sehari 14 jam di tempat duduk, dan ketika menemukan ritme supaya tubuh tak terpenjara di kursi dan kamar sempit plus perpustakaan, korona datang, social distancing terpajang. Mati aku!
Orang perlu terus melihat kemungkinan interupsi hidupnya sehingga mengalami perjumpaan dengan kebangkitan: di mana pun ia berada, ia menemukan yang terutama dalam hidup dan mengerjakannya, juga ketika ia di rumah aja.

Pada hari-hari belakangan ini sebagian orang mengalami interupsi itu dan menemukan makna hidupnya, juga dengan pengorbanan nyawanya. Sebagian lagi mengalami interupsi tetapi tak kunjung menemukan apa yang penting dalam hidupnya. Siapa yang mana, God knows.

Tuhan, mohon rahmat kepekaan hati dan budi akan panggilan-Mu. Amin.


JUMAT DALAM OKTAF PASKA
17 April 2020

Kis 4,1-12
Yoh 21,1-14

Posting 2019: Guru Agama
Posting 2018: You are beloved

Posting 2017: Mana Janjinya

Posting 2016: Cinta nan Luntur

Posting 2015: Liturgi (Kreatif) Biang Perpecahan?
Posting 2014: Blusukan ala Kristus

1 reply

  1. Kayak game online jaman dulu: solitaire😁 tp kalau sehari 14 jam dipakai duduk terus, duh tepos lah dan gak sehat Mo🤭. Btw, Rm juga sudah ketemu makna dr interupsi ini? Sy beluuuum eeh 😔 krn pas barengan dg satu kejadian yg bisa blaas ke cancel gara2 intensitas Covid ini. Jd saat ini masih nunggu tanda lanjut krn ada kewajiban yg tetap melekat, but yeah life goes on gak bisa meratapi tp hrs optimis yg terbaik🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s