La vita è bella

Tadi malam kami menonton film La vita è bella dan perasaan saya tercabik-cabik membaca terjemahan dialognya. Ini film komedi-tragis garapan Roberto Benigni (beninyi bacanya, dia sendiri memerankan Guido) dan Vincenzo Cerami yang kekuatannya tidak semata terletak pada kekonyolan gerak, tetapi akhirnya hanya ditonton seperti orang menonton Charlie Chaplin. Padahal, dari awal sampai akhir dialog-dialognya kerap menunjukkan ironi dan kontradiksi yang bisa mengundang tawa.

Tapi saya sadar bahwa perasaan saya tercabik karena fokus saya pada “apa yang seharusnya” daripada “apa yang senyatanya”. Itu justru tak sesuai dengan pesan film La vita è bella. Judul kompletnya La vita è bella così (bacanya kosi) dan kalau diterjemahkan kira-kira “hidup itu indah begitu”. Orang perlu menerima hidup apa adanya sebagai hidup apa adanya. Adanya begitu, ya itu diterima. Perkara seharusnya tidak seperti itu, ya tinggal lakukan saja apa yang perlu dilakukan. Soalnya, orang sepantasnya terus melihat ulang kriteria “perlu”; mana yang tampaknya saja perlu, mana yang sungguh perlu.

Teks bacaan hari ini mengundang orang memahami Allah dalam konteks hidupnya sendiri, bukan menurut kata orang lain. Artinya: poinnya bukan siapakah Allah menurut agama, sosiologi, politik, teologi, tetangga, keluarga, pemuka agama, dan seterusnya, melainkan siapakah-Allah-bagiku sendiri.

Andai saja itu digumuli orang beragama komplet dengan paradigma La vita è bella così tadi…

Pada kenyataannya, sebagian (mungkin besar) orang beragama tinggal dalam ‘apa kata orang’. Cobalah periksa bagaimana orang-orang beragama memandang hidup mereka: acuannya tradisi, apa pun wujudnya (Kitab Suci, aturan agama, dokumen ajaran agama). Selain itu, ada pertentangan antara kelompok tua dan muda. Yang muda menganggap kelompok tua kolot, yang tua menganggap kelompok muda nakal dan tak patuh. Akan tetapi, silakan periksa apa tolok ukur yang mereka pakai: pastilah ‘apa kata orang’. Tak mengherankan, hidup orang beragama jadi superfisial. Ritual agama dijalankan dalam level ‘apa kata orang’, alih-alih sebagai jalan menggumuli ‘siapakah-Allah-bagiku’.

Mari lebih konkret lagi, tetapi ini acuannya La vita è bella. Orang bisa berpikir bahwa Guido membohongi anaknya karena ia mengatakan kepada Joshua bahwa kehidupan di kamp konsentrasi itu adalah permainan mengejar tank sungguhan. Akan tetapi, Benigni punya perspektif rohani yang cool. Dia sadar betul bahwa anak tak akan mengerti mengapa perang dunia terjadi, mengapa rasisme subur, mengapa orang bersenjata, dan seterusnya. Tak banyak gunanya dalam situasi itu menjejali anak dengan cara pandang “apa yang seharusnya”. Alih-alih mendekati hidup apa adanya itu dengan kerangka “apa yang seharusnya”, Benigni menawarkan cara pandang yang make sense: bermain.

Kematian, pasti. Tragedi, jelas. Kehilangan, tentu. Akan tetapi, cara pandang bermain itu membuat Joshua dan Guido bisa hidup bersama dengan suka dukanya sendiri-sendiri. Guido tahu benar apa rasanya lapar, tetapi dia tak perlu omong soal askese atau puasa. Ia menarik Joshua kembali fokus pada permainan yang sedang mereka jalani bersama. Ini bukan perkara bohong-jujur atau berbohong demi kebaikan, melainkan perkara terlibat dalam hidup Joshua sehingga kenyataan apa adanya itu jadi make sense. Ini kerohanian tingkat tinggi yang dalam film Benigni begitu sempurna.

Akan tetapi, dalam hidup biasa, orang beriman pun senantiasa diundang menjadi Guido: tahu apa kata orang tetapi punya keakraban dengan ‘roh’ yang ada di balik kenyataan hidup apa adanya ini dan mengakrabinya dalam suka duka bersama Joshua dan Dora. Tentu, Joshua dan Dora bisa diganti dengan nama lain. Keakraban dengan ‘roh’ tadi mengasumsikan orang punya relasi dengan Yang Transenden, yang memberikan hidup sebagai karunia La vita è bella, bukan utak-atik-otaknya sendiri. Petrus dan Paulus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini menjadi contoh bagaimana mereka bukan hanya tahu suka duka hidup Guru dari Nazareth, melainkan juga menghidupi suka duka itu bersamanya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu menjadi sahabat-Mu. Amin.


HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS
(Senin Biasa XIII A/2)
29 Juni 2020

Kis 12,1-11
2Tim 4,6-8.17-18
Mat 16, 13-19

Posting 2019: Iman Sekular?
Posting 2018: Tukar Label

Posting 2017: Met Ultah Pak Ahok

Posting 2016: Mari Berbuka
 
Posting 2015: Ada Baiknya Bertengkar

Posting 2014: What You Choose Is What You Get

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s