Koster

Tidak ada orang penuh cinta menunggu komando mengenai apa yang harus dikerjakannya. Cinta membuatnya tahu apa yang harus dikerjakannya. Itu sebabnya tak sedikit orang galau akibat cinta: karena cintanya masih bersyarat. Maunya mencinta, tetapi diam-diam ingin merengkuhnya untuk kepentingan diri sendiri, kelompok sendiri, partai sendiri, keluarga sendiri, dan seterusnya sendiri.

Bacaan setelah Minggu Palma memang mengontraskan dua pribadi. Satunya wanita, lainnya pria. Satunya royal duit, lainnya pengumpul duit. Satunya jarang ketemu gurunya, lainnya jauh lebih sering bersama gurunya. Tapi ya itu tadi, narasi hari ini jebulnya malah menunjukkan bahwa yang tampaknya dipenuhi cinta adalah wanita royal duit yang jarang jumpa dengan gurunya: ia tahu apa yang harus dilakukannya karena cintanya yang begitu penuh.

Akan tetapi, cerita itu lagi-lagi kan bukan laporan peristiwa sejarah. Itu adalah refleksi penulisnya mengenai bagaimana orang hidup beriman; dalam kamus kekristenan itu disebut juga dengan bagaimana menghidupi kemuridan; menjadi murid Kristus, dan seterusnya. Wanita-pria, royal duit pengumpul duit, itu bukan stereotype terhadap dua tokoh Maria dan Yudas, melainkan dua tendensi yang hidup dalam diri setiap orang.

Di gereja Katolik itu ada namanya koster, yang biasanya membantu pastornya untuk urusan ibadat. Dulu, mungkin sekarang masih ada, koster itu juga tinggal di kompleks gereja seperti pastor parokinya. Tentu saja, sebagaimana profesi lain, semakin berpengalaman, semakin koster ini tahu apa yang harus dikerjakannya. Semula dia masih ditatar, diberi komando, diberitahu harus ini harus itu, tetapi pelan-pelan ia akan tahu dengan sendirinya apa yang mesti dikerjakannya. 

Nah, pengetahuan mekanis itu tidak mengindikasikan bahwa koster ini punya cinta atau cintanya penuh. Itu kebiasaan saja. Cintanya akan teruji ketika ia mesti berhadapan dengan situasi yang menuntut pengambilan keputusan di luar garis komandonya: saat terpampang di hadapannya kekuasaan. Kekuasaan itu tak harus berwujud jabatan di atas koster, tetapi bisa juga status quonya sendiri yang berguna untuk koleksi aneka macam kepentingannya: surga, duit, relasi, dan sebagainya. Pada momen seperti itu, ia berada dalam tegangan: mesti mengikuti garis komando atau mengambil alih komando. Semua ada konsekuensinya, tetapi bisa jadi hari ini koster berkoar-koar dengan lantang untuk menolak relasi ini itu, lain hari dia menyangkal konsekuensi penolakan itu.

Nah, yang seperti itu tentu saja bukan cuma koster, bukan? Pastornya pun punya tantangan yang sama, wong ya sama-sama manusia. Akibatnya, ya gitu deh. Semakin beratlah tanggungan siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mewujudkan cinta tanpa syaratnya. Itu mengapa dulu Dietrich Bonhoeffer menelorkan istilah die teure Gnade alias the Costly Grace: butuh rahmat mahal, semahal banyaknya parfum Maria untuk mengurapi kaki Yesus. Semahal itulah cinta dan devosi menjadi murid Kristus alias hidup beriman, bagaimana pun agamanya. Rahmat itu mahal karena bahkan bisa merenggut bukan hanya reputasi, melainkan juga hidup atau nyawanya.

Paling gampang ya itu: menunggu garis komando, mengabdi status quo. Yang terinjak-injak tetap terinjak-injak, yang menginak-injak tak kunjung bijak.
Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk menerima dan menularkan cinta-Mu yang penuh
. Amin.


HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI
3 April 2023

Yes 42,1-7
Yoh 12,1-11

Posting 2020: Heart to Heart
Posting 2019: Awasi TPS

Posting 2018: Choosing Your Perfume

Posting 2017: Mulut Mu-anies

Posting 2016: Merekayasa Sejarah
 

Posting 2015: Iman Punya Preferensi
Posting 2014: Honoring The Wisdom