Hukum Sempurna

Saya belum pernah membolos sekolah selain saat saya sekolah di TK. Itu pun hanya separuh hari karena terjadinya setelah jam istirahat. Keasikan main bersama teman, njuk teman itu jebulnya sudah meninggalkan saya di tempat bermain tanpa saya tahu. Celingak-celinguk sendirian di bak pasir dan mendengar sayup-sayup suara guru di dalam kelas, saya pelan-pelan ngeloyor pergi, pulang. Malulah masuk kelas sendirian.🤭 Saya lupa apakah sesampai di rumah saya diinterogasi ortu saya. Yang pasti mereka di Jakarta, saya di Klaten.

Dua hari lalu diberitakan di media asing daring bagaimana membolos sekolah bisa bikin nyawa seorang guru sejarah melayang. Ceritanya sederhana. Seorang anak malas berangkat sekolah dan supaya tidak dimarahi ortunya, ia membuat cover-up story. Tuturnya, sang guru meminta semua murid beragama Islam keluar ruangan dan sementara mereka di luar, guru ini menunjukkan foto berbau penistaan agama. Anak ini protes kepada gurunya sehingga ia dilarang sekolah untuk beberapa hari.

Mendengar itu ayahnya naik pitam dan bikin video yang isinya memprotes sekolah dan polisi yang diskriminatif dan memelihara Islamophobia. Ndelalahnya, video itu kan masuk jalur internet; tertangkaplah oleh seorang teroris yang beberapa hari kemudian mendatangi guru sejarah itu dan menghabisi nyawanya. Belakangan diketahui bahwa anak yang malas sekolah itu punya inferiority complex yang membuatnya bikin cover-up story demi membanggakan ayahnya. Sulitlah mengatakan bahwa anak dan ayahnya tadi bermaksud membunuh guru sejarah itu. Akan tetapi, jelaslah tindakan mereka mengakibatkan kematian orang yang jadi korban hoaks.

Teks bacaan hari ini menegaskan pentingnya hukum yang dilaksanakan secara sempurna. Kesempurnaannya tidak terletak pada rumusan hukumnya sendiri, melainkan pada koneksinya dengan keselamatan martabat kemanusiaan. Maka, rasa keadilan terus menerus perlu diasah oleh pelaku-pelakunya. Adilkah berbohong, membuat cover-up story demi menyenangkan orang yang disayanginya? Adilkah menayangkan tuduhan atau penilaian tanpa akurasi data, tanpa tabayun?

Betul kata Guru dari Nazareth. Beliau tak perlu mengubah, mengganti, meniadakan Hukum Taurat. Apa gunanya? Lebih berguna menyempurnakan tafsirannya supaya orang bisa kembali pada rasa keadilan yang ditanamkan oleh Sang Pencipta. Dekalog alias Sepuluh Perintah Allah menjadi sempurna ketika orang mendapat tabayun tentang Allah yang selalu hendak menyelamatkan manusia berdosa; ketika rasa keadilannya tumbuh bersama keakrabannya dengan Tuhan.

Tuhan, mohon rahmat pencerahan hati dan budi yang berjalan seiring dengan keadilan-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA III
10 Maret 2021

Ul 4,1.5-9
Mat 5,17-19

Posting 2020: Spiritual Distancing
Posting 2019: Dead Scriptures
Posting 2018: Kebetulan Untung

Posting 2017: Agama Nganu

Posting 2016: Menerima Kado

Posting 2015: Love and Do Whatever You Want

Posting 2014: Do We Need School of Heart?